Home / Berita

Jumat, 11 September 2020 - 13:50 WIB

Opini. Polemik Pendidikan Dasar di Tengah Pandemi Covid-19

Berita ini 140 kali dibaca

Zulkifli, S.IP., M.Si
Dosen Antropologi Fakultas Ilmu Budaya Unkhair Ternate

ANGIN segar menerpa dunia Pendidikan di era pandemi Covid-19. Betapa menggembirakannya karena kabarnya Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim mendapatkan dukungan anggaran pulsa untuk menunjang proses Pendidikan selama empat bulan kedepan. Tunjangan pulsa diberikan kepada siswa, guru, hingga mahasiswa untuk mendukung pembelajaran jarak jauh (PJJ) ini akan sangat membantu terselenggaranya proses belajar mengajar terutama bagi siswa ataupun mahasiswa kurang mampu.

Berdasarkan informasi dari kumparanNEWS edisi 27 agustus 2020, 11:14 WIB, dukungan untuk anggaran pulsa untuk peserta didik kita di masa PJJ ini,” kata Nadiem di ruang rapat Komisi IX, Gedung DPR, Senayan, Jakarta Pusat, Kamis (27/8).

Penetapan status darurat bencana akibat Covid-19 oleh Kepala Bidang Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) sejak 29 Februari 2020 ikut berdampak pada proses Pendidikan formal bahkan juga di Pendidikan non formal. Proses pembelajaran yang awalnya diluar jaringan (Luring) yang akrab dengan istilah tatap muka mendadak berubah menjadi pembelajaran dalam jaringan (daring). Kurangnya kesiapan guru-guru/tenaga pengajar terhadap kondisi ini mengharuskan mereka untuk beradaftasi dengan kondisi, sementara disisi lain, Pendidikan harus tetap berjalan meskipun dengan berbagai macam keterbatasan.

Dalam beberapa kesempatan, penulis menemukan begitu banyak keluhan baik dari tenaga pendidik khususnya dari guru-guru terlebih dari orang tua siswa akibat meningkatnya beban biaya operasional Pendidikan yang dirasa mencekik di masa pandemi Covid-19 ini. Disamping memenuhi keuangan untuk biaya komsumsi keluarga sehari-hari, karena demi Pendidikan anak-anaknya, mereka harus berfikir untuk mencari tambahan penghasilan demi pulsa data anak-anak mereka. Bahkan tak sedikit dari mereka dipaksa oleh anak-anak mereka yang masih dalam tingkatan Sekolah Dasar (SD) agar dibelikan Handphone bertipe android lengkap dengan paket internetnya untuk menunjang pembelajarannya di masa pandemi ini. Hal tersebut memaksa orang tua untuk mencari akal bagaimana menambah penghasilan ditengah keterbatasan interaksi sosialnya terutama mereka yang berprofesi di sektor informal yang kebanyakan menuntut interaksi langsung dengan pelanggan atau pengguna jasa mereka.

Salah satu Amanah UUD 1945 adalah mencerdaskan kehidupan bangsa, yang kemudian terjabarkan lebih lanjut melalui Undang-undang Nomor 2 Tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Bab II. Pasal 4 menyatakan bahwa Pendidikan nasional bertujuan mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya, yaitu manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi pekerti luhur, memiliki pengetahuan dan keterampilan, kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang mantap dan mandiri serta rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan.

Dalam kondisi apapun, termasuk ditengah pandemi Covid-19 seperti saat ini, sektor Pendidikan harus tetap berjalan demi meningkatkan kompetensi dan pengembangan sumber daya manusia. Masyarakat berkewajiban memberikan dukungan sumber daya dalam penyelenggaraan pendidikan (UU Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sisdiknas Pasal 9). Akan tetapi, kurangnya kesiapan menghadapi fenomena pandemi Covid-19 dikalangan masyarakat memunculkan ekspresi kepanikan tersendiri. Guru-guru Taman Pendidikan Al-Quran (TPA) yang biasanya bertatap muka secara langsung dengan murid-murid pengajiannya terpaksa tertunda untuk sementara waktu, mengingat belum adanya kebiasaan mengajar secara daring bagi guru-guru Taman Pendidikan Al-Quran. Di dunia Pendidikan formal masih ada dukungan teknologi dengan sumber daya manusia yang masih bisa beradaptasi. Tetapi Taman Pendidikan Al-Quran yang kebanyakan muridnya masih berusia antara tiga hingga 7 tujuh tahun yang belum mengenal teknologi terpaksa menunda proses pembelajaran mereka. Hal ini memaksa orang tua untuk meluangkan waktu khusus mengajari anak-anak mereka. Begitupun di tingkatan Pendidikan Anak Usia Dini yang dominan dalam materi pembelajarannya adalah permainan-permainan untuk membangkitkan kreativitas anak-anak. Pembelajaran daring bukanlah solusi efektif, mengingat apabila mereka dipaksakan dengan teknologi android berselancar di internet, mereka dikhawatirkan mereka tersuguhi dengan konten-konten yang belum pantas untuk mereka, sehingga kekhawatiran ini membutuhkan solusi tersendiri.

