banner 728x250
Opini  

Kenakalan Remaja: Peserta Didik yang Suka Berkelahi

Silakan Share

Ditulis Oleh: Faradina I Mahasiswa PBSI 2019 Universitas Negeri Makassar

SELAMA masa kanak-kanak, anak-anak berusia 6-7 tahun tidak terlalu bijaksana dan terbuka dalam mengungkapkan perasaan atau pendapat secara lisan. Tidak jarang seorang anak mendapat masalah dengan beberapa temannya, dan akhirnya berkelahi, terutama yang berkaitan dengan anak laki-laki. Biasanya pertengkaran dimulai dengan adu mulut, kemudian anak berkelahi dan diakhiri dengan tangisan. Kenakalan remaja, seperti halnya berkelahi, merupakan masalah yang dihadapi oleh seorang pendidik.

Anak-anak usia ini benar-benar perlu belajar bagaimana menyelesaikan konflik dengan teman sebayanya dengan percaya diri. Ketika balita memasuki sekolah dasar, perilaku agresif seperti menyerang, memukul, dan meremas sering dipicu oleh beberapa faktor, seperti cemburu, marah, jengkel, bentuk pertahanan diri atau perasaan senang yang tiba-tiba merasuki anak.

BACA JUGA:  Guru Melek Teknologi, Siswa Termotivasi Belajar

Ketidakmampuan seorang anak untuk melakukan pekerjaan seorang guru di sekolah adalah gambaran dari agresi pasif. Perilaku agresif lainnya yang sering ditampilkan oleh anak, misalnya: mengganggu teman, berperilaku kasar, mengganggu pembelajaran di kelas.

Penyebab masalah ini adalah kurangnya perhatian dari orang tua kepada siswa, ketika remaja tidak memberikan perhatian lebih kepada anak, mereka akan merasa tidak berguna dan diinginkan. Inilah sebabnya mengapa siswa melanggar hukum di sekolah. Sifat ketidakstabilan yang dialami mahasiswa dan gaya hidup mahasiswa yang hedonis.

Alasan anak bertengkar dengan temannya sering karena jika tidak tersinggung karena diejek oleh temannya, ia akan menertawakan temannya setelah terjatuh karena didorong. Tidak jarang anak-anak berkelahi sampai dicakar atau dipukuli dengan teman karena masalah seperti ini.
Solusi yang bisa saya berikan yaitu memperbanyak kegiatan positif seperti mengembangkan hobi, memperbanyak kegiatan aktif untuk mengurangi waktu yang dihabiskan untuk hal-hal yang tidak perlu, penyuluhan/edukasi, edukasi tentang seks/narkoba dan resiko kriminalitas serta membangun moral agama, seperti Selain mendidik orang tua untuk siswa, terkadang orang tua tidak memiliki waktu luang untuk tinggal bersama anak, meskipun siswa juga membutuhkan perhatian dan pengasuhan emosional.

BACA JUGA:  Stop Menjadi Guru yang Membeda-bedakan Murid

Salah satu orang yang sangat penting dengan peran penting adalah pengawas atau guru BK. Keberadaan dan partisipasi guru di sekolah sangat diperlukan. Salah satu fungsi bimbingan dan konseling adalah fungsi atau upaya pencegahan, yaitu upaya intervensi sebelum kebutuhan akan bantuan dikenali.

Guru pembimbing harus menjalin kerjasama dengan orang tua. Orang tua sebagai pendidik anak di rumah hendaknya mengajarkan ketegasan anak, termasuk mengajarkan anak untuk mengembangkan pengendalian diri dan mengajar anak untuk dapat mengkomunikasikan apa yang ingin mereka sampaikan kepada orang lain sambil menghindari sikap kekerasan.
Orang tua harus selalu membekali anak-anaknya dengan pemahaman sosialisasi di sekolah, di mana konflik bisa muncul, tetapi semua konflik perlu diselesaikan secara damai. Tentu saja, alangkah baiknya jika anak-anak akhirnya bisa menyelesaikan masalah mereka sendiri dan bermain bersama lagi dengan damai.

BACA JUGA:  Pembullyan Antar Siswa di Sekolah

Memang, perilaku agresif itu kompleks dan beragam dan memiliki banyak penyebab, sehingga upaya untuk memulihkan agresi siswa dapat dikaitkan tidak hanya dengan pengawas sekolah tetapi juga perlunya perhatian pihak/agen pendidikan. Dengan demikian, menjadi “wajib” bagi semua pihak untuk mengatasinya agar agresi siswa dapat dikelola dengan baik.

banner 120x600
crossorigin="anonymous">

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *