
Makasar, katasulsel.com — Makassar memang belum gemuruh. Tapi angin sudah berembus aneh.
Musyawarah Daerah (Musda) Partai Golkar Sulawesi Selatan belum digelar, tapi atmosfernya sudah bikin dada para elit mulai sesak.
Bukan karena gaduh, tapi karena sunyi. Sunyi yang terasa ganjil. Sunyi dari satu nama yang biasanya selalu mengisi panggung depan: Taufan Pawe.

Musda kali ini seperti naskah lama yang disusun ulang. Isinya sama: perebutan kekuasaan di partai tua yang masih jadi magnet kekuatan di daerah. Tapi plot twist-nya mulai terasa.
Sang petahana, Taufan Pawe—atau TP—yang dulunya berdiri di atas panggung utama, kini seperti penonton yang masih menunggu aba-aba.
Namanya seolah tak masuk daftar unggulan. Padahal dia masih memegang palu kekuasaan DPD I.
Lalu siapa yang muncul? Nurdin Halid, sosok senior yang dalam politik Golkar sering berperan sebagai kingmaker, justru menyebut lima nama yang sama sekali tak menyebut TP.
Nama-nama itu bukan ecek-ecek. Mereka datang dengan modal elektabilitas, pengalaman eksekutif, dan yang tak kalah penting: relasi sosial yang hidup.
Ada Andi Ina Kartika Sari, Bupati Barru; Munafri Arifuddin, Wali Kota Makassar; Ilham Arief Sirajuddin, mantan Wali Kota; Adnan Purichta Ichsan, mantan Bupati Gowa; dan Indah Putri Indriani, mantan Bupati Luwu Utara.
Pertanyaannya: ke mana TP?
Jawaban NH—singkatan dari Nurdin Halid—singkat, tapi tajam: “Tanya DPD II-nya.” Sebuah frasa yang kalau diterjemahkan secara politis, bermakna: nasib TP bukan di tangan elit, tapi di basis.
Tapi kita tahu, dalam patron-client politics, restu elit seringkali lebih menentukan dibanding suara akar rumput.
Sinyal lain? Coba lihat gerakan mereka. Adnan sowan ke rumah NH sambil bawa barongko. IAS datang di hari pertama Lebaran.
Andi Ina dikunjungi langsung ke Barru. Semua ini bukan silaturahmi biasa. Ini adalah ritual politik.
Bahasa tak tertulis dari sebuah tradisi patronase yang masih kuat di tubuh Golkar. Restu, dalam tradisi ini, adalah simbol keberlanjutan.
Dua dari lima nama yang disebut NH adalah perempuan. Ini menarik. Jika salah satunya naik, sejarah baru akan ditulis.
Golkar Sulsel selama ini dikuasai laki-laki. Tapi mungkin, 2025 adalah tahunnya para political matriarch. Andi Ina dikenal loyal dan disiplin, sementara Indah punya portofolio lengkap sebagai kepala daerah dan tokoh pendidikan.
Taufan sendiri tak hilang. Dalam beberapa pernyataan, ia masih menyuarakan kesiapannya. Tapi kita tahu, dalam politik, kesiapan adalah variabel kontingensi. Bukan penentu. Yang menentukan adalah dinamika.
Bersambung…
Tinggalkan Balasan