Sidikalang, katasulsel.com — Di tengah suasana haru wisuda Universitas Sumatera Utara (USU) Medan, satu nama mencuri perhatian saat diumumkan sebagai lulusan berprestasi: dr Livia Anastasia Sianturi.
Bukan hanya karena capaian akademiknya, tetapi juga ketenangan dan pesona anggun yang terpancar saat ia melangkah di panggung wisuda.
Lulusan kedokteran asal Sidikalang itu berhasil meraih predikat cum laude dengan IPK 3,99, menempatkannya di jajaran lulusan terbaik pada periode wisuda tersebut.
Di balik toga putih dan senyum lembut yang ia tampilkan di hadapan para tamu undangan, tersimpan perjalanan panjang yang jauh dari kata ringan. Dunia kedokteran yang ia tempuh selama bertahun-tahun dikenal sebagai salah satu program studi paling ketat, dengan ritme belajar yang nyaris tanpa jeda.
Camat Paling Merakyat Versi Pembaca
Polling ini partisipatif, bukan survei ilmiah. Indikator : Sisi kedekatan dengan warga, respons terhadap masalah, hingga dukungan pada aktivitas sosial dan ekonomi lokal.
Polling ini partisipasi pembaca, bukan survei ilmiah.
1 perangkat/IP = 1 suara
Livia harus melewati tahapan pendidikan yang berlapis: mulai dari pembelajaran teori kedokteran dasar, praktikum laboratorium yang detail, hingga masa koasistensi di rumah sakit pendidikan.
Ia bergiliran di berbagai stase klinik—penyakit dalam, bedah, anak, hingga instalasi gawat darurat—yang semuanya menuntut ketahanan fisik, mental, dan empati sekaligus.
“Ini bukan perjalanan yang mudah. Ada banyak malam tanpa tidur, ada banyak tekanan ujian OSCE dan stase klinik,” ungkap keluarga dengan suara haru.
Puncak perjuangan itu terbayar ketika namanya dipanggil sebagai salah satu lulusan terbaik. Momen tersebut menjadi titik emosional tersendiri bagi keluarga, terutama sang ayah, Hasiholan Sianturi, yang tak kuasa menahan air mata.
Hasiholan, seorang penyandang disabilitas yang selama ini tetap bekerja keras demi pendidikan anak-anaknya, menjadi sosok penting di balik keberhasilan Livia. Dengan segala keterbatasan fisik, ia tetap berupaya memastikan pendidikan putrinya tidak terhenti.
“Kalau saya harus tidur di ladang, saya rela. Yang penting anak saya jadi dokter,” ucapnya lirih, menggambarkan besarnya pengorbanan yang ia jalani.
Sementara itu, sang ibu turut menyaksikan langsung proses panjang yang dilalui putrinya hingga mampu menembus ketatnya pendidikan kedokteran, yang tidak hanya menguji kecerdasan, tetapi juga ketahanan hati dalam menghadapi realitas dunia medis.
Kini, Livia bersiap memasuki tahap internship dokter muda sesuai ketentuan Kementerian Kesehatan, sebelum benar-benar menjalani praktik sebagai tenaga medis profesional.
……………
