
Itu inti dari human interest seorang Syahar: perjalanan hidupnya memberi empati, bukan luka.
Ketika seorang anak muda Sidrap bertanya padanya bagaimana ia bisa bangkit dari hidup yang begitu berat, ia hanya menjawab pelan: “Kalau kamu tidak punya apa-apa, jangan takut. Hidup akan mengajarimu pelan-pelan.”
Ia tidak memberi motivasi mewah. Tidak menulis buku. Tidak membuat konten inspirasi. Ia hanya hidup, dan dari hidup itulah orang belajar.
Dwija Praja Nugraha hanyalah simbol. Tetapi manusia di balik simbol itu bukan manusia yang tercipta dari ruang politik. Ia tercipta dari ruang kehidupan yang sebenarnya.
Dan mungkin itulah alasan mengapa, ketika lampu-lampu Britama Arena akhirnya padam, satu hal tetap menyala: perjalanan panjang seorang anak manusia yang tidak pernah lupa asalnya, dan tidak pernah berhenti berjalan.
Sebab ia tahu, perjalanan tidak berhenti di panggung itu.
Perjalanan selalu dimulai kembali ketika seseorang pulang. Pulang ke Sidrap. Pulang ke tanah yang membesarkannya. Pulang ke tempat yang dulu membuatnya bertanya apakah hidup akan berubah.
Ternyata berubah. Tetapi ia sendiri tetap. Tetap Syahar seperti yang dulu—hanya kini dengan tanggung jawab yang lebih besar, dan senyum yang lebih tenang.
Tidak ada komentar