Jakarta, Katasulsel.com – Nama Camelia Panduwinata Lubis biasanya kita dengar di panggung hiburan. Kadang di layar kaca. Sesekali di panggung politik. Tapi kali ini suaranya lain. Lebih lirih, lebih serius, dan menyentuh langsung ke akar persoalan bangsa.
Ia menyerukan agar elit politik segera duduk bersama. Bukan untuk berbagi kursi. Tapi untuk menyatukan visi. “Sudah cukup rakyat dibuat susah dengan urusan ekonomi. Jangan sampai terjadi pertumpahan darah antar anak bangsa,” katanya. Kalimat sederhana, tapi terasa seperti teguran halus kepada mereka yang sedang berebut kuasa.
Ucapan itu lahir dari duka. Seorang pengemudi ojek online, Affaz Kurniawan, meninggal dunia. Tertabrak mobil taktis Brimob saat aksi demo, 28 Agustus lalu.
Camelia hadir dengan doa. “Saya turut berduka cita yang sedalam-dalamnya. Aksi damai tidak boleh menelan korban jiwa. Menyampaikan aspirasi adalah hak yang dijamin undang-undang,” ucapnya.
Ia tahu rakyat sedang letih. Ekonomi seret. Harga-harga naik. Lalu muncul insiden yang merenggut nyawa. Situasi yang membuat luka makin dalam.
Karena itu ia mengimbau semua pihak tetap tenang. Ia juga menghargai para demonstran dan aparat yang sudah berusaha menjaga jalannya aksi. Tapi Camelia tetap tegas: hukum harus berjalan. “Oknum yang menabrak harus ditindak tegas,” tambahnya.
Kali ini suara Camelia tidak terdengar seperti politisi yang sedang mencari panggung. Lebih seperti seorang kakak yang menenangkan adik-adiknya. Mengajak untuk menundukkan kepala sejenak, lalu bergandengan tangan.
Di tengah hiruk pikuk politik yang penuh ego, seruan itu sederhana: dengar aspirasi rakyat. Satukan bangsa. Jangan biarkan korban bertambah. (Wahyu Widodo/Jakarta)
Tidak ada komentar