Home / Sidrap

Senin, 23 Maret 2020 - 09:13 WIB

(OPINI) Its Time !!! Mulai Dari Sekarang, Menuju Indonesia Bebas TBC

Berita ini 19 kali dibaca

Its Time !!! Mulai Dari Sekarang, Menuju Indonesia Bebas TBC

Ditulis Oleh : Ishak Kenre, SKM, M,Kes  Kabid P2P Dinkes Dalduk & KB Sidrap

PEMERINTAH dan Bangsa mendambakan Indonesia pada tahun 2030 “Bebas Dari Penyakit Tuberkulosis (TBC)”, melalui Pencanangan Gerakan bersama menuju eliminasi TBC 2030, oleh Presiden Joko Widodo, diharapkan semua pihak bergerak bersama untuk melaksanakan upaya eliminasi TBC, mewujudkan lingkungan dan negara yang bebas TBC bagi seluruh anak-anak Indonesia. Diharapkan di tahun 2030 tidak ada lagi anak Indonesia yang sakit dan tertular TBC. Untuk mencapai mimpi tersebut, segala upaya dilakukan dan bukan hanya tanggung jawab sektor kesehatan tetapi tanggung jawab setiap individu, keluarga dan segenap lapisan masyarakat, pemangku kepentingan bergerak bersama untuk mewujudkan generasi sehat dan unggul yang terbebas dari TBC sejak dini.
TBC di Indonesia merupakan penyebab kematian nomor satu akibat penyakit infeksi, angka kesakitan dan kematian Tuberkulosis menurut laporan WHO, Indonesia berada dalam daftar 30 negara dengan beban Tuberkulosis tertinggi di dunia dan menempati peringkat tertinggi ketiga di dunia terkait angka kejadian Tuberkulosis. Insidensi tuberkulosis di Indonesia pada tahun 2018 adalah 316 per 100.000 penduduk. Sementara itu sekitar 845.000 penduduk menderita tuberkulosis pada tahun 2018.
Beban penyakit tuberkulosis yang tertinggi diperkirakan berada pada kelompok usia produktif usia 25-34 tahun, dengan prevalensi 753 per 100.000 penduduk, perkiraan angka kematian tuberkulosis di Indonesia adalah 35 per 100.000 penduduk artinya sekitar 93.000 orang meninggal karena Tuberkulosis pada tahun 2018. Kasus TB anak di dunia setiap tahunnya sebanyak 1juta jiwa dari keseluruhan kasus TB sebanyak 10 juta jiwa pada tahun 2017, 52% diantaranya adalah anak <5 tahun dengan tingkat kematian 80%. Sekitar 96% di tahun yang sama kematian anak < 5 tahun karena tidak mengakses pengobatan pencegahan tuberkulosis. Di Indonesia Sekitar 8,2% kejadian tuberkulosis terjadi pada anak di bawah usia 15 tahun atau sekitar 70.000 kasus per tahun .

“Tema” Bukan sekedar slogan, Implementasi peran semua sektor mencegah TBC
Saatnya anak Indonesia Bebas TBC untuk Indonesia Unggul, menjadi tema Peringatan Hari Tuberkulosis Tahun 2020, Hari Tuberkulosis Sedunia (HTBS) yang diperingati pada 24 Maret setiap tahun bukan sekedar seremonial belaka tapi sarat makna dan tujuan diantaranya membangun kesadaran, pemahaman masyarakat, bahwa TBC sampai saat ini masih menjadi masalah kesehatan masyarakat bagi individu, keluarga dan masyarakat, juga bertujuan meningkatkan peran serta masyarakat membantu penemuan dini tersangka/suspek TB obati sampai sembuh, membawa diri ke Fasyankes bila mengalami gejala TB, anggaran berbasis promotif dan preventif oleh pemangku kebijakan (Legislatif/Ekeskutif), peran edukasi oleh institusi pendidikan semua tingkatan (PUAD, TK,SD,SMP, SMA dan PT), organisasi profesi, serta multistakeholder lainnya dalam mendukung program pengendalian TBC serta menempatkan TBC sebagai isu utama di semua sektor.

Menunda akan memperlambat tercapainya mimpi, saatnya sekarang bagi semua pihak bergerak bersama untuk mencapai eliminasi TBC 2030, upaya preventif (pencegahan) dan promotif (peningkatan) terus dioptimalkan melalui edukasi pencegahan TBC, penemuan kasus sedini mungkin, penyebarluasan informasi TBC dan kemudahan akses informasi kepada masyarakat untuk meningkatkan pengetahuan dan kepedulian terkait dengan pencegahan penularan TBC yang dimulai dari diri sendiri dan keluarga.

