Home / Berita

Selasa, 15 September 2020 - 20:15 WIB

Informasi dan Orientasi Mahasiswa Baru Via Daring, Efektikah?, Begini Pendapat Zulkifli, S.IP., M.Si, Dosen Antropologi Asal Sidrap  

Berita ini 64 kali dibaca

Zulkifli, S.IP., M.Si
Dosen Antropologi Fakultas Ilmu Budaya Unkhair Ternate

Zulkifli, S.IP., M.Si Dosen Antropologi Fakultas Ilmu Budaya Unkhair Ternate

Oleh : Zulkifli, S.IP., M.Si
Dosen Antropologi Fakultas Ilmu Budaya Unkhair Ternate

PENERIMAAN Mahasiswa Baru tahun ajaran 2020/2021 di beberapa kampus khususnya di Provinsi Maluku Utara telah memasuki tahap perkenalan lingkungan kampus. Ini dimaksudkan agar mahasiswa baru nantinya akan mudah mengenal, memahami dan beradaptasi dengan lingkungan pendidikan tinggi sebagai suatu lingkungan akademis yang formal dan levelnya lebih tinggi dari pendidikan formal sebelumnya. selain itu, para mahasiswa baru melalui tahapan ini, akan diarahkan untuk memahami mekanisme-mekanisme perguruan tinggi seperti aturan-aturan internal kampus maupun hal-hal lainnya yang berkaitan dengan kampus tersebut.

Perkenalan lingkungan kampus bagi para mahasiswa baru, dulu akrab juga disebut dengan OSPEK. Perkenalan ini, selain untuk membangun hubungan emosional antarsesama mahasiswa, juga dimaksudkan untuk membina ikatan emosional antara mahasiswa baru dengan para aparatur perguruan tinggi. Mahasiswa baru diharapkan dapat memahami sistem akademik beserta norma-norma akademik. Termasuk di dalamnya kode etik dan tata tertib kemahasiswaan yang berlaku di lingkungan perguruan tinggi.

Ada fenomena berbeda di beberapa perguruan tinggi. Jika sebelumnya pelaksanaan kegiatan pengenalan kampus kepada mahasiswa baru dilaksanakan melalui tatap muka secara langsung (luring), maka sejak beberapa waktu lalu, nyaris semua aktivitas diakukan secara online (daring). Akan tetapi, dengan penyambutan mahasiswa baru secara daring, akan berdampak pada terhambatnya keakraban antara mahasiswa baru dengan para perangkat kampus, begitupun dengan para mahasiswa senior. Sementara, memaksakan penyambutan maba secara langsung (luring), akan rentan terhadap penyebaran Corona Virus Disiase 19 (COVID-19).

Metode Penyambutan Maba
Dahulu, Penyambutan maba padaperguruan tinggi dinamakan ospek (orientasi dan perkenalan). Seiring berjalannya waktu, kegiatan ospek kerap memunculkan stigma negatif karena identik dengan upaya perpeloncoan. Hal tersebut dikarenakan adanya kejadian berupa tindakan kekerasan fisik oleh mahasiswa senior terhadap mahasiswa baru sebagai peserta ospek. Hal tersebut terkadang dipahami sebagian oknum/kalangan mahasiswa sebagai aksi balas dendam senior terhadap dirinya dengan melampiaskan kepada juniornya yang merupakan mahasiswa baru.
Ada pula yang memahami sebagai upaya senior untuk menanamkan karakter dan penguatan mental terhadap adik juniornya, dan lain-lain tanggapan terhadapnya. Tetapi, bagi mahasiswa baru yang merasa kesal akan perbuatan senior terhadap dirinya, apa yang dialaminya ditafsirkan sebagai hal yang negatif, bahkan tak jarang menimbulkan dendam dalam dirinya, sehingga saat mendapatkan kesempatan untuk terlibat sebagai panitia pelaksana, kerap mengaplikasikan tindakan serupa terhadap juniornya yang merupakan mahasiswa baru.

Terdapat beberapa fakta pada masa orientasi pengenalan kampus yang didalamnya terdapat tindakan kekerasan fisik yang menyisakan tekanan mental terhadap mahasiswa baru. Bahkan menimbulkan korban jiwa misalnya kasus penganiayaan di IPDN yakni tewasnya Praja Sulawesi Utara bernama Jonoly Untayanadi (25) pada tahun 2013 saat mengikuti orientasi. Tahun lalupun masih ada kasus saat pelaksanaan orientasi mahasiswa baru yang dianggap mencoreng dunia pendidikan di Indonesia. Meskipun telah ada peraturan sekaligus panduan umum untuk pengenalan kehidupan kampus bagi mahasiswa baru melalui surat keputusan Direktur Jenderal Pembelajaran dan Kemahasiswaan nomor 096/B1/SK/2016 tentang larangan melakukan tindak kekerasan, tetapi pada tahun 2019 yang lalu masih saja ada kasus yang terjadi.

