oleh

Dinkes Sidrap Minta Peresepan Obat Ranitidin Dihentikan

-HEADLINE, Sidrap-1.414 Orang Melihat

Katasulsel.com, Sidrap — Dinas Kesehatan (Dinkes) Sidrap meminta kalangan dokter dan apoteker yang bertugas di wilayahnya untuk menghentikan peresepan obat ranitidin kepada pasien

Kebijakan itu ditempuh pihak Dinkes Sidrap menyusul keputusan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) yang secara resmi menerbitkan surat perintah penarikan ranitidin

Oleh BPOM menyebutkan, obat yang biasa digunakan untuk mengobati penyakit lambung tersebut, sudah tak layak dikonsumsi dan harus segera ditarik lantaran diduga tercemar N-Nitrosodimethylamine (NDMA)

“Saat ini sudah tahap penyampaian ke teman-teman dokter dan apoteker agar tidak melakukan peresepan ranitidin lagi,” ujar Kepala Dinkes Sidrap, Andi Irwansyah, Rabu, 9 Oktober 2019

Dikatakan, disamping menyampaikan para dokter dan apoteker untuk menghentikan peresepan, Dinkes Sidrap, sebut Andi Irwansyah, kini sambil menginventarisasi obat itu untuk dilakukan penarikan dari sarana pelayanan.

Dia menerangkan bahwa yang melakukan penarikan adalah Perusahaan Besar Farmasi (PBF), di Sidrap khususnya sarana pelayanan kesehatan bukan produk dari Phapros (Yang ditarik sesuai rekomendasi BPOM adalah produk phapros atau Pharmaceutical Processing Industry)

Sebelumnya, atau pekan lalu, BPOM telah berkunjung ke Sidrap, BPOM dengan tegas meminta Dinkes Sidrap bertindak.

Studi global memutuskan bahwa nilai ambang batas cemaran NDMA yang diperbolehkan adalah 96 ng/hari. Namun apabila dikonsumsi di atas ambang batas secara terus-menerus dapat memicu penyakit kanker.

Dikutip dari akun Instagram resmi BPOM, Minggu (6/10/2019), pihak BPOM saat ini tengah melakukan pengambilan dan pengujian dari beberapa sampel produk ranitidin. Sebagian sampel menunjukkan adanya cemaran NDMA yang melebihi batas yang diperbolehkan.

NDMA sendiri merupakan turunan zat nitrosamin yang dapat terbentuk secara alami. Pihak BPOM juga menjelaskan bahwa pengujian dan kajian risiko ini akan tetap dilanjutkan pada seluruh produk yang mengandung ranitidin. Di Indonesia, raniditin telah beredar sejak tahun 1989 dalam bentuk tablet, sirup, dan injeksi.

Temuan cemaran NDMA oleh FDA

Penarikan ranitidin oleh BPOM dipicu oleh laporan yang diterbitkan oleh US Food and Drug Administration (US FDA) dan European Medicine Agency (EMA), Jumat (13/9/2019).

Laporan tersebut menyatakan adanya temuan cemaran NDMA dalam jumlah yang relatif kecil pada produk yang mengandung bahan aktif raniditin.

Para industri farmasi juga diwajibkan untuk melakukan uji mandiri terhadap cemaran NDMA. Mereka juga diharuskan untuk menarik secara sukarela apabila kandungan NDMA dalam raniditin telah melebihi ambang batas yang diperbolehkan.

Masyarakat juga diimbau untuk menghubungi dokter atau apoteker terkait apabila sedang menjalani pengobatan yang menggunakan (ris/man)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *