Di layar televisi nasional, Bupati Sidrap Syaharuddin Alrif tampil rapi, terukur dan stylis. Ini yang luput dari media.

Oleh: Edy Basri
STUDIO Kompas TV hari itu benar-benar ‘menyala‘. Bukan karena lampu terang dan warna studio, tapi detail baju yang membalut tubuh sang bupati.
Hari itu, Syaharuddin memilih tidak tampil dengan baju “instan Jakarta”. Tapi baju buatan lokal: Sidrap
Terlihat, Syaharuddin Alrif duduk tenang sebagai bintang tamu dalam program talkshow live “Zona Inspirasi”, Kompas TV, Senin (8/6/2026).
Syaharuddin Alrif sangat detail menjawab pertanyaan demi pertanyaan yang mengalir seperti irigasi sawah: dari pangan, energi, sampai stunting.
Dipandu host Egiet Hapsari, percakapan itu seperti peta kecil Sidrap yang dibentangkan di meja studio. Sawah, telur, listrik, zakat, sampai turbin angin.
Tapi ada satu cerita yang justru tidak muncul di rundown acara. Cerita yang terjadi sebelum lampu studio menyala.
Baju yang tidak dibeli di butik ibu kota
Di balik layar, sebelum tampil di TV nasional, Syaharuddin tidak memilih jas desainer Jakarta. Ia memilih sesuatu yang lebih “rumah”.
Baju itu dibuat oleh penjahit lokal Sidrap: Penjahit Taylor, yang berlokasi di jalan masuk Kantor Bupati/SKPD Sidrap, Kelurahan Arawa, Kecamatan Watang Pulu.
Bukan sekadar jahit-menjahit. Ada ide yang ikut dijahit di sana.
Menariknya, desain baju itu bukan ditiru dari katalog, bukan pula dari moodboard stylist televisi. Tapi lahir dari tangan sang bupati sendiri.
Ia yang merancang simbol-simbolnya. Terlihat sangat menggoda.
Di kain itu, Sidrap tidak hanya “dipakai”, tapi “ditampilkan sebagai ide”.
Ada gambar padi—Sidrap sebagai lumbung beras.
Ada telur—Sidrap sebagai lumbung telur.
Ada kincir angin—Sidrap sebagai lumbung energi terbarukan.
Dan ada Al-Qur’an—Sidrap sebagai lumbung penghafal Al-Qur’an.
Empat simbol, satu tubuh kain.
Kalau di Jakarta orang sibuk memilih brand, di Sidrap justru brand itu sedang dibentuk.
Dari sawah ke studio TV
Di layar Kompas TV, percakapan berjalan formal, tapi substansinya tidak kering.
Syaharuddin menegaskan kembali identitas lama Sidrap sebagai lumbung beras Sulawesi Selatan. Tapi ia tidak berhenti di situ.
“Menangkap arahan Presiden dan Menteri Pertanian soal swasembada pangan, kami melakukan transformasi untuk meningkatkan produktivitas padi, jagung, dan sektor pangan lainnya,” ujarnya.
Kalimat itu terdengar teknokratis. Tapi di lapangan, maknanya lebih kasar dan sederhana: air harus sampai ke sawah, panen harus lebih sering, petani harus lebih untung.
Lalu masuklah program yang paling sering disebut di daerah itu: listrik masuk sawah.
Sekitar 18.000 hektare lahan tadah hujan yang dulu hanya bisa panen sekali setahun, kini didorong menuju IP300—tiga kali panen setahun.
Di titik ini, Sidrap tidak lagi hanya bicara tanah. Tapi juga energi.
“Ini bukan hanya soal produksi, tapi juga soal efisiensi dan peningkatan pendapatan petani,” kata Syaharuddin di studio.
Telur, stunting, dan cara berpikir yang sederhana
Percakapan kemudian bergeser. Dari produksi ke manusia.
Stunting. Kata yang sering terdengar teknis, tapi dampaknya sangat nyata.
Pemkab Sidrap memperkenalkan Program Genting—Gerakan Orang Tua Asuh Bebas Stunting. Polanya tidak rumit: gotong royong, donatur, dan keluarga asuh.
Di saat yang sama, ada pendekatan yang nyaris terlalu sederhana untuk dianggap program besar: makan satu telur per hari.
Tapi justru di situlah logikanya. Sidrap punya telur. Sidrap punya ayam. Maka protein tidak boleh jadi barang mewah di tanah sendiri.