Berlakunya Permendikbud Nomor 18 Tahun 2016 sebagai pengganti Peraturan Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 55 Tahun 2014, istilah ospek tidak lagi digunakan dan, berganti nama menjadi Pengenalan Kehidupan Kampus Bagi Mahasiswa Baru (PKKMB). Harapannya tidak lain agar stigma-stigma tentang istilah ospek yang identik dengan kekerasan fisik maupun perpeloncoan dapat terpulihkan, selain itu melalui aturan yang baru, tidak lagi terjadi tindak kekerasan terhadap peserta orientasi yakni mahasiswa baru.

Pada tahun ajaran 2020 ini, Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi mengeluarkan panduan umum PKKMB yang mengacu pada Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 3 Tahun 2020 tentang Standar Nasional Pendidikan Tinggi dan tetap memperhatikan Keputusan Presiden Nomor 12 Tahun 2020 tentang Penetapan Bencana Nonalam Penyebaran Corona Virus Disease 2019 (Covid-19) sebagai Bencana Nasional, sehingga penyambutan mahasiswa baru tidak lagi dilakukan secara tatap muka, tetapi melalui daring.

Dampak lain dari Keputusan Presiden Nomor 12 Tahun 2020 adalah pelaksanaan kegiatan PKKMB mengharuskan lembaga pendidikan mulai dari pendidikan dasar hingga pendidikan tinggi untuk menunda segala penyelenggaraan acara yang mengundang banyak peserta atau menggantinya dengan video Conference atau media komunikasi lainnya berdasarkan Surat Edaran Mendikbud Nomor 3 Tahun 2020 tentang Pencegahan COVID-19 pada Satuan Pendidikan, dan Nomor 36962/MPK.A/HK/2020 sesuai yang ada pada Poin 3. Hal tersebut demi menjaga pegawai, mahasiswa, siswa, guru dan dosen agar tidak terpapar Covid-19.

Penyambutan Secara online (daring).
Kebijakan Pemerintah melalui Surat Edaran Mendikbud Nomor 3 Tahun 2020 tentang Pencegahan COVID-19 mengisyaratkan kehadiran negara dalam rangka pencegahan penyebaran Covid-19. Hal ini dapat dilihat dari instruksi Mendikbud kepada lembaga-lembaga di bawahnya. Mulai dari perguruan tinggi, kepala dinas pendidikan provinsi/kab/kota, hingga Unit Pelaksana Teknis (UPT), harapannya agar para perangkat lembaga ikut membantu negara dalam rangka pencegahan penyebaran Corona Virus Disease (Covid-19) dengan cara mematuhi dan melaksanakan enam poin yang ada dalam kebijakan tersebut. Hal ini demi menjaga suasana kundusif bagi masyarakat Indonesia pada umumnya dari keterpaparan Covid-19.

Dampak penyambutan mahasiswa baru secara online ini salah satunya adalah meminimalisir bahkan meniadakan terjadinya kekerasan fisik terhadap peserta PKKMB. Hal ini dikarenakan tidak adanya pertemuan langsung baik antara narasumber kegiatan, panitia pelaksana hingga mahasiswa senior yang biasanya ikut terlibat sebagai panitia maupun pendamping kegiatan (instruktur). Tetapi disisi lain,
Fenomena penyebaran Covid-19 yang memaksa perubahan sistem pelaksanaan PKKMB secara online ikut berpengaruh terhadap kurangnya keakraban antara mahasiswa baru dengan para aparatur kampus terlebih lagi terhadap mahasiswa senior. Meski demikian, mendahulukan kepatuhan dan pelaksanaan terhadap kebijakan negara yang terkamtub dalam Surat Edaran Mendikbud Nomor 3 Tahun 2020 wajib dipenuhi dibandingkan kepentingan-kepentingan lainnya seperti yang menyangkut aspek psikologis atau aspek-aspek lainnya demi membatu negara dalam upaya pencegahan penyebaran COVID-19.

Manfaat Pengenalan Lingkungan Kampus bagi Mahasiswa Baru
Pada dasarnya, kegiatan PKKMB diharapkan memberi manfaat terhadap mahasiswa baru. diantaranya Pertama, membantu memahami dan mengenali lingkungan barunya, terutama organisasi dan struktur perguruan tinggi, sistem pembelajaran dan kemahasiswaan. Kedua, meningkatnya kesadaran berbangsa, bernegara, dan cinta tanah air dalam diri mahasiswa baru. Ketiga, memahami arti pentingnya pendidikan yang akan ditempuhnya dan pendidikan karakter bagi pembangunan bangsa serta mampu menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Keempat, terciptanya persahabatan dan kekeluargaan antar mahasiswa, dosen, serta tenaga kependidikan.

