
Sidrap, katasulsel.com — Suara tangis itu menggetarkan pagi, di Dusun Puncak Harapan, Desa Mario, Kecamatan Kulo, Sidrap, Sabtu 5 April 2025.
Histeris. Patah. Menggema dari dalam sebuah rumah sederhana di Jalan Poros Enrekang.
Nur J., seorang kakak perempuan, baru saja membuka pintu rumah orang tuanya. Waktu menunjukkan sekira pukul 08.30 Wita. Ia tak pernah menyangka, kedatangannya pagi itu akan menjadi awal dari luka yang membekas seumur hidup.

Di ruang tengah, tak jauh dari ranjang, tergantung tubuh adik kandungnya, Sy — 23 tahun, belum bekerja, diam dan dingin.
Sebuah tali plastik berwarna coklat tua membelit lehernya. Hidup yang dulu hangat bersamanya, mendadak sepi.
Nur J menjerit. Ia menangis sekuat yang ia bisa. Panggilan itu mengundang keluarga lain berdatangan.
Tubuh Sy diturunkan. Tapi waktu seakan tak mau memutar ulang. Semua sudah terlambat.
Polisi bergerak cepat. Kapolsek Panca Rijang, AKP Abustam, SH, MH, memimpin langsung tim dari Polsek dan Polsubsektor Kulo ke lokasi kejadian. Informasi awal: dugaan bunuh diri.
Sekira pukul 11.30 Wita, jenazah Sy dibawa ke RS Arifin Nu’mang, Rappang. Pemeriksaan medis luar dilakukan oleh dr. Zulfadlipatmir.
Hasilnya: tidak ada tanda kekerasan fisik selain bekas jeratan di leher yang konsisten dengan metode gantung diri.
Keluarga menolak autopsi. Mereka menganggap kejadian ini sebagai musibah. Surat pernyataan resmi juga mereka ditandatangani.
Penyelidikan lebih lanjut dari sisi forensik dihentikan, meski secara hukum, catatan polisi tetap dibuat sebagai dokumentasi peristiwa kematian tidak wajar.
“Kami sudah ambil langkah-langkah sesuai prosedur. Semua data dicatat dan diarsipkan,” ujar Kasi Humas Polres Sidrap, AKP Supiadi, saat dikonfirmasi terpisah.
Sampai saat ini, motif belum ditemukan. Tak ada saksi yang menyebutkan tekanan berat yang mungkin dialami korban.
Namun, dalam kacamata sosial, tragedi semacam ini sering berkaitan dengan krisis kesehatan mental — sebuah isu yang masih dipandang sebelah mata.
Kini, keluarga berduka dalam diam. Mereka merelakan, meski belum benar-benar memahami. Sy, anak muda yang dikenal pendiam dan baik hati, pergi meninggalkan sejuta pertanyaan dan satu kepastian: hidup tak selalu terlihat dari permukaannya.
Dan di tengah sunyi rumah itu, hanya suara tangis kakak yang masih menggema — mengiringi kepergian yang tak sempat berpamitan. (*)
Tinggalkan Balasan