Opini  

Penyebab Disleksia Pada Anak

Silakan Share

Ditulis oleh: Hera Ariani
Mahasiswi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
Universitas Negeri Makassar

KETERAMPILAN membaca adalah bagian dari keterampilan berbahasa. Membaca merupakan keterampilan yang diperoleh melalui kegiatan membaca dari buku atau bahan bacaan lainnya. Keterampilan membaca ini merupakan keterampilan yang sangat penting dimiliki setiap anak atau individu setelah melalui tahap menyimak dan berbicara.

Pada anak sekolah dasar (SD) usia 6 sampai 12 tahun adalah masa dimana anak mengenal huruf dan menghubungkan atau menggabungkan setiap kata. Proses belajar perlu dikuasai sejak usia dini pada masa anak-anak awal di kelas 1-2 . Sehingga pada masa anak-anak tengah pada kelas 3-4, siswa sudah pandai merangkai kata. Pada masa anak-anak usia ini, mereka mestinya sudah mampu membaca dan menulis dengan lancar, dan juga dapat memecahkan masalah matematika kecil. Dan anak SD usia 5-6 tahun sudah bisa berpikir logis untuk memecahkan suatu masalah.
Namun karena permasalahan perkembangan individu yang tidak efesien, masih banyak siswa SD yang tidak lancar membaca dan menulis. Rata-rata anak usia sekolah dasar di desa, tidak hanya satu atau dua yang mengalami disleksia.

Dilihat dari anak-anak yang mengalami tumbuh kembang di desa dan bersekolah di sekolah yang tergolong 3T pada saat melaksanakan program Kampus Mengajar Angkatan 2. Nyatanya, masih banyak anak yang terbata-bata bahkan masih mengeja hingga duduk di kelas 6 SD.

BACA JUGA:  Kurangnya Motivasi Guru, Apakah Suatu Permasalahan?

Menurut Buhler dalam (Rahmat, P.S, 2019) dalam buku Perkembangan Peserta Didik juga di jelaskan bahwa pada anak usia sekolah dasar usia 9-11 sudah berada pada tahap keempat perkembangan pribadi. Pada tahap ini, anak akan banyak bereksperimen, menganalisis, dan meneliti. Pada tahap ini, anak sudah sangat ingin tahu tentang sesuatu yang baru. Anak-anak juga harus diekspos ke banyak orang. Sehingga pada perkembangan anak normal sudah pada tahap berpikir logis dan berpikir abstrak yang pengendaliannya masih belu
belum matang dan masih akan terus mengalami perkembangan.

Namun nyatanya masih banyak siswa SD yang hingga menginjak kelas 6 masih belum bisa membaca. Ini mungkin karena sifat orang tua yang acuh tak acuh terhadap perkembangan kognitif anak mereka. Peran orangtua sangat dibutuhkan di masa-masa perkembangan anak. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor. Baik faktor bawaan maupun lingkungan. Faktor bawaan dapat terjadi saat lahir. Disarankan bahwa kecerdasan anak berasal dari kecerdasan ibu.

Selain kecerdasan anak kurang lebih bersifat bawaan atau diturunkan dari ibu, kecerdasan anak juga bersumber dari pola asuh orang tua khususnya ibu. Mengapa? Anak lebih banyak menghabiskan waktu dengan ibunya, sehingga pola asuh terutama ibu sangat mempengaruhi kecerdasan anak. Setelah melakukan kunjungan ke rumah-rumah siswa pada kegiatan Ayo School yang diselenggarakan pada program kerja Kampus Mengajar Angkatan 2, mayoritas orangtua yang berprofesi sebagai petani lebih banyak menghabiskan
waktunya di sawah atau diladang. Dan ketika malam hari sudah merasa lelah dan lebih memilih untuk beristirahat. Para orangtua juga merasa bahwa anaknya harus berinisiatif sendiri untuk belajar serta lebih menyerahkan sepenuhnya kepada guru.

BACA JUGA:  Permasalahan di Dunia Pendidikan Masih Ada, Kok Bisa?

Selain faktor bawaan, ada pula faktor lingkungan seperti perkembangan akan mengikuti pola yang berlaku umum. Perkembangan manusia akan mengikuti pola yang berlaku umum jika kondisi lingkungan mendukung. Dilihat dari kondisi umum di desa, rata-rata anak lebih banyak memilih untuk bermain serta pergi ke sawah membantu orangtua, sehingga tidak ada waktu untuk belajar.
Orang tua juga sering mengharapkan anaknya bersekolah dan diajar oleh guru, sehingga merasa bukan kewajibannya untuk mengajari anaknya membaca. Orang tua juga cenderung memanjakan anak-anak mereka dengan menciptakan kondisi bagi mereka untuk tumbuh dewasa, yang secara alami akan mendorong perkembangan mereka. Dan kemudian ada orang tua yang menyuruh anak-anaknya untuk belajar membaca saja tanpa kehadiran mereka.

BACA JUGA:  Opini - Penyebab Fraud dan Cara Mengatasi Fraud dalam Intansi Pemerintah

Oleh karena itu solusi untuk mengatasinya bagi seorang guru maupun calon guru adalah sebagai guru profesional yang bertanggung jawab atas pendidikan, staf pengajar dan juga pemimpin siswa. Sebagai guru yang memahami dan mengetahui tahapan atau tingkat kemampuan membaca anak, penting untuk menanamkan mindset pada anak tentang pentingnya membaca bagi mereka. Guru juga dapat melaksanakan kegiatan dengan memberikan kesempatan membaca yang menarik, sehingga akan meningkatkan minat baca anak sehingga tidak terfokus pada apapun selain alat bantu.
Namun yang terpenting, guru harus berkonsultasi dengan orang tua dan menjelaskan pentingnya peran orang tua dalam mendorong perkembangan kognitif dan spiritual anak di rumah dan di sekolah. Jika ini terus dibiarkan, perkembangan individu pada anak akan jauh tertinggal dibanding dengan anak-anak dengan perkembanganyang normal.

Walaupun kecepatan perkembangan anak berbeda-beda, tetapi pola perkembangannya memiliki konsistensi perkembangan tertentu. Jadi hal inilah yang mengindikasikan bahwa betapa pentingnya orangtua dan guru untuk sedini mungkin menyadari perbedaan perkembangan yang dialami oleh anak.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.