Pelihara Kesehatan Anak, Edukasi & Skrining Kelompok Rentan TBC
SDM yang unggul dan sehat adalah kunci kemajuan pembangunan Bangsa. Anak memiliki tingkat kesehatan, kecerdasan, dan produktifitas kerja yang tinggi. Untuk mencapainya dimulai sejak dini perhatian dimulai masa konsepsi, bayi, balita. Setiap orang tua mendambakan anak yang sehat, cerdas dan berkarakter sehingga perhatian mulai dari pertumbuhan fisik, pemenuhan gizi, terhindari dari segala penyakit sehingga dapat mewujudkan generasi Indonesia yang unggul. Generasi Unggul bukanlah hal mudah dibutuhkan peran keluarga, dukungan sosial, sistem pendidikan yang baik dan bermutu, dan pemilihan gizi yang tepat, dan suasana rumah lingkungan yang bersih, aman, nyaman dan sehat.
Bagi kita, anak adalah investasi masa depan bangsa, haruslah dijaga untuk tetap sehat tanpa jarang sakit-sakitan, tidak menderita penyakit menular termasuk tuberkulosis, bagi anak Pemberantasan TBC menjadi prioritas sebagaimana HTBS “Saatnya Anak Indonesia Bebas TBC, untuk Indonesia Unggul” anak menjadi sasaran sentral melalui aksi: Temukan Tuberkulosis Obati Sampai Sembuh (TOSS TBC).
Disamping anak berusia kurang dari usia lima tahun, orang yang kontak dengan pasien TB, khususnya multi-drug resistant TB (MDR TB) atau yang dikenal dengan TB kebal obat. Kelompok lainnya adalah orang yang menderita atau diduga menderita penyakit yang menurunkan daya tahan tubuh, khususnya infeksi HIV, juga kelompok yang perlu mendapatkan perhatian melalui edukasi, skrining diantaranya tenaga kerja Indonesia, penghuni lapas, anak- anak santri di pondok pesantren, anak –anak sekolah, pekerja rumah tangga dan kantoran. Melalui edukasi dan skrining kita berharap dapat meningkatkan cakupan, penemuan TB secara aktif dan masif serta terstruktur, sehingga kita mendapatkan kesempatan untuk melakukan pengobatan secara dini dan memastikan untuk memutus rantai penularan TBC.

TOSS TB Gerakan Ampuh, dan Germas Gerakan Pencegahan Jitu
Melalui Gerakan Temukan Tuberkulosis Obati Sampai Sembuh (TOSS TB) di masyarakat semua pasien dapat ditemukan dan diobati sampai sembuh sehingga mereka dapat hidup layak, bekerja dengan baik dan produktif, serta tidak menjadi sumber penularan TB di masyarakat. Untuk memperkuat Gerakan TOSS TB serta mewujudkan mimpi Indonesia Bebas TB 2030 kita terus galakkan Gerakan Masyarakat Hidup Sehat atau GERMAS dengan pendekatan keluarga melalui 1) Peningkatan aktivitas fisik, olahraga teratur 2) Peningkatan perilaku hidup bersih dan sehat, enyahkan rokok dan penerapan etika batuk 3) Penyediaan pangan sehat dan percepatan perbaikan gizi, 4) Peningkatan pencegahan dan deteksi dini penyakit, 5) Peningkatan kualitas lingkungan.
Gerakan masyarakat hidup sehat, adalah pilihan cerdas untuk mencegah dan memutuskan mata rantai berbagai macam penyakit yang pada akhirnya mewujudkan derajat kesehatan masyarakat yang optimal, di mulai dari sendiri dan keluarga. Teruskan, jangan berhenti bagi setiap individu, Keluarga dan Masyarakat berperilaku Hidup Bersih Sehat, menjaga Lingkungan yang bersih, sehat, aman dan nyaman sampai kita bisa melambaikan tangan dan berucap Selamat Tinggal Penyakit Tuberkulosis, Sehat dan Kuat Negeriku.

Bagikan Berita Ini :

Baca Berita Lainnya :

HEADLINE

Jalin Silaturahim, Kapolres Temui Pemangku Adat Tolotang di Sidrap

Sidrap

Persiapkan Pengukuhan, KKS Sidrap Rapat Persiapan

Sidrap

Ini Jatah Sertifikat Tanah Sidrap Tahun 2019

Sidrap

Dihadiri Ratusan Warga Tellu Limpoe, Wakil Ketua DPRD Sulsel Reses dan Bukber

Sidrap

Asuransi Kesehatan 100 Persen di Sidrap, RMS Raih UHC Award dari Presiden

HEADLINE

Lima Hari Sekolah Berlaku di Sidrap, SD Sampai Kelas Tiga Uji Coba

HEADLINE

Berkat Pemkab dan Kodim Sidrap, Rizal Korban Angin Kencang Miliki Rumah Baru 

Sidrap

Segelas Kopi, Perekat Hubungan Kapolres Sidrap dan Awak Media