
Madinah, Katasulsel.com – Ketua DPD I Partai Golkar Sulawesi Selatan, Taufan Pawe, menjalankan ibadah umrah bersama keluarga.
Ia juga menunaikan salat Idulfitri di Masjid Nabawi, Madinah, Arab Saudi.
Tapi bukan cuma ibadah, di sela momen spiritual ini, Taufan terpantau bersilaturahmi dengan sejumlah tokoh penting Golkar Sulsel.

Pertemuan itu terekam di salah satu hotel dekat Nabawi. Yang hadir? Ada H. Zulkifli Zain alias H. Pilli (Ketua Golkar Sidrap dan anggota DPRD Sulsel), H. Andi Fashar M. Padjalangi (eks Bupati Bone dan Ketua Golkar Bone), juga Izman Padjalangi (Wakil Ketua Komisi E DPRD Sulsel), dan Muhammad Ilhamsyah Taufan dari DPRD Kota Parepare.
Momen ini dibagikan oleh Hj Asmara Cawidu lewat media sosial. Kalimat singkat yang ia tulis: “Masyaa Allah, tabarakallah. Alhamdulillah, di Madinah pun silaturahmi tetap terjaga.”
Namun di balik itu, publik politik Sulsel membaca sinyal kuat: Musda Golkar Sulsel makin dekat, dan Taufan Pawe mulai konsolidasi elite.
Sinyal ini makin jelas ketika sejumlah pimpinan DPD II Golkar menyatakan dukungan terbuka. Termasuk Ketua Golkar Bulukumba, Nirwan Arifuddin, yang menyebut bahwa keberhasilan harus dinilai dari data kuantitatif, bukan asumsi.
“Faktanya, di bawah Pak Taufan, kursi Golkar di DPRD Sulsel naik dari 13 ke 14. Ini disebut dalam teori statistik sebagai positive deviation. Bukti nyata, bukan sekadar opini,” tegas Nirwan.
Ia juga menjelaskan soal posisi Ketua DPRD Sulsel yang lepas ke NasDem. Menurutnya, hal itu murni akibat dominasi wilayah basis yang berhasil dikuasai partai lain, terutama Dapil IX, basis Rusdi Masse.
“Ini bukan kelemahan Golkar, tapi realita kompetisi politik. Dalam istilah politik elektoral, itu namanya geopolitical vote shift,” tambah Nirwan.
Dukungan juga datang dari Ketua Golkar Wajo yang juga Wakil Bupati, dr Baso Rahmanuddin. Ia menilai kepemimpinan Taufan Pawe di Golkar Sulsel berjalan cukup rapi secara struktural dan manajerial.
“Kalau ukurannya pemenangan Pemilu dan Pilpres, saya kira Golkar di bawah Taufan bisa dikatakan berhasil. Tambah kursi, itu parameter objektif,” ungkapnya.
Sementara itu, Taufan Pawe sendiri tidak menutup peluang untuk maju kembali memimpin Golkar Sulsel. Namun ia menegaskan, semua tergantung restu Ketua Umum Golkar, Bahlil Lahadalia.
“Kalau diberi restu, kami siap. Apalagi banyak DPD II mendorong saya kembali maju. Tapi kalau ada yang ingin maju juga, silakan. Prosesnya biar berjalan alami saja,” ucapnya.
Saat ditanya soal pertemuan di Madinah, Taufan menyebut itu sekadar silaturahmi dan diskusi ringan soal masa depan Golkar Sulsel.
“Ini Ramadhan dan Idulfitri, kami kumpul bahas Golkar ke depan. Tidak ada keputusan apa-apa. Cuma ngobrol,” tutupnya.
Namun dari sisi komunikasi politik, pertemuan di Nabawi ini mengandung simbol kuat: perpaduan antara emosional religiusitas dan soft konsolidasi. Dalam kajian ilmu politik, ini masuk dalam kategori ritual politik simbolik, yaitu konsolidasi lewat pendekatan non-formal yang membangun loyalitas struktural jelang kontestasi.
Pertanyaan berikutnya, apakah dari Madinah, arah Golkar Sulsel sudah mulai ditentukan? (*)
Tinggalkan Balasan