Masyarakat di desa itu sangat senang. Setidaknya dengan kehadiran puluhan mahasiswa-mahasiswi dari Universitas Muhammadiyah Sidrap (UMS) Rappang ini.
Penulis: Putri Ramadhani Mustari
BUKAN mikrofon yang digunakan. Bukan pula layar LCD atau presentasi digital. Hanya satu TPA sederhana, beberapa lembar tikar, dan suara lembut yang terdengar dari barisan anak-anak: mengeja huruf demi huruf dalam Al-Qur’an. Siang hingga sore, di Desa Cipotakari, suasana begitu tenang—sejuk, seperti datang dari hati yang sabar.
Dan yang membimbing mereka bukan ustaz bergelar panjang. Tapi sekelompok mahasiswa—anak-anak muda dari Universitas Muhammadiyah Sidrap (UMS) Rappang, yang sedang melaksanakan KKN Angkatan VII Tahun 2025.
Kelas Al-Qur’an ini bukan acara sekali jalan. Bukan pula hanya demi laporan kegiatan. Ia hadir setiap Senin dan Kamis. Rutin. Disusun sebagai program utama dari KKN Posko Cipotakari, dan diberi warna oleh semangat baru: membimbing dengan sabar, mengajar dengan lembut, dan yang paling penting, menyentuh akhlak—bukan sekadar bacaan.
Yang diajarkan bukan hanya makhraj dan tajwid, tapi juga adab: bagaimana sopan kepada orang tua, bagaimana duduk saat belajar, bagaimana berbicara dengan lembut kepada yang lebih tua. Sebuah pelajaran yang dulu biasa dititipkan dari surau ke surau, tapi kini mulai langka di desa-desa. Dan mahasiswa itu, dengan caranya yang sederhana, seperti sedang menghidupkan kembali warisan lama yang nyaris terlupa.
“Kami ingin anak-anak mencintai Al-Qur’an bukan karena disuruh, tapi karena merasa dekat,” ujar salah satu mahasiswa, yang tak menyebut nama karena merasa itu bukan hal penting. Yang penting, katanya, anak-anak datang dan tersenyum setiap kali kelas dimulai.
Kegiatan ini tidak berdiri sendiri. Di belakangnya ada Sundari, S.AP., M.AP., dosen pembimbing lapangan yang sabar mendampingi dari jauh, dan Mukhtadi Billah, koordinator desa yang menjadi jembatan antara mahasiswa dan masyarakat. Kepala Desa Zainal, S.IP., juga memberi dukungan penuh. “Selama itu untuk anak-anak dan akhlak, silakan jalan,” katanya.
Sebanyak 10 mahasiswa KKN tinggal di desa ini sejak 10 Juli dan akan bertugas hingga 7 September 2025. Mereka tinggal di rumah warga, menyatu dengan kehidupan masyarakat, dan memilih untuk tidak membuat kegiatan yang megah. Mereka lebih suka hal-hal kecil—yang mungkin tak viral, tapi menempel lama di hati.
Saya membayangkan, beberapa tahun ke depan, anak-anak yang sore ini belajar Al-Qur’an akan tumbuh besar. Mungkin mereka tak lagi ingat semua surah yang mereka hafal. Tapi mereka akan ingat satu hal: bahwa dulu, saat langit sore mulai oranye, ada sekelompok kakak dari kota yang datang, mengajari mereka dengan senyum dan sabar. Dan lewat tangan-tangan itulah, mereka mengenal huruf-huruf Al-Qur’an. Dan mengenal adab—yang kelak akan menjadi pelita dalam hidup mereka.
Dan mungkin, dari sanalah pendidikan paling awal dan paling penting dimulai: bukan di ruang kelas formal, tapi di tikar TPA, di antara doa-doa pelan, dan suara kecil yang mengeja: alif… ba… ta…
Editor: Edy Basri
Tidak ada komentar