Disisi lain, memaksakan Pendidikan tetap berjalan seperti biasanya, secara langsung akan melanggar protokol Kesehatan yang ada. Terkecuali jika guru-guru Taman Pendidikan Al-Quran yang biasanya memiliki murid yang berkisar belasan anak tersebut mampu mengedukasi murid-murid mereka yang masih berusia 3-7 tahun tentang pelaksanaan dan pembiasaan menjalankan protokol Kesehatan dalam kehidupan sehari-hari.

*Tantangan dan Hikmah
Tenaga pendidik begitu akrab dengan metode pembelajaran tatap muka sebelum masa pandemi Covid-19. Tetapi dengan kebijakan Social Distancing dari pemerintah, pola pengajaran bagi peserta didik mereka berubah total, terutama mereka yang mengajar pada tingkatan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), Sekolah Dasar (SD), hingga Sekolah Menengah Pertama (SMP) yang masih asing dengan metode daring. Tidak sedikit dari mereka kesulitan beradaptasi akibat perubahan yang terjadi secara tiba-tiba tanpa persiapan yang matang sebelumnya. Belum lagi masih adanya guru-guru yang belum mahir mengoperasionalkan teknologi daring. Tetapi terdapat pula guru yang merasa bahwa tuntutan kondisi tersebut membawa berkah tersendiri untuk pengembangan kompetensi mereka dalam dunia teknologi khususnya mengoperasionalkan teknologi daring.
Perhatian lain bagi guru-guru dalam aplikasi metode pembelajaran daring lainnya adalah penyiapan bahan ajar yang dikemas untuk dipresentasekan secara online. Bagi guru-guru yang cukup familiar dengan teknologi notebook, macbook, computer dan sejenisnya, hal tersebut bukanlan sebuah kendala. Tetapi, bagaimana dengan guru-guru yang sudah sudah tidak muda lagi dan masih awam dengan penguasaan teknologi tersebut ? sudah pasti demi menjalankan kewajibannya, mereka dituntut untuk bisa beradaptasi demi lancarnya proses pembelajaran.

Tantangan lainnya yakni adanya biaya operasional tambahan yang harus guru-guru keluarkan demi berjalannya proses pembelajaran. Biaya pembelian pulsa maupun kuota agak membebani mengingat hal itu sebagai penunjang operasional teknologi daring yang digunakan. Bagi guru-guru yang digaji oleh negara dengan status Pegawai Negeri Sipil mungkin tidak terlalu merasakan beban tersebut, tetapi bagaimana dengan guru-guru honorer yang saat ini masih berjuang untuk memperbaiki taraf hidupnya terlebih bagi mereka yang tidak punya penghasilan dari sektor usaha lain ?

Setidaknya kebenaran kabar tersebut menjadi harapan besar untuk segera direalisasikan. Setidaknya hal itu akan mengurangi kendala-kendala dalam dunia Pendidikan.

Hal yang perlu menjadi perhatian pula adalah efektifitas sinyal internet untuk menunjang proses pembelajaran. Masyarakat yang tinggal di daerah pelosok yang kekuatan sinyal internetnya lemah masih akan mengalami kendala. Terbukti dalam sebuah seminar daring pengembangan kompetensi-guru-guru yang baru-baru ini dilaksanakan oleh Lembaga pemerhati Pendidikan di Kabupaten Sidenreng Rappang yang bekerjasama dengan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Sidenreng Rappang, terdapat beberapa orang guru peserta kegiatan yang harus rela keluar rumah menuju lokasi tertentu hanya untuk mencari dukungan sinyal internet yang lebih kuat. Bisa dibayangkan bagaimana jika hal ini harus diadaftasikan oleh siswa yang masih dalam tingkatan Sekolah Dasar ?

Adanya kelonggaran dari pemerintah melalui anjuran social distancing dan physical distancing, telah ada guru-guru yang berinisiatif untuk mengunjungi murid-muridnya ke rumah masing-masing tiap hari sesuai jadwal pelajaran. Meskipun ada alternatif pembelajaran dengan metode daring, tetapi itu bukanlah solusi efektif, mengingat apabila mereka dipaksakan dengan teknologi android berselancar di internet, dikhawatirkan mereka tersuguhi dengan konten-konten yang belum pantas untuk mereka, sehingga kekhawatiran ini membutuhkan solusi tersendiri.

Hikmah lainnya adalah Tak sedikit Orang Tua Siswa merasakan bagaimana pengorbanan guru selama ini dalam mendidik anak-anak mereka. Dengan meluangkan waktu khusus untuk mengambil alih sebagian tugas guru di sekolah dalam mendidik anak-anak mereka, telah banyak menggugah kesadaran mereka betapa berat perjuangan guru demi masa depan anak-anak mereka, demi kemajuan bangsa dan negara.

Satu orang anak saja orang tua sudah kewalahan dan bingung bagaimana mengajari anaknya, terlebih jika puluhan anak.

Beberapa tahun terakhir ini, upaya mendisiplinkan siswa yang dilakukan oleh guru terkadang di tafsirkan sebagai tindak pidana yang bahkan ada yang berproses hingga pengadilan. seperti yang dialami oleh salah seorang oknum guru SMPN 2 Pangsid yang bermula dari laporan pihak orang Tua siswa kepihak hukum atas pemukulan yang dilakukan oleh oknum guru tersebut terhadap siswanya, yang sebenarnya adalah upaya guru untuk mendisiplinkan siswa. Telah terketuk kesadaran orang tua siswa akan tanggung jawab dan peranan guru terhadap anak-anak mereka. di tengah pandemi, tak sedikit orang tua siswa yang mencoba mengajari langsung anak-anaknya. Hal tersebut menyentuk hati orang tua siswa, bagaimana orang tua siswa berposisi sebagai guru yang menghadapi puluhan anak setiap harinya dengan karakter yang berbeda-beda.

Cau maneng tomatowae, begitulah salah satu contoh dari sekian ungkapan curhatan orang tua murid yang bisa dimaknai dengan arti bahwa banyak orang tua mengeluh karena mengalami kesusahan saat mengajari anak-anak mereka di masa pandemi ini. Begitu pula yang sering penulis dengar secara tidak langsung di lapangan saat mendengar beberapa orang ibu-ibu sedang bercengkeramah mengenai pengalaman mengajari anaknya dirumah, sambil berharap sekolah secepatnya kembali dibuka seperti biasanya.

Ternyata Masih banyak persoalan-persoalan yang menunggu solusi dari pemikiran kita semua, setidaknya dibalik musibah pandemi covid-19 ini, ada hal yang menggugah rasa dan kesadaran kita dalam menjalani kehidupan ini.

Bagikan Berita Ini :

Baca Berita Lainnya :

Berita

Jalin Silaturahmi, Bhabinkamtibmas Bersama Babinsa Lakukan Koordinasi Dengan Staf Desa

Berita

Juarai Turnament Volly, Piala Kapolda Mendarat di Polres Sidrap

Berita

Satlantas-Bapenda Sulsel Operasi Gabungan di Enrekang

Berita

Bhabinkamtibmas Polsek Mapsu Polres Takalar Silaturahmi Dengan Perangkat Kelurahan Takalar

Berita

Peduli, Kapolres Sidrap Bantu Korban Angin Kencang

Berita

Rutinitas Patroli Dialogis Dan Sambang Desa Bhabinkamtibmas Desa Bentang Polsek Galsel Polres Takalar

Berita

Kader HMI Sidrap Antusias Ikuti Pelatihan Jurnalistik

Berita

Sosialisasi Ops zebra Berlangsung di SMKN 1 Sidrap