Ada momen ketika jabatan publik kembali bertemu dengan bangku kuliah. Di pelataran Fakultas Hukum Unhas itu, Bupati Barru Andi Ina Kartika Sari seperti pulang—dan pulang seorang alumni selalu punya rasa yang berbeda.
Penulis: Edy Basri
Pelataran Fakultas Hukum Universitas Hasanuddin Sabtu (23/5/2026) pagi itu tidak sepenuhnya formal.
Orang-orang datang dengan jas, batik, toga akademik, dan senyum yang tidak semuanya kaku. Di antara mereka, ada yang sudah lama tidak bertemu. Ada yang baru pertama kali bertemu setelah sama-sama berpisah dari ruang kuliah puluhan tahun lalu. Dan ada pula yang datang sebagai pejabat, tetapi duduknya tetap seperti alumni yang pulang ke rumah lama.
Camat Paling Merakyat Versi Pembaca
Polling ini partisipatif, bukan survei ilmiah. Indikator : Sisi kedekatan dengan warga, respons terhadap masalah, hingga dukungan pada aktivitas sosial dan ekonomi lokal.
Polling ini partisipasi pembaca, bukan survei ilmiah.
1 perangkat/IP = 1 suara
Di situlah Bupati Barru, Andi Ina Kartika Sari, SH., M.Si, hadir.
Ia tidak datang sebagai tamu biasa.
Ia datang sebagai bagian dari cerita panjang Fakultas Hukum Universitas Hasanuddin.
Dies Natalis ke-74 Fakultas Hukum Unhas tahun ini mengusung tema yang terdengar besar: “Mewujudkan Pendidikan Hukum yang Berdampak Menuju Indonesia Emas.”
Tetapi di pelataran kampus itu, tema besar itu terasa lebih sederhana—lebih manusiawi.
Ia berubah menjadi pertemuan.
Menjadi pelukan singkat antaralumni.
Menjadi tawa kecil yang tiba-tiba muncul saat nama lama disebut.
Menjadi cerita yang tidak selesai di ruang kelas, tetapi terus hidup di luar kampus.
Acara berlangsung hangat.
Civitas akademika hadir.
Mahasiswa berbaur.
Alumni lintas generasi memenuhi ruang-ruang dialog yang tidak selalu resmi.
Wali Kota Makassar sekaligus Ketua IKA Fakultas Hukum Unhas, Munafri Arifuddin, turut hadir.
Dari unsur penegak hukum, hadir perwakilan Mahkamah Agung, Kejaksaan Agung RI, hingga Kementerian Hukum Sulawesi Selatan.
Tokoh-tokoh organisasi advokat, guru besar, hingga jajaran pimpinan Universitas Hasanuddin juga tampak di lokasi.
Namun di tengah semua itu, ada satu momen yang membuat suasana sedikit berbeda.
Nama Andi Ina dipanggil.
Dan ia menerima Hasanuddin Law School Award.
Sebuah penghargaan yang tidak sekadar seremonial.
Di kampus seperti Unhas, penghargaan alumni sering kali memiliki makna ganda: penghormatan, sekaligus pengingat.
Bahwa seseorang yang pernah dibentuk di ruang kuliah kini telah kembali dalam posisi yang berbeda, membawa nama institusi ke ruang publik yang lebih luas.
Andi Ina menerima penghargaan itu dengan tenang.
Tidak ada gestur berlebihan.
Tidak ada pidato panjang yang ingin menguasai ruangan.
Tetapi dari raut wajahnya, terlihat jelas satu hal: ini bukan sekadar piala.
Ini semacam pulang yang diberi tanda.
Dalam keterangannya, Andi Ina menyebut Dies Natalis bukan hanya agenda tahunan yang rutin di kalender kampus.
Ia menyebutnya sebagai ruang bertemu kembali.
……………………
