Home / Makassar

Selasa, 12 Mei 2020 - 10:27 WIB

Opini : Prinsip Sinergisme Pendidikan Untuk Menciptakan Generasi Unggul

Berita ini 56 kali dibaca

Syahrullah Asyari
Dosen Sejarah dan Filsafat Matematika, Jurusan Matematika FMIPA UNM
Alumni Ma’had al Birr Makassar

Pada 2 Mei lalu, kembali diperingati Hari Pendidikan Nasional. Pada saat yang sama, kita berada di bulan suci Ramadhan yang juga merupakan bulan pendidikan. Nuansa pendidikan mestinya begitu kental saat ini, meskipun kita berada di tengah pandemi Covid-19. Apalagi Ramadhan kali ini adalah Ramadhan yang spesial bagi kita semua. Betapa tidak, Allah Ta’ala memberikan keringanan (rukhshah) bagi hamba-hamba Nya untuk tetap beribadah di rumah saja dan tidak memakmurkan masjid-masjid Nya selama masa pandemi, demi maslahat yang lebih besar bagi umat dan bangsa di dunia.

Nuansa pendidikan di rumah di tengah kondisi sepi masjid saat ini pun mendorong saya untuk memandang jauh ke situasi masjid di abad pertengahan lalu. Saya mendapati bahwa masjid di masa itu adalah tempat pendidikan strategis yang telah melahirkan ilmuwan besar umat Islam. Namun bukan berarti bahwa proses pendidikan sepenuhnya diserahkan ke masjid. Salah satu ilmuwan besar umat Islam yang dimaksud pada abad pertengahan itu adalah Syaikh Muhammad bin Musa al Khawarizmi rahimahullah (780-850 M). Ia lebih dikenal dengan sebutan al Khawarizmi atau Abu Abdullah atau Abu Ja’far.

Pesatnya perkembangan sains komputer dan teknologi dengan fasilitas laptop, notebook, smartphone, handphone, dan semacamnya yang ada di tangan kita di abad modern ini tidak lantas membuat kita lupa pada al Khawarizmi. Menurut Marciszewski dalam buku, “Dictionary of Logic as Applied in the Study of Language” yang diterbitkan oleh Springer, kata “algorithm” atau “algoritma” sebenarnya adalah gabungan dari kata “algorism” (seni berhitung dengan menggunakan angka Arab) dan “arithmos” (bilangan). Kata “algorism” telah digunakan di abad pertengahan untuk menunjuk pada seni berhitung dengan menggunakan angka Arab. Kata “algorism” sendiri diambil dari nama “al Khawarizm”, karena dialah yang telah berjasa mendeskripsikan kepada kita cara berhitung dengan menggunakan empat operasi aritmetika (kali, tambah, bagi, dan kurang) dengan sistem desimal yang kita kenal.

Menurut Marciszewski, kata “algoritma” telah mengalami perluasan makna dari yang dulunya hanya dipahami sebagai seni berhitung dengan menggunakan angka Arab menjadi seperangkat aturan yang menspesifikasikan urutan tindakan yang akan diambil untuk memecahkan suatu masalah. Tiap aturan yang berlaku dalam suatu algoritma itu harus didefinisikan dengan tepat dan jelas agar dapat dipahami secara lengkap oleh manusia atau mesin yang akan menjalankan algoritma itu. Di sini saya tidak akan menguraikan lebih lanjut tentang algoritma. Intinya, saya ingin mengatakan bahwa pengembangan sains dan teknologi di abad ini dapat dilakukan, karena kontribusi besar al Khawarizmi sekitar dua belas abad silam.

