Opini  

Peranan Guru dalam Menangkal Perilaku Pergaulan Bebas Peserta Didik

Silakan Share

Ditulis Oleh: Muh Yusran I Mahasiswa Universitas Negeri Makassar

Pergaulan bebas merupakan suatu bentuk perilaku menyimpan yang terjadi pada masyarakat. Bebas sendiri dapat dimaknai sebagai sesuatu yang melampaui atau melewati batas-batas norma, baik norma agama maupun norma hukum. Pada era modernisasi seperti sekarang ini peserta didik harus diselamatkan dari pergaulan bebas. Karena globalisasi bisa dikatakan sebagai kebebasan dari segala aspek. Sehingga kebudayaan-kebudayaan asing banyak masuk dan menjadi kebiasaan bagi sebagian orang. Padahal ada aturan-aturan yang harus dipatuhi, budaya-budaya ketimuran yang mestinya diterapkan.

Permasalahan pergaulan bebas masih menjadi masalah sosial yang belum bisa diatasi secara tuntas sampai saat apalagi pada kalangan peserta didik. Ada beberapa faktor sehingga peserta didik biasanya terpapar oleh pergaulan bebas diantaranya

Faktor pertama adalah kurangnya perhatian dari orang tua. Kadangkala orang tua peserta didik sibuk dengan pekerjaannya sehingga kasih sayang yang harusnya diberikan kepada anaknya tidak terpenuhi. Berawal dari sinilah peserta didik atau seorang anak mencari perhatian di dunia luar. Bergabung dalam komunitas-komunitas yang menawarkan rasa kebersamaan yang tinggi namun menjerumuskan ke dalam pergaulan bebas.

BACA JUGA:  Stop Menjadi Guru yang Membeda-bedakan Murid

Faktor kedua adalah lingkungan peserta didik.Tak jarang peserta didik yang sudah mendapatkan kasih sayang yang cukup dari orang tuanya terjerumus dalam pergaulan bebas. Peserta didik tersebut biasanya tidak dapat memfilter  pertemanan dalam lingkungannya sehingga berpotensi terjerumus dalam pergaulan bebas. Memiliki teman dari berbagai latarbelakang (suka keluyuran, mabuk-mabukan, merokok dll) akan mempengaruhi pemikiran peserta didik. Seiring dengan berjalannya waktu karakter peserta didik akan dibentuk oleh lingkungan tempat bergaulnya dan mengakibatkan peserta didik masuk dalam pergaulan bebas.

Faktor ketiga adalah penyalahgunaan internet. Pada era modernisasi seperti sekarang ini, segala hal dapat diakses oleh peserta didik. Hal baik dan buruk bisa diakses secara bersamaan, oleh karena itu peserta didik mestinya harus didampingi dan diawasi dalam penggunaan internet. Dengan perkembangan teknologi yang pesat, banyak hal yang tidak senonoh dapat diakses dengan mudah oleh peserta didik sehingga memicu rasa penasaran peserta didik untuk melakukan hal demikian padahal peserta didik semestinya menjauhi hal tersebut dikarenakan usianya yang belum cukup.

BACA JUGA:  Ketertarikan Siswa, Guru Jangan Mau Kalah dari Teknologi

Dari beberapa uraian faktor penyebab pergaulan bebas pada peserta didik seorang guru tentunya memiliki peran dalam menangkal perilaku Pergaulan bebas. Beberapa hal yang dapat dilakukan oleh seorang guru untuk menangkal pergaulan bebas pada peserta didik diantaranya:
Melakukan pendekatan individu kepada peserta didik. Guru mestinya paham dan peka dengan perilaku peserta didik yang ditunjukkan, sehingga jika ada peserta didik yang memiliki perilaku agak berbeda dengan teman-temannya yang lain (menyimpan) maka seorang guru harus melakukan pendekatan kepada peserta didik baik secara emosional maupun sosial agar bisa mengetahui mengapa perilaku tersebut terjadi pada peserta didik. Guru mestinya bisa menjadi teman baik sehingga peserta didik terbuka dalam menceritakan hal yang membuatnya melakukan hal menyimpan atau pergaulan bebas.

BACA JUGA:  Peran Orang Tua Dalam Mendidik Anak

Jika seorang guru sudah mengetahui akar masalah dari peserta didiknya maka guru harus mampu memberikan sugesti kepada siswanya agar meninggalkan pergaulan tersebut jika hal tersebut belum berhasil maka guru bisa melakukan motode lain sesuai dengan masalah yang dihadapi oleh peserta didik.
Membuat agenda yang berkaitan dengan keagamaan. Peserta didik yang terjerumus dalam pergaulan bebas pada umumnya minim pengetahuan tentang agama. Disinilah peran guru untuk selalu menghadirkan agenda keagamaan dalam lingkup sekolah sehingga peserta didik yang kurang pendidikan tentang keagamaan dalam lingkup keluarganya bisa mendapatkan di sekolah, selain hal tersebut perlu juga dilakukan pendekatan secara individu kepada peserta didik yang terjerumus dalam pergaulan bebas. Guru juga dapat melakukan koordinasi dengan kedua orangtuanya sehingga dapat bersinergi membuat peserta didik terjauh dalam pergaulan bebas.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.