
Katasulsel.com — Di awal laga, Cristiano Ronaldo sempat terkapar. Bukan karena malas lari atau kehabisan tenaga, tapi karena ditabrak dalam kemelut yang lebih panas dari final Liga Champions.
Baru sembilan menit, duel keras ala derby ibukota langsung terjadi. Kingdom Arena pun seketika jadi ring tinju, dan CR7 jadi sasaran tabrakan keras dari pemain Al Hilal. Penonton sempat nahan napas, fisioterapis masuk, dan dunia seperti berhenti sebentar. Tapi tenang, Ronaldo bukan tipe yang gampang tumbang.
Setelah sempat “offside” dari permainan karena perawatan, Ronaldo kembali masuk ke lapangan seperti pemain pengganti yang disiapkan untuk bikin kejutan.

Al Hilal yang dikenal sebagai pemilik gelar terbanyak Liga Arab Saudi — 19 kali juara, bro — lagi-lagi ketemu mimpi buruk bernama Al Nassr. Dan malam itu, mimpi buruk itu bernama Cristiano Ronaldo.
Begitu kembali ke lapangan, CR7 tak mau cuma jadi pelengkap formasi. Bersama Sadio Mane yang lari-larinya kayak main di mode sprint terus, Al Nassr mulai nge-press. Menit ke-17, Mane mencoba long shot dari luar kotak penalti. Bola meluncur kencang, tapi masih bisa ditepis Yassine Bounou — kiper yang juga sering jadi tembok hidup.
Tapi tekanan itu nggak berhenti. Menit 25, Jhon Duran si predator muda coba nyontek bola di mulut gawang. Umpan silang udah manja banget, tinggal disentuh dikit harusnya gol, tapi masih gagal bikin papan skor berubah.
Waktu terus berjalan, Al Nassr makin percaya diri, mainnya rapat, passing-nya tajam kayak umpan De Bruyne.
Dan akhirnya, Ronaldo unjuk kelas. Dua gol dia sarangkan malam itu. Bukan tap-in receh atau penalti pesanan, tapi gol yang lahir dari insting striker sejati.
Satu pakai kaki, satu pakai kepala — dua-duanya bikin Bounou terdiam. Gaya selebrasi khas ‘Siuuu!’ kembali menggema di Riyadh, kayak pengumuman resmi bahwa sang raja belum pensiun dari dunia si kulit bundar.
Skor akhir? 3-1 buat Al Nassr. Al Hilal yang biasanya jadi raja, kali ini cuma jadi penonton drama epik ala comeback seorang Ronaldo. Ini bukan sekadar kemenangan. Ini pembuktian.
Kalau CR7 masih bisa ngacak-ngacak lini belakang lawan meski sempat ditabrak kayak ditackle dua kaki. Al Nassr pun tetap menjaga asa bersaing di papan atas.
Dalam laga yang panas, keras, dan penuh drama, Ronaldo menunjukkan bahwa dia bukan sekadar legenda. Dia masih pemain aktif. Masih lapar gol. Dan malam itu, dia jadi MVP — Most Valuable Pahlawan.(edybasri)
Tinggalkan Balasan