
Setiap calon pemimpin berkeinginan membaktikan diri, ide, kerja , cita dan cinta kepada rakyat di mana dia mendapatkan empati dan simpati.
Oleh : Ridha Rasyid*
PEMIMPIN, sesungguhnya bukanlah orang yang memiliki ambisi berlebihan dalam menunjukkan hasratnya untuk memperoleh kekuasaan, melainkan seorang pemimpin yang handal, sejatinya menawarkan apa yang ingin diperbuatnya dan membawa orang orang uang dia pimpin itu lebih sejahtera, lebih makmur, mendapatkan pelayanan yang baik dari apa yang seharusnya dilakukan, pada saat yang sama terdapat kemudahan dan kecepatan memperoleh layanan yang disediakan itu menjadi terpenuhinya semua kebutuhan dan kepentingan mereka.

Paling tidak, bahwa sebagian besar apa yang hendak dikerjakan oleh pemimpin itu membangkitkan partisipasi masyarakat dalam mewujudkannya. Pemimpin yang baik, dibibgkai oleh kesopanan, kesatuan, kejujuran, tidak mementingkan dan mengedepankan keluarga dalam melanjutkan kepemimpinannya, meskipun menyalahi atau bahkan menyimpang dari ketentuan yang berlaku.
Dinasti kepemimpinan itu hanya akan tumbuh pada sistem tirani, otoriter atau sistem kerajaan. Sangat berbeda dalam alam demokrasi yang memberikan ruang yang luas kepada semua orang untuk mengiprahkan dirinya dalam kontestasi politik dan kekuasaan. Demokrasi tidak bisa dipreteli oleh sejumlah cara curang untuk merengkuh kekuasaan. Itu cara cara primitif yang seyogyanya bertentangan dengan dinamika politik modern yang kaya narasi, gagasan, literasi dan Inovasi.
Oleh karena itu, seorang pemimpin tidak saja mengedepankan ambisi atau keinginan untuk berkuasa semata, tetapi juga paling tidak, harus memiliki beberapa hal, pertama, kepribadian. Kepribadian merupakan hal pertama dan utama dalam menilai dan mengukur kepemimpinan. Kepribadian itu terbentuk dan dibentuk sejak dalam kandungan oleh sikap yang diperlihatkan oleh kedua orang tuanya. Sehingga kepribadian itu, sedikit banyaknya, menurun dari orang tua atau keluarga.
Genetika sifat, sikap dan perilaku yang telah ada dan ditunjukkan oleh keluarganya akan menurun pada anak, meskipun tidak semua identik. Dalam diri Andi Muhammad Bau Sawa Mappanyukki yang selanjutnya dalam tulisan ini disingkat menjadi AMBSM merupakan pengenawantahan dari karakter keluarga yang senantiasa menunjukkan sipakalebbi, sipakatau dan cara cara yang dikelilingi peradaban yang baik dari suatu titipan keluarga yang baik pula.
Kedua, bahwa pemimpin dan kepemimpinan itu sejatinya tidak saja dapat dipelajari dan dilaksanakan, tetapi juga merupakan penjelmaan dari kepemimpinan yang pernah ada pada leluhur mereka.
Kepemimpinan itu tidak serta merta ada dan bisa diaplikasikan. Merupakan proses dari berbagai tahapan kehidupan yang sudah teruji seiring dengan perjalanan waktu dan ruang di mana korelasi antara sikap dan pikiran itu bersatu dalam melahirkan tindakan maupun kebijakan, ketiga, dari pengalaman dalam karier, pemimpin itu mengalami kohesi dari apa yang pernah fijalaninya untuk mengambil pelajaran dalam memilih dan memilih mana yang terbaik dan sesuai serta dapat diterapkan di tengah tengah masyarakat
#Visi
Kata viisi memberi makna akan suatu cita, mimpi atau ilusi yang dapat diwujudkan dengan kerja kerja yang sistematis, terstruktur , terukur dengan target waktu tertentu. Sehingga pada proses pemilihan kepemimpinan di Indonesia visi menjadi hal penting dan terutama dalam “menelusuri” apa yang bisa dan akan dia kerjakan. Walaupun, penetapan visi ini, di luar Indonesia tidaklah lazim, karena lebih mementingkan apa yang bisa segera dikerjakan untuk mengejawantahkan janji janji mereka.
Hal yang perlu bahwa Gubernur sebagai wakil pemerintah pusat di daerah dalam hal penetapan visi itu harus diikuti oleh setiap daerah kabupaten dan kota di wilayahnya. Tidak boleh lagi seperti sekarang bahwa setiap daerah punya visi sendiri sendiri pada saat yang sama, propinsi juga punya visi yang tidak sama dengan daerah.
Bahwa keragaman itu bagus, namun dalam perspektif pembangunan daerah atau wilayah, maka harusnya sama dalam memandang kemajuan sebuah wilayah. Ketimpangan antar daerah dapat diminimalisir juga kesenjangan dapat dipersenpit.
Sehubungan dengan itu, AMBSM menawarkan visi *Maju, Bermartabat, Sejahtera dan Berkeadilan* sebagai manifestasi membangun Sulawesi Selatan ke depan. Narasi Visi ini mengandung makna Mewujudkan prinsip-prinsip Maju, Bermartabat, Sejahtera, dan Berkeadilan dalam kehidupan sehari-hari dapat dilakukan melalui berbagai cara, baik sebagai individu maupun sebagai bagian dari komunitas. Berikut beberapa langkah yang dapat diambil:
#Maju:
Selalu belajar dan mengembangkan kemampuan pribadi
Mendukung inovasi dan kemajuan dalam teknologi, pendidikan, dan sains
Mengikuti perkembangan zaman dan beradaptasi dengan perubahan yang terjadi
#Bermartabat
Menghormati dan menghargai hak asasi manusia, seperti kebebasan berekspresi dan hak untuk mendapatkan perlindungan hukum
Menghargai keberagaman budaya, agama, dan ras, serta berusaha untuk menjaga toleransi dan keharmonisan
Menegakkan nilai-nilai kejujuran, integritas, dan tanggung jawab dalam kehidupan pribadi dan profesional
#Sejahtera
Berusaha untuk mencapai kesejahteraan ekonomi, sosial, dan politik melalui kerja keras, pendidikan, dan partisipasi aktif dalam kehidupan masyarakat
Membantu orang yang kurang mampu dan memberikan dukungan kepada mereka yang membutuhkan
Menjaga kesehatan tubuh dan pikiran dengan menjalani gaya hidup sehat dan seimbang.
#Berkeadilan
Mendukung sistem hukum yang adil dan pemerataan dalam mengakses keadilan.
Menyuarakan hak dan kepentingan orang yang terpinggirkan atau dianiaya.
Memperlakukan orang lain dengan adil, tanpa diskriminasi, dan mengakui hak-hak mereka sebagai individu yang setara.
Dalam rangka mewujudkan prinsip-prinsip ini, penting bagi setiap individu untuk menjadi agen perubahan dan berkontribusi secara aktif dalam menciptakan lingkungan yang kondusif untuk hidup dan berkembang bagi semua anggota masyarakat.
Pemerhati Kepemerintahan