Example 650x100

Sidrap, Katasulsel.com – Sebuah proyek rabat beton di Desa Mattirotasi, Kecamatan Watang Pulu, Kabupaten Sidrap, mencuri perhatian publik setelah temuan mengejutkan dari Inspektorat Sidrap mengungkap sejumlah kekurangan serius.

Proyek yang dibiayai dari dana desa tahun 2024 ini diduga tidak memenuhi standar kualitas, dengan indikasi kerugian mencapai Rp6,9 juta.

Auditor Madya Inspektorat, Wawan, menyampaikan bahwa ada kerusakan pada lapisan atas rabat beton di empat titik. Kedalaman kerusakan berkisar 2-3 sentimeter—cukup untuk menunjukkan bahwa proyek ini tidak sesuai dengan spesifikasi teknis.

Example 970x970

“Kerusakan ini menandakan kualitas pekerjaan yang rendah. Ada juga kekurangan volume dalam pelaksanaan proyek, yang artinya jumlah material tidak sesuai dengan standar,” tegas Wawan dalam keterangannya, Jumat, 6 Desember 2024.

Pasir Halus, Kualitas Amburadul

Salah satu penyebab utama kerusakan adalah penggunaan bahan yang tidak sesuai spesifikasi.

Pasir halus yang seharusnya hanya untuk pekerjaan tertentu, digunakan dalam pembuatan rabat beton ini. Padahal, proyek seperti ini membutuhkan pasir kasar untuk daya tahan yang lebih baik.

“Akibatnya, lapisan beton menjadi rapuh dan mudah rusak. Kalau ini dibiarkan, kita hanya membangun untuk dihancurkan,” ujar Wawan dengan nada keras.

Ia juga menyoroti lemahnya pengawasan teknis dari pihak terkait. Perencanaan yang tidak matang dan pengawasan yang setengah hati dinilai menjadi akar masalah.
Menurutnya, pendamping desa seharusnya berperan lebih aktif dalam memastikan pelaksanaan proyek berjalan sesuai aturan.

Inspektorat Tegas

Inspektorat tidak tinggal diam. Mereka memberikan tenggat waktu 60 hari kepada pihak terkait untuk mengembalikan kerugian senilai Rp6,9 juta ke kas desa. Jumlah ini, meski terlihat kecil, mencerminkan masalah besar dalam pengelolaan dana desa.

“Kami merekomendasikan agar dana yang tidak digunakan sebagaimana mestinya segera dikembalikan. Ini menjadi peringatan keras agar ke depan pengelolaan dana desa lebih transparan dan profesional,” lanjut Wawan.

Masyarakat Geram: Dana Desa Bukan untuk Main-Main

Temuan ini memicu respons keras dari masyarakat Desa Mattirotasi. Banyak yang merasa kecewa karena proyek yang seharusnya menjadi solusi malah menciptakan masalah baru.

“Dana desa itu dari rakyat, untuk rakyat. Kalau begini hasilnya, siapa yang tanggung jawab?” keluh seorang warga yang enggan disebutkan namanya. Warga lainnya bahkan menuntut agar ada audit menyeluruh terhadap proyek-proyek lain yang menggunakan dana desa.

Kasus ini menjadi pengingat pahit bahwa pembangunan fisik di desa tak hanya soal mengejar target selesai, tetapi juga memastikan kualitasnya.

Inspektorat berharap kejadian ini membuka mata semua pihak, mulai dari pemerintah desa hingga pelaksana proyek, untuk lebih profesional dan transparan.

“Ini bukan soal angka kerugian, tapi soal kepercayaan masyarakat. Jangan main-main dengan dana desa!” pungkas Wawan.

Dengan adanya temuan ini, masyarakat mendesak agar tidak hanya pihak terkait yang bertanggung jawab, tetapi juga adanya pengawasan lebih ketat pada semua proyek desa di Sidrap. Karena bagi mereka, pembangunan yang asal jadi hanyalah langkah mundur yang akan terus membebani rakyat.(*)