
Setelah itu ia menjadi petani. Sawah bukan ruang romantis seperti dalam poster kampanye. Sawah adalah tempat penuh ketidakpastian.
Musim bisa berubah, air bisa terlalu banyak atau terlalu sedikit, dan hasil panen kadang tidak cukup untuk menutup biaya pupuk.
Tetapi sawah mengajarinya satu hal yang tidak pernah ia lupakan: tidak ada yang lebih jujur dari tanah. Tanah memberi sesuai upaya, bukan sesuai harapan.
Baru ketika berdiri di atas panggung Britama Arena, ia menyadari bahwa dua pekerjaan itu—sopir dan petani—adalah sekolah kehidupan yang paling baik yang pernah ia jalani. PGRI mungkin menilai kebijakan, rekam jejak, dan komitmen.
Tetapi Syahar tahu, dirinya dibentuk jauh sebelum semua jabatan itu datang. Ia dibentuk oleh pagi-pagi yang dingin, oleh setir panas yang harus ia pegang sepanjang hari, oleh matahari yang membakar punggung di sawah, oleh malam-malam ketika ia bertanya apakah hidupnya akan selalu begini.
Mungkin itu sebabnya senyumnya sore itu terasa berbeda. Ada kedewasaan yang mengendap lama sebelum sampai ke panggung penghargaan.
PB PGRI, dalam proses penetapan Dwija Praja Nugraha, melakukan verifikasi panjang. Mereka memeriksa data, menelusuri jejak kebijakan, mendengar suara guru di lapangan.
Nama Syahar muncul di daftar pendek bukan karena populer di media, tetapi karena konsistensinya di daerah kecil yang tidak banyak masuk berita nasional. Pendidikan di Sidrap bergerak, dan itu bukan sekadar statistik. Para guru merasakannya.
Ketika pengumuman itu pertama kali sampai ke Sidrap, beberapa orang sempat menebak-nebak apakah penghargaan ini ‘titipan’ atau ‘penghargaan politis’ seperti yang sering terjadi di negeri ini.
Tetapi setelah mereka melihat prosesnya, melihat bagaimana PGRI melakukan ujian, barulah mereka paham: ada hal-hal yang tidak bisa dipoles oleh tim media mana pun. Kinerja nyata adalah salah satunya.
Apa yang menarik dari kisah Syahar bukan hanya perjalanan kariernya. Ia memulai dari Pemuda Muhammadiyah, kemudian tiga periode menjadi anggota DPRD, meraih suara terbanyak se-Sulsel pada Pemilu 2024, bahkan sempat ditawari kursi Ketua DPRD Sulsel—jabatan yang bagi sebagian besar politisi adalah posisi puncak. Ia menolak. Ia pulang ke Sidrap.
Banyak yang tidak mengerti keputusannya. Ada yang bilang ia nekat, ada yang bilang ia salah hitung politik. Tetapi bagi Syahar, politik bukan tempat mencari kenyamanan. Politik adalah tempat seseorang diuji apakah ia memilih apa yang penting atau apa yang mudah.
Dulu, ketika ia masih remaja, seorang tetua pernah berkata: “Orang kalau sudah naik, jangan lupa kampung.” Kalimat itu melekat di kepalanya. Mungkin itu alasan ia pulang. Sidrap memanggilnya bukan sebagai arena kekuasaan, tetapi sebagai janji lama yang harus ia penuhi. Seperti tanah sawah yang memanggil pagi-pagi dulu.
Dan kini, keputusannya menemukan pembenaran. Sidrap meraih TP2DD terbaik untuk kawasan Sulawesi, plus penghargaan Kabupaten Sehat. Dua prestasi nasional dalam dua hari.
Tetapi ketika wartawan menanyakan responnya, ia hanya tersenyum kecil dan berkata: “Semua ini kerja bersama.” Lagi-lagi, tanpa retorika. Tanpa kalimat gemerlap. Seolah-olah penghargaan hanyalah catatan pinggir, sementara kerja utamanya tetap berada di lapangan, di antara petani, guru, dan masyarakat.
Justru nilai human interest terbesar dari diri Syahar terletak pada caranya mengingat masa lalu, bukan pada caranya merayakan masa kini. Ia tipe pemimpin yang selalu membawa kisah hidupnya di ruang kerja.
Tidak ada komentar