Sidrap, Katasulsel.com – Dinamika politik di tubuh Partai Amanat Nasional (PAN) Sidrap kembali bergulir seiring dengan proses regenerasi kepemimpinan di tingkat daerah.

DPD PAN Sidrap telah mengajukan tiga nama calon formatur ketua kepada DPP PAN di Jakarta, yakni Muhammad Angkasa (Bendahara PAN Sidrap), Malik (mantan Caleg PAN), dan Syukur Rabaiseng (Legislator PAN Sidrap).

Di tengah proses tersebut, suara kritis datang dari senior PAN yang juga mantan Ketua DPD PAN Sidrap, Baharuddin Andang.

Sosok yang pernah menjabat sebagai legislator PAN selama dua periode ini menekankan pentingnya figur pemimpin yang visioner dan memiliki komitmen kuat dalam membesarkan partai.

“PAN Sidrap membutuhkan pemimpin yang tidak hanya berorientasi pada kekuasaan, tetapi juga memiliki dedikasi untuk memperkuat soliditas internal partai. Saya melihat sosok itu ada pada Pak Angkasa. Ia punya keuletan dan keikhlasan dalam bekerja untuk PAN,” ujar Baharuddin, Kamis, 3 April 2025.

Namun, di balik dukungannya terhadap Muhammad Angkasa, Baharuddin juga menyuarakan kegelisahannya terhadap perubahan mekanisme pemilihan ketua DPD PAN yang kini dinilai semakin elitis.

Menurutnya, sistem yang dulu berbasis bottom-up (dari bawah) kini telah berubah menjadi top-down (dari atas), sehingga mengurangi partisipasi kader di tingkat akar rumput (grassroots).

“Dulu, pemilihan ketua DPD melibatkan ketua, sekretaris, dan bendahara ranting (desa/kelurahan), sehingga kader di tingkat bawah merasa haknya dihargai. Sekarang, mekanisme itu berubah, dan kabarnya ketua DPD PAN Sidrap lebih banyak ditentukan oleh pengurus di tingkat atas,” ungkap Baharuddin.

Fenomena ini, lanjutnya, bisa berpotensi menciptakan oligarki politik di internal PAN Sidrap, di mana keputusan strategis lebih banyak ditentukan oleh segelintir elit partai di DPP maupun DPW.

Hal ini berisiko mengurangi militansi kader di tingkat bawah yang selama ini menjadi tulang punggung partai dalam kontestasi politik.

Kendati demikian, Baharuddin tetap memberikan dukungannya kepada Muhammad Angkasa, dengan catatan bahwa ia harus memperkuat komunikasi dengan pengurus pusat.

“Insya Allah saya dukung, karena beliau adalah kader yang sudah lama bersama PAN, sejak saya menjabat sebagai ketua DPD. Namun, dia harus intens membangun komunikasi ke atas, baik dengan DPP maupun DPW,” pesannya.

Proses pergantian kepemimpinan PAN Sidrap kali ini tidak hanya menjadi ajang kompetisi antar kandidat, tetapi juga ujian bagi internal partai dalam menjaga semangat demokrasi dan keterlibatan kader.

Apakah PAN Sidrap mampu mempertahankan tradisi partisipatif atau justru semakin mengarah pada politik elitis? Waktu yang akan menjawab.(*)