Opini  

Stop Menjadi Guru yang Membeda-bedakan Murid

Silakan Share

Artikel ini ditulis oleh: Dedi Irwansyah Rusli
Mahasiswa di Universits Negeri Makassar

BERPROFESI sebagai seorang guru ternyata tidak semudah yang orang kira. Guru tidak hanya dituntut untuk mengajar dan memberikan pengetahuan kepada siswa saja berdasarkan prosedur-prosedur pendidikan yang telah ditentukan, tetapi ada banyak hal penting yang seharusnya dilakukan, seperti memberikan pendidikan emosianal dan spiritual siswa, serta menjaga hubungan baik kepada semua siswa.

Namun, tak jarang bagi beberapa murid memberikan nilai kepada seorang guru bahwa guru tersebut pilih kasih terhadap murid-muridnya. Padahal guru tersebut tak pernah ada niat membeda-bedakan murid-murid didikannya di sekolah, tapi kebiasaan dalam gaya mengajarnya di dalam kