Example 650x100

Sidrap, katasulsel.com — Aroma silaturahmi mengalir di Rumah Jabatan Bupati Sidrap, Sabtu, 5 April 2025.

Kepala Bulog Cabang Sidrap, Simon Melki Sedek Lakapu, datang tak sekadar membawa salam Idulfitri. Ia menenteng angka besar: 1.170 persen.

Itu bukan sembarang angka. Itu adalah capaian daya serap beras Bulog Sidrap—angka yang melesat jauh dari target pusat.

Example 970x970

Dua bulan. Serapan tembus ribuan persen. Ini bukan euforia semata. Ini sinyal kuat.

Wilayah Sidrap, dikenal sebagai lumbung pangan nasional, kini naik kelas. Bukan hanya menyuplai lokal. Tapi juga jadi penyangga untuk Papua, Kupang, dan Maluku.

Simon Melki tak datang sendiri. Ia didampingi jajaran penting: Kepala Dinas Pertanian Sidrap, Plt Dinas Perdagangan, hingga para kepala desa dari titik-titik produksi beras.

Data diserahkan. Laporan harian dikaji. Semua dalam satu meja bersama Bupati Sidrap, H. Syaharuddin Alrif.

“Kami datang bukan cuma untuk silaturahmi. Tapi juga menyampaikan realita. Penyerapan kita luar biasa. Tapi tetap butuh penguatan,” kata Simon.

Ia bicara soal gudang. Soal spesifikasi teknis. Soal rantai pasok. Di sinilah istilah-istilah seperti buffer stock, logistik pangan, hingga stabilitas harga komoditas jadi penting.

Bupati Sidrap Syaharuddin Alrif, menyambut dengan apresiasi. Stabilitas harga dan serapan maksimal, katanya, adalah dua sisi mata uang kesejahteraan petani.

Dan tahun ini, produksi meningkat. Harga tetap terjaga. Artinya: daya beli membaik. Sirkulasi uang petani pun naik.

Dari Jalan Lanto Daeng Pasewang hari itu, pesan besar mengalir: Sidrap bukan cuma lumbung. Tapi juga benteng logistik nasional.(*)