
Ia sering bilang kepada orang-orang dekatnya bahwa ia tidak ingin ada anak Sidrap yang harus melewati tahun-tahun berat seperti dirinya dulu. Ia tidak ingin ada pemuda yang merasa hidupnya berhenti hanya karena lahir dari keluarga sederhana.
Itu sebabnya pendidikan menjadi fokus utama. Ia ingin murid-murid Sidrap punya kesempatan yang lebih besar, punya pintu yang lebih banyak, punya masa depan yang lebih panjang.
Di Britama Arena, ia datang bersama Wakil Bupati Nurkanaah yang juga Ketua PGRI Sidrap. Pemandangan itu, bagi sebagian orang, hanyalah simbol formalitas.
Tetapi bagi yang dekat dengan mereka, itu menunjukkan bahwa Sidrap sedang bergerak dengan cara yang berbeda. Pemerintah dan dunia pendidikan tidak berjalan sendiri-sendiri. Mereka berjalan berdampingan.
Setelah menerima penghargaan, Syahar tidak memberi pidato panjang. Ia berkata pelan, “Penghargaan ini menjadi motivasi untuk memperkuat pendidikan unggul di Sidrap.” Kalimatnya datar, tetapi justru di situlah humanisme itu terasa. Ia terbiasa bekerja tanpa drama. Ia tahu perjalanan masih panjang. Ia tahu tepuk tangan tidak akan menyelesaikan apa pun ketika ia kembali ke Sidrap. Pekerjaanlah yang akan melanjutkan semuanya.
Ketika acara selesai dan lampu-lampu mulai diredupkan, ia turun panggung pelan, menyalami beberapa guru, bercakap pendek dengan pengurus PGRI, lalu berjalan keluar arena. Tidak ada konvoi panjang. Tidak ada arak-arakan. Ia pulang seperti biasa: tenang, tanpa suara berlebihan.
Dan di perjalanan pulang itulah, orang bisa melihat sekilas bagaimana seorang manusia terbentuk. Syahar bukan tokoh yang sengaja menyembunyikan masa lalunya. Ia hanya tidak ingin menjadikan masa lalu sebagai komoditas politik. Tetapi masa lalu itu nyata. Sangat nyata.
Ia lahir dari ruang yang sama dengan jutaan rakyat Indonesia: ruang penuh kekurangan, tetapi penuh kejujuran. Itu pula yang membuatnya berbeda dari banyak politisi lain.
Mungkin itu alasan mengapa, ketika ia tersenyum di panggung, senyum itu terasa lebih dalam dari sekadar gestur formal. Senyum itu seperti kalimat tanpa suara: “Terima kasih, hidup.”
Karena hidup memang tidak memberinya jalan mudah, tetapi hidup memberinya cerita panjang yang kini ia bawa setiap kali mengambil keputusan.
Ia pernah kehilangan, pernah gagal, pernah jatuh, pernah dipuji, pernah diremehkan, pernah diserang, pernah ditinggalkan.
Tetapi semua itu tidak membuatnya menjadi keras. Justru sebaliknya, ia menjadi semakin lembut. Ada banyak politisi yang semakin berkuasa semakin jauh dari manusia. Syahar, entah bagaimana, justru bergerak ke arah sebaliknya: semakin berkuasa, semakin mendengar.
Sebab ia tahu bagaimana rasanya tidak didengar.
Tidak ada komentar