Sidrap, katasulsel.com – Di Sidrap, kita bisa menemukan banyak warung bertuliskan besar “Coto Makassar.” Menariknya, warung itu berdiri kokoh di Pangkajene, Maritengngae, Baranti, bahkan Pitu Riase—bukan di Kota Makassar.
Lalu pertanyaannya sederhana, tapi cukup menggelitik: kenapa namanya tetap Coto Makassar, padahal usahanya berdiri di Sidrap? Kenapa bukan “Coto Sidrap”?
Jawabannya tentu bukan karena coto itu salah alamat.
Nama Coto Makassar sejak lama sudah melekat sebagai identitas kuliner khas Sulawesi Selatan yang berasal dari budaya kuliner masyarakat Makassar. Sama seperti Coto Gagak, Coto Nusantara, atau coto-coto legendaris lainnya, nama “Makassar” bukan soal lokasi warung berdiri, melainkan penanda asal rasa dan warisan resepnya.
Camat Paling Merakyat Versi Pembaca
Polling ini partisipatif, bukan survei ilmiah. Indikator : Sisi kedekatan dengan warga, respons terhadap masalah, hingga dukungan pada aktivitas sosial dan ekonomi lokal.
Polling ini partisipasi pembaca, bukan survei ilmiah.
1 perangkat/IP = 1 suara
Jadi, meski mangkuknya disajikan di Sidrap, aromanya tetap “ber-Kota Daeng”.
Di Sidrap sendiri, coto bukan lagi makanan tamu atau menu akhir pekan. Ia sudah naik kasta menjadi “penyelamat pagi,” terutama bagi pekerja, sopir, ASN, pedagang pasar, hingga warga yang percaya satu hal: sarapan tanpa coto kadang terasa kurang sah.
Tak sedikit warga yang bahkan punya ritual tetap: pagi-pagi datang, duduk, lalu memesan singkat tanpa perlu banyak basa-basi.
“Coto satu, ketupat dua.”
Kalimat sederhana yang kadang lebih cepat keluar dibanding ucapan “selamat pagi”.
Yang menarik, meski bernama Coto Makassar, rasa coto di tiap daerah sering punya “dialek” sendiri. Ada yang kuahnya lebih pekat, ada yang cenderung ringan. Ada yang royal jerohan, ada juga yang lebih dominan daging. Bahkan ada pelanggan yang hubungan emosionalnya dengan penjual coto lebih erat dibanding dengan provider internetnya.
Di Sidrap, coto juga sering jadi tempat rapat tak resmi. Mulai dari diskusi politik, urusan sawah, harga gabah, sampai gosip kampung—semua bisa dimulai dari satu mangkuk coto panas.
Kadang keputusan besar lahir bukan di ruang rapat, tapi di meja kayu warung coto.
Kalau dipikir-pikir, coto memang unik. Namanya Coto Makassar, lahir dari budaya kuliner Makassar, berkembang di berbagai daerah, termasuk Sidrap, tapi rasanya bisa menyatukan semua orang tanpa melihat domisili.
Maka tak perlu heran kalau warungnya berdiri di Sidrap, tapi tetap bernama Coto Makassar.
Karena yang pindah hanya alamat jualannya.
Rasanya tetap pulang ke Makassar. (*)
