Example 650x100

Sidrap, Katasulsel.com — Malam itu, bulan hanya separuh, sinarnya redup. Seperti pertanda, duka akan menyelimuti Lingkungan VI Lampiring, Kelurahan Batu, Kecamatan Pituriase.

Hasiah (66), seorang nenek yang setiap pagi menyapa kebun, tak kembali seperti biasanya. Tubuhnya ditemukan tak bernyawa—bukan oleh usia, bukan oleh sakit, melainkan oleh belitan seekor piton sepanjang delapan meter.

Minggu kelabu itu, kabar menggemparkan menyebar cepat. Tangis keluarga pecah. Lahan tempat ia menanam harapan kini menjadi saksi bisu kepergiannya yang tragis.

Example 970x970

Di antara isak dan duka, Bupati Sidrap, H. Syaharuddin Alrif, datang melayat.
Langkahnya pelan, sorot matanya berat. Ia tidak sekadar seorang pemimpin yang melayat; ia datang sebagai sesama manusia yang turut merasakan kehilangan.
Duduk di tengah keluarga, ia menyampaikan belasungkawa, menggenggam tangan mereka yang bergetar menahan nestapa.

“Kami turut berduka, semoga keluarga diberikan ketabahan,” ucapnya lirih, penuh empati.

Hasiah bukan siapa-siapa bagi dunia, tetapi ia segalanya bagi keluarganya.
Warga mengenalnya sebagai perempuan tangguh, yang tidak pernah absen menyusuri ladang.

Pagi baginya adalah janji, sore adalah hasil, tetapi malam itu—malam itu adalah akhir.

“Kematian ini adalah pelajaran bagi kita semua. Setiap yang bernyawa pasti akan kembali kepada-Nya,” lanjut Syaharuddin.

Suaranya bergetar, seperti menahan perih yang ikut menyelinap ke dalam dada.

Sidrap berduka. Bukan hanya karena kepergian Hasiah, tetapi karena kisahnya menjadi cermin tentang betapa rapuhnya manusia di hadapan takdir.

Semoga doa yang mengalir menjadi penerang di perjalanan terakhirnya.

Semoga kebun yang ia rawat tetap hijau, seperti kenangan tentangnya yang akan terus hidup di hati mereka yang mencintainya.(*)