Pada Poin (4), ditengah situasi seperti ini, memunculkan pertanyaan apakah mampu tercapai atau minimal sejauh mana efektifitas untuk mencapai Terciptanya persahabatan dan kekeluargaan antar mahasiswa, dosen, serta tenaga kependidikan, sementara pelaksanaan Pengenalan kehidupan kampus bagi mahasiswa baru (PKKMB) dilaksanakan melalui daring? Jawabannya adalah proses pendidikan harus tetap berjalan meskipun ditengah keterbatasan seperti saat ini yakni mendahulukan kepatuhan dan pelaksanaan terhadap kebijakan negara yang terkamtub dalam Surat Edaran Mendikbud Nomor 3 Tahun 2020 dibandingkan kepentingan-kepentingan lain yang sifatnya partikular sebagai upaya pencegahan penyebaran COVID-19. Dengan begitu, berarti ada upaya untuk membantu negara dalam pencegahan penyebaran COVID-19. Ibarat ungkapan yang mengatakan lebih baik mendapatkan hasil yang sedikit daripada tidak mendapat hasil samasekali.

Secara personal, manfaat yang didapatkan oleh mahasiswa baru melalui tahapan kegiatan Pengenalan kehidupan kampus bagi mahasiswa baru (PKKMB), adalah terbukanya jendela jauhari para mahasiswa baru agar mereka mudah dalam menentukan orentasi-orientasinya (cita-cita) kedepan berdasarkan bidang keilmuan yang ia pilih, agar kelak setelah menyelesaikan perkuliahan di perguruan tinggi tersebut, akan memudahkan dirinya untuk berkontribusi positif saat kembali ke lingkungan masyarakatnya melalui skill atau keilmuan yang telah didapatkan selama proses pendidikan.

Arena Mahasiswa Senior
Umumnya dibeberapa kampus di indonesia, pada masa penerimaan mahasiswa baru, para organisasi kemahasiswaan baik organisasi intra kampus maupun organisasi ekstra kampus mematangkan planning, memantapkan pergerakan hingga mengevaluasi pencapaian-pencapain kinerja harian mereka secara berkala demi sebuah strategi untuk memenangkan hati para mahasiswa baru dalam hal kaderisasi. bisa diamsumsikan bahwa tahap penerimaan mahasiswa baru merupakan arena kompetisi antar organisasi dalam kepentingan perkaderan.

Selain kepentingan itu, hubungan emosional antara senior dan junior biasanya dibangun melalui arena ini. Keharusan mematuhi Surat Edaran Mendikbud Nomor 3 Tahun 2020 oleh perguruan tinggi menutup pintu interaksi langsung antar mahasiswa senior dengan para mahasiswa baru. Kondisi tersebut memaksa para mahasiswa senior khususnya pengurus-pengurus lembaga internal kampus yang kerap terlibat dalam kegiatan PKKMB untuk ikut beradaptasi. Tidak adanya interaksi langsung (tatap muka) dengan para mahasiswa baru, mengharuskan mereka untuk mencari strategi lain dalam memikat hati para mahasiswa baru demi meminimalisir hambatan untuk kepentingan kaderisasi.

Fenomena pandemi Covid-19 secara nyata menghambat efektifitas terhadap pelaksanaan kegiatan pendidikan, yang hingga kini, masih menebar ancaman dengan segala resikonya. Merupakan suatu prioritas utama bagi setiap kalangan untuk mengutamakan keselamatan dengan mematuhi kebijakan-kebijakan beserta protokol yang ditetapkan pemerintah dibanding kepentingan-kepentingan lainnya. Efektivitas pelaksanaan pendidikan yang merupakan syarat untuk mencerdaskan kehidupan bangsa masih bisa diperbaiki untuk mencapai hasil maksimal di lain waktu. Sementara resiko tertinggi dari terpapar Covid-19 adalah kematian, tidak mengenal adanya kesempatan untuk hidup kembali di lain waktu. Mematuhi aturan pemerintah adalah cara terbaik saat ini. Mematuhi Surat Edaran Mendikbud Nomor 3 Tahun 2020 adalah salah satu upaya membantu negara dan pemerintah dalam mencegah penyebaran Covid-19 yang hingga kini masih menimbulkan kekhawatiran di kalangan masyarakat.

Bagikan Berita Ini :

Baca Berita Lainnya :

Berita

Tiga Pilar Desa, Kader Kesehatan Dan Tim Satgas Keliling Sampaikan Himbauan Antisipasi Covid 19

Berita

Keren, Bhabinkamtibmas Polres Sidrap Tebar Pesan Bahaya Narkoba di Ponpes

Berita

Sebelum Bertugas, Polres Sidrap Gelar Olahraga Bersama

Berita

Polisi Amankan Terduga Kasus Pemukulan Santri di Sidrap

Berita

Disebut Jadi Salah Satu Pengusul Penerima BPUM, BRI Sinjai : Kami Hanya Penyalur

Berita

Persiapan Sensus Penduduk 2020, Pemkab Sidrap Ikut Rakor BPS Provinsi Sulsel

Berita

Pelana Kuda di Sidrap Kembali ‘Meringkik’

Berita

Mencopet Rp10 Juta di Sidrap, Wanita Asal Makassar Ini Dibekuk Polsek Dua Pitue