Home / INTERNASIONAL

Sabtu, 11 Januari 2020 - 16:51 WIB

[ Opini ] Mengulas Balik Mafia Ekonomi, MAIN dan Iran

Berita ini 31 kali dibaca

Oleh : Ibnu Assidiq (Mahasiswa Universitas Ahmad Dahlan, Yogyakarta)
Editor : Poufy Annisa Silu

Katasulsel.com — Kemarin pada Kamis (2/1/), dunia Islam digemparkan oleh berita tewasnya Seorang Jendral Militer Iran Qasem Soelimani, dalam serang Amerika Serikat di bandara Baghdad. Berita ini sangat memukul masyarakat Iran Maupun masyarakat Muslim, baik Timur Tengah ataupun seluruh dunia.

Kematian Jendral Qasem Soelimani membuat Iran tidak akan tinggal diam dan meluncurkan pembalasan rudal ke pangkalan militer AS di Irak pada (8/1/). Dua kejadian di atas dapat menimbulkan perang besar antara Iran dan AS. Perlu kita ketahui adalah motif poltik ekonomi AS terhadap Iran.

Balik pada sejarah. Selama tahun 1960-an, sekelompok negara membentuk Organization of the Petroleum Exporting Countries (OPEC) kartelnya bangsa-bangsa minyak. Iran merupakan faktor penting dalam produsen minyak, terutama sebagai respons terhadap kekuasaan perusahaan-perusahaan penyulingan besar.

Oleh karena itu AS mendekati Iran melalui badan konsultan yaitu Chas.T.Main, Inc (MAIN) yang ditugaskan kepada salah satu konsultan ekonomi atau Economic Hit Man (EHM) yaitu John Perkins.

Presiden yang melibatkan EHM dimulai pada tahun 1950-an dimana Mohammad Mossadegh terpilih secara demokratis di Iran. Mossadegh menerapkan gagasan bahwa perusahaan minyak asing harus membayar kepada rakyat Iran atas minyak yang diambilnya. Hal ini berupaya untuk memberikan manfaat terhadap rakyat iran atas minyak yang diambil oleh perusahaan minyak asing.

Statment Mossadegh tidak bisa diterima begitu saja oleh AS, dan mencoba mengirim Agen CIA (Kermint Roosevelt) untuk menggulingkan Mossadegh. Roosevelt berhasil menggulingkan Mossadegh dan mendatangkan Shah Iran untuk menggantikan posisi Mossadegh. Sang Shah berutang posisi dan nyawa terhadap AS atas campur tangan penggulingan.

Gerakan bawah tanah Islam Fundamentalis muncul untuk menggulingkan kediktatoran Sang Shah dibawah pimpinan Ayyatollah Ruhollah Khomeini. Khomeini aktif mengkrtik sang penguasa dan akhirnya dibuang ke Turki.
Pada tahun 1978-1979 terdengarlah berita pengeboman dan kerusuhan di Iran. Ayatollah dan para ulama telah memulai serangan yang diwarnai dengan kekerasan. Sang shah kabur ke Mesir pada bulan Januari 1979.

Massa Khomeini merebut Kedubes AS di Teheran dan menyandera 52 warga Amerika selama 444 hari. Presiden Carter berupaya menegosiasikan pelepasan para sandera itu tetapi gagal. Dan akhirnya perusahaan konsultasi MAIN AS kehilangan jutaan dolar atas jatuhnya sang shah.

Singkat saya, Iran sudah mengilustrasikan bahwa AS adalah sebuah bangsa yang berupaya keras menyangkal kebenarnnya tentang perannya di dunia.
Tentang kekurangan yang perlu disediakan lagi, perlu ada penjajahan lagi sehingga terpenuhi kebutuhan politik AS. Maka dari itu, upaya Iran dalam memerangi AS pada penggulingan sang shah adalah bentuk upaya untuk memunculkan sifat asli AS.

Sumber:
– Buku “Confessions of an Economic Hit Man” John Perkins

Bagikan Berita Ini :

Baca Berita Lainnya :

HEADLINE

AirAsia Kembali Terbangi Indonesia – Malaysia

HEADLINE

Miris, Gadis Cantik Ini Jual Keperawanan Demi Kesembuhan Kakak

HEADLINE

Merah Putih Berkibar di Level Tertinggi Olahraga Panjat Tebing

INTERNASIONAL

Gubernur Jalin Kerjasama dalam Bidang Riset dan Kajian Sumber Daya Kelautan Perikanan Sulsel

HEADLINE

Pecinta Balap Kembali Berduka, Davey Lambert Meninggal

HEADLINE

Pasukan Taliban Menuju Myanmar : Siap di Depan Muslim Rohingya Yang Tertindas

INTERNASIONAL

Nurdin Abdullah Menerima Delegasi Australia, Ini Agendanya

INTERNASIONAL

Gubernur NA Diundang Pemerintah Australia