Konut, Katasulsel.com — Program TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) ke-128 Tahun Anggaran 2026 di Kabupaten Konawe Utara resmi ditutup. Namun lebih dari sekadar seremoni, program ini meninggalkan jejak pembangunan yang langsung dirasakan masyarakat di wilayah pedesaan.
Penutupan dilakukan Komandan Korem (Danrem) 143/Halu Oleo, R. Wahyu Sugiarto, di Lapangan Upacara Hadasi, Kecamatan Andowia, Rabu (21/5/2026), disaksikan Forkopimda, TNI-Polri, pemerintah daerah, hingga warga yang selama satu bulan ikut terlibat dalam kegiatan tersebut.
TMMD kali ini tidak hanya menjadi agenda rutin militer, tetapi berubah menjadi akselerator pembangunan desa. Hasilnya, sejumlah akses dan fasilitas dasar masyarakat kini terbuka dan lebih mudah dijangkau.
Di sektor infrastruktur, Satgas TMMD berhasil membuka jalan tani sepanjang 4.550 meter, meningkatkan jalan rabat beton 1.100 meter, merintis jalan baru 1.850 meter, membangun drainase 180 meter, serta tiga unit gorong-gorong yang memperlancar akses antarwilayah desa.
Camat Paling Merakyat Versi Pembaca
Polling ini partisipatif, bukan survei ilmiah. Indikator : Sisi kedekatan dengan warga, respons terhadap masalah, hingga dukungan pada aktivitas sosial dan ekonomi lokal.
Polling ini partisipasi pembaca, bukan survei ilmiah.
1 perangkat/IP = 1 suara
Dampaknya mulai terasa langsung: jalur distribusi hasil pertanian menjadi lebih singkat, akses antarpermukiman lebih terbuka, dan mobilitas warga di wilayah yang sebelumnya terisolasi kini jauh lebih mudah.
Tak hanya infrastruktur jalan, program TMMD juga menyentuh kebutuhan dasar masyarakat. Melalui program unggulan Kasad, dibangun 15 titik sumur bor TNI AD Manunggal Air yang kini membantu suplai air bersih warga desa.
Di sektor perumahan, sebanyak 16 unit rumah tidak layak huni (RTLH) berhasil direhabilitasi, disertai pembangunan 7 unit MCK yang meningkatkan kualitas sanitasi lingkungan.
Sementara itu, fasilitas ibadah juga mendapat perhatian dengan rehabilitasi satu masjid, disertai penguatan ketahanan pangan melalui pengembangan lahan seluas satu hektare.
Dampak sosial lainnya terlihat dari program penanganan stunting, di mana 400 paket bantuan disalurkan kepada masyarakat yang membutuhkan, terutama keluarga dengan anak usia rentan gizi.
Danrem 143/Halu Oleo, R. Wahyu Sugiarto, menegaskan bahwa seluruh capaian tersebut merupakan hasil kolaborasi antara TNI, pemerintah daerah, dan masyarakat.
“Keberhasilan TMMD ini adalah buah dari gotong royong. Yang paling penting bukan hanya pembangunan fisik, tetapi bagaimana hasilnya benar-benar dimanfaatkan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” ujarnya.
Dengan ditutupnya TMMD ke-128, Konawe Utara kini tidak hanya memiliki infrastruktur baru, tetapi juga dampak jangka panjang berupa peningkatan akses ekonomi, kesehatan, dan kualitas hidup masyarakat desa.
Program ini kembali menegaskan bahwa pembangunan tidak selalu harus dimulai dari kota—tetapi bisa tumbuh kuat dari desa, melalui kerja bersama. (*)