Kontribusi utama al Khawarizmi dalam bidang keilmuan, secara cukup rinci, dapat dilihat oleh pembaca dalam buku, “Asyhuru al ‘Ulamaa’i fiy at Taariykh: ‘Abqariyyu ‘Ilmi ar Riyaadhiyyaat (al Khawaarizmiy)” yang ditulis oleh Athif Muhammad yang diterbitkan oleh Daaru ath Thaa’if, Mesir. Secara singkat, kontribusi utama beliau rahimahullah adalah seperti yang disebutkan oleh J. L. Berggren dalam bukunya, “Episodes of Mathematics in the Medieval Islam” yang diterbitkan oleh Springer, “Al-Khwārizmī’s principal contributions to the sciences lay in the four areas of arithmetic, algebra, geography and astronomy”. Artinya, kontribusi utama al Khawarizmi dalam bidang keilmuan terletak pada empat bidang, yaitu aritmetika, aljabar, geografi, dan astronomi”. Namun demikian, ia lebih dikenal pada bidang aljabar dibandingkan tiga bidang lainnya hingga Barat bahkan menggelarinya sebagai “the father of algebra” atau “bapak aljabar”.

Orang biasanya hanya kagum pada al Khawarizmi dengan semua kontribusi keilmuannya itu. Tetapi, orang jarang menggali faktor-faktor pendorong yang menyebabkan al Khawarizmi menjadi orang hebat, generasi unggul seperti yang kita kenal tersebut. Sebagai pengajar Sejarah dan Filsafat Matematika yang berlatar bidang kajian Pendidikan Matematika, saya mencoba menggali nilai pendidikan dalam buku, “Asyhuru al ‘Ulamaa’i fiy at Taariykh: ‘Abqariyyu ‘Ilmi ar Riyaadhiyyaat (al Khawaarizmiy)” yang ditulis oleh Athif Muhammad. Akhirnya, saya menemukan bahwa al Khawarizmi ditempa oleh pendidikan yang berprinsip sinergisme, di mana titik tolak sinergisme dalam pendidikannya adalah keluarga.

Al Khawarizmi dan keluarganya adalah imigran dari daerah Urgench, Kota Khawarizm, Turkistan ke daerah Quthrubul, dekat Kota Baghdad, Irak. Al Khawarizmi lahir dari keluarga petani, peternak, dan pekerja keras muslim yang shalih dan cinta ilmu. Al Khawarizmi tumbuh dengan menggunakan bahasa keluarganya. Keluarganya bertutur dengan dua bahasa, sebagaimana bahasa penduduk Khawarizm, yaitu bahasa Turki dan Persia. Ibunyalah yang berkontribusi besar menjadi madrasah pertama yang mengajarkan kedua bahasa itu kepadanya di rumah. Selain itu, orangtuanya yang cinta ilmu juga membawanya belajar pada ulama di Masjid Quthrubul.

Di Masjid Quthrubul inilah, fondasi keilmuan al Khawarizmi dibangun. Di awal masa kanak-kanaknya ia terlebih dahulu belajar prinsip-prinsip membaca (qira’ah) dan menulis (kitabah) bahasa Arab. Mengapa terlebih dahulu belajar bahasa Arab? Dalam buku, “Silsilatu Ta’liymi al Lughati al ‘Arabiyyah li al Mustawa ar Rabi’” materi Sastra Arab (al Adab) pada Masa Dinasti ‘Abbasiyyah, yang diterbitkan oleh Universitas Islam Imam Muhammad bin Su’ud, Arab Saudi, disebutkan bahwa selain karena bahasa Arab memiliki sifat ilmu etimologi yang unggul dibandingkan bahasa lainnya, yang terpenting adalah karena bahasa Arab adalah bahasa al Qur’an. Karena bahasa Arab itulah, sehingga al Khawarizmi kemudian tumbuh dengan kecintaan pada al Qur’an dan as Sunnah. Selain itu, di masjid ini juga, al Khawarizmi belajar prinsip-prinsip berhitung (hisab) dan prinsip-prinsip ilmu bermanfaat lainnya. Kita yang hidup di abad ini tentu merindukan situasi masjid bernuansa keilmuan seperti pada abad pertengahan itu.

Selain itu, Athif Muhammad dalam bukunya menyebutkan tentang masa kanak-kanak dan remaja al Khawarizmi sebelum usia dua puluh tahun. Al Khawarizmi di masa itu berbeda dengan anak-anak sebayanya pada umumnya dalam hal kegemaran dan kesibukan. Di masa itu, selain belajar di masjid, al Khawarizmi juga gemar berkuda. Berkuda adalah salah satu olahraga sunnah (Lihat hadits shahih riwayat an Nasa’i). Selain itu, al Khawarizmi di masa kanak-kanaknya menyibukkan diri berbakti pada orangtuanya dengan membantu meringankan beban orangtuanya bertani. Ini adalah suatu kristalisasi dari pengamalan QS. al Isra: 23. Kesibukan teruniknya dibanding sebayanya adalah memikirkan tentang alam dan penciptaannya. Ini adalah manifestasi dari firman Allah dalam kitab Nya (Lihat QS. al Baqarah: 164 dan QS. ali Imran: 190).

Ketika usia al Khawarizmi telah mencapai dua puluh tahun, kecenderungannya berubah. Ada perasaan kuat yang begitu bergejolak dalam jiwanya dengan kesenangannya menentukan jarak antarobyek yang ia lihat. Ia kemudian mengadukan hal-hal geometris yang menyibukkan pikirannya itu kepada keluarganya yang telah membuatnya sangat unik dibandingkan dengan anak muda seusianya. Ia terus memikirkan bentuk-bentuk obyek, hubungan antara berbagai bentuk obyek dan himpunan obyek, dan garis khayal yang tergambar di antara obyek-obyek. Singkatnya, segala obyek yang ia lihat mengalami transformasi ke bentuk lingkaran, persegi, segitiga, atau persegi panjang.

Athif Muhammad dalam bukunya juga menceritakan bahwa al Khawarizmi juga mengadukan gejolak jiwanya itu kepada ulama sekaligus Imam Masjid Quthrubul yang selama ini ia tempati belajar. Mendengarkan aduan al Khawarizmi, gurunya tersebut memprediksi bahwa kelak ia akan menjadi ilmuwan hebat dalam bidang ilmu matematika. Gurunya pun menasihati al Khawarizmi agar meninggalkan bekerja di ladang menuju Baghdad untuk menuntut ilmu di Baitul Hikmah. Gurunya berjanji kepadanya untuk meyakinkan orangtuanya akan maksud tersebut. Orangtua al Khawarizmi yang cinta ilmu paham maksud guru al Khawarizmi, sehingga mereka dengan senang hati menyetujui dan merestui keberangkatan al Khawarizmi menuntut ilmu matematika ke Baitul Hikmah. Akhirnya, al Khawarizmi berangkat ke Baghdad.

Al Khawarizmi pun masuk dan menjalani proses pembelajaran di Baitul Hikmah. Ia belajar dengan tekun dan penuh kesungguhan di bawah bimbingan tiga orang ilmuwan, pakar matematika dunia saat itu. Selama interaksi dengan al Khawarizmi, ketiga gurunya itu melihat keunggulan, keahlian, dan keistimewaan pada diri al Khawarizmi yang tiada bandingannya dengan penuntut ilmu lain di Baitul Hikmah. Di bawah bimbingan guru-gurunya selama masa studinya itu, ia mampu menguasai dengan baik bahasa Yunani, bahasa India, dan semua ilmu matematika klasik dan yang tengah berkembang di masanya. Ia menghabiskan waktu dua tahun saja untuk menyelesaikan studinya hingga mendapatkan ijazah di Baitul Hikmah.

Beberapa poin penting sebagai penegasan dari paparan di atas adalah sebagai berikut.

Pertama, keluarga dan ulama serta masjid sebagai lingkungan pergaulan sangat berpengaruh pada pembentukan kepribadian al Khawarizmi. Keshalihan dan kecintaan keluarga al Khawarizmi pada ilmu telah membentuknya menjadi pribadi yang shalih nan unik yang tidak menyibukkan dirinya, kecuali pada perkara yang bermanfaat. Pembentukan pribadi seperti itu adalah karena didukung oleh ulama di masjid sebagai lingkungan pergaulan terbaik. Al Khawarizmi pun tumbuh di bawah bimbingan ulama menjadi pribadi yang mencintai al Qur’an, as Sunnah, dan memiliki fondasi keilmuan yang kokoh hingga al Qur’an dan as Sunnah memberi warna dalam karya-karyanya kemudian, baik dalam bidang aritmetika, aljabar, geografi, maupun astronomi.

Kedua, ulama adalah pengarah, penuntun, dan pemberi rekomendasi kepada al Khawarizmi untuk mengembangkan bakatnya pada orang yang tepat dan di tempat yang tepat, kemudian didukung oleh orangtuanya. Ini adalah fase yang sangat menentukan dalam pengembangan bakat matematika al Khawarizmi. Tentu saja, petunjuk dan rekomendasi ulama tersebut tidak akan ada apa-apanya, tanpa sambutan yang baik dan dukungan penuh dari orangtua al Khawarizmi sendiri. Dari sini, saya bisa mengatakan bahwa petunjuk ulama dan do’a restu orangtua adalah kunci utama yang membuka pintu keberhasilan al Khawarizmi dalam menempuh pendidikannya.

Ketiga, sekolah sebagai tempat belajar dengan sumber belajar terbaik. Al Khawarizmi belajar di Baitul Hikmah, Pusat Keilmuan Dunia yang ada di Baghdad saat itu. Ia belajar di tempat yang dicita-citakan oleh para penuntut ilmu di berbagai penjuru dunia. Di sini, ia dibimbing oleh ilmuwan dan pakar matematika yang tidak diragukan lagi kualitasnya. Selain itu, proses pembelajarannya didukung oleh keberadaan perpustakaan Daarul Hikmah dengan koleksi buku yang sangat memadai. Ini adalah sarana yang sangat penting bagi al Khawarizmi untuk membuka jendela dunia.

Alhasil, Allah Ta’ala menakdirkan al Khawarizmi menjadi generasi unggul, ilmuwan Rabbani dengan sebab sinergisme yang baik antara pendidikan di rumah, masjid, dan sekolahnya. Setiap kita mungkin saja memikirkan sebab lain yang mendorong munculnya al Khawarizmi sebagai bagian dari generasi unggul. Tetapi, tiga poin di atas bagi saya adalah pilar pokok penentu keberhasilan al Khawarizmi. Oleh karena itu, mari kita membangun dan menjaga sinergisme dalam penyelenggaraan pendidikan untuk terciptanya generasi unggul.

Editor : Poufyannisa

Bagikan Berita Ini :

Baca Berita Lainnya :

Makassar

Bhabinkamtibmas Polsek Mamajang Makassar di Beri Se Ekor Ayam Betina Oleh Warga, Ini Maknanya

Makassar

Tim Resmob Polsek Makassar Ungkap Pelaku Pencurian Modus Door To Door

Makassar

Walau Hujan, Apel Kesiapan Pengamanan Tabligh Akbar di Kecamatan Bontoala Makassar Tetap Terlaksana

Makassar

Bentuk Kepedulian Polsek Tamalate Polrestabes Makassar Memberikan Bantuan Sembako ke Panti Asuhan

Makassar

Terkait Jual Beli Lahan Yang Dilakukan Dr. Suci Aprianti, Ini Penjelasan Tim Kuasa Hukumnya

Makassar

Pastikan Takjil di Makassar Aman, Makanan Lokal Jadi Sasaran Sidak BPOM

Makassar

Kapolrestabes Makassar Tanam Pohon di Halaman Mapolsek Panakkukang

Makassar

Tekan Angka Kriminalitas, Resmob Panakkukang Makassar Rutin Patroli Malam