Opini  

Sekolah Online: ”Pembelajaran Guru Dominan Monoton “

Silakan Share

Ditulis oleh: St. Nurhalisa
Mahasiswa jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Universitas Negeri Makassar

PANDAMI Covid-19 memberikan dampak yang sangat besar, khususnya bagi dunia pendidikan. Dalam pembelajaran daring selama pandemi Covid-19, banyak kendala yang dihadapi seorang guru sebagai pendidik dan pengajar. Menjadi seorang guru artinya kita dituntut untuk memiliki keterampilan dalam mengelola kelas, agar pembelajaran yang kita lakukan tidak monoton.

Selama masa pandemi, tidak diragukan lagi banyak siswa yang merasa bosan dan malas akibat cara mengajar guru yang dominan itu-itu saja. Kenyataan yang telah terjadi saat ini selama pembelajaran online berlangsung, biasanya para guru hanya memberikan materi pembelajaran kemudian memberikan tugas kepada siswanya tanpa menjelaskan, yang mengakibatkan pembelajaran tersebut menjadi monoton.

Bukan hanya itu, pembelajaran online yang monoton ini juga dapat berdampak pada psikologis. Misalnya tidak terjalinnya hubungan yang baik antara pendidik dan peserta didik. Guru tidak bisa menyatukan perhatian siswa terhadap materi yang diberikan, apakah peserta didik tersebut serius dalam mengikuti pembelajarannya atau hanya sekadar menyimak tanpa mengerti apa yang telah dijelaskan oleh guru.
Selain itu, pada pembelajaran virtual juga banyak kendala-kendala yang bisa terjadi.

BACA JUGA:  Pengaruh Era Digital Terhadap Tumbuh kembang Anak

Misalmya, saat google meet sedang berlangsung sementara guru tengah menjelaska, signal tiba-tiba hilang atau jaringannya tidak stabil. Maka penjelasan guru akan tiba-tiba terputus atau tersendat-sendat. Mungkin bagi siswa yang sinyal HP-nya bagus, mereka bisa menerima pembelajaran dengan baik, tapi untuk siswa yang jaringannya kurang stabil, apalagi untuk siswa yang tinggal di kampung yang lokasinya kurang bersahabat dengan sinyal atau bahkan tidak memiliki akses sinyal sama sekali, maka otomatis siswa tidak bisa mengikuti pembelajaran dengan baik. Kendala yang lainnya sebagian siswa yang memiliki ponsel tapi terkandala dengan kuota, memang pemerintah sudah menerapkan bantuan kuota untuk pelajar tapi pembegiannya belum merata. Bahkan yang lebih tragisnya tidak semua siswa memiliki HP android, atau memang mereka tidak mampu untuk membeli HP Android.

BACA JUGA:  Guru Melek Teknologi, Siswa Termotivasi Belajar

Meskipun pembelajaran online sudah berlangsung lama, yaitu kurang lebih 4 semester, dan menerapkan sistem blanded tapi masih banyak masalah-masalah baru yang muncul. Bahkan muncul masalah baru seperti kelelahan dan kejenuhan baik bagi pihak si peserta didik maupun si pendidik. Dalam pembeljaran online, biasanya pembelajaran relatig tegang, kurang relaks dan sulit untuk berfokus pada materi pembelajaran yang dijelaskan guru, yang mengakibatkan munculnya kejenuhan dan kelelahan, guru dan siswa sama-sama tidak bersemangat dalam pembelajaran, dan ini akan berdampak pada tujuan pembelajaran.

Untuk mengatasi berbagai masalah yang muncul akibat pembelajaran online, pertama untuk menyelesaiakan masalah psikologis antara pendidik dan peserta didik, perlu diciptakan suasana yang lebih kekeluargaan antara si pendidik dan peserta didik. misalnya dengan cara mengintensifkan kemunikasi pribadi, antara guru dan siswanya. Baik itu saat pembelajaran sedang berlangsung atau saat pembelajaran sedang tidak berlangsung atau bisa dibilang di luar jam pembelajaran. Tapi lal ini dapat mengurangi jam istirahat guru dan bisa lebih memakan kuota yang lebih banyak. Namun itulah harga yang harus dibayar untuk mengurangi kesenjangan psikologis antara siswa sengan peserta didik.

BACA JUGA:  Stop Menjadi Guru yang Membeda-bedakan Murid

Kedua, untuk mengatasi pembelajaran yang diakibatkan kurangnya sinyal jaringan dan HP yang kurang memadai atau tidak memiliki kuota, solusinya ialah bagi peserta didik yang sama sekali tidak memeliki HP Andriod, pemerintah ataupun sekolah harus mampu menyiapkan dana untuk membelikan HP yang kompatibel, yang bisa digunakan dalam pembelajaran online. Untuk masalah sinyal atau jarigan yang kurang. Pihak operator seluler dan pemerintah harus turun tangan untuk memperbaiki masalah tersebut. Ini merupakan resiko kita bersama, resiko siswa, resiko guru dan juga resiko pemerintah yang harus mengatasinya secara bersama-sama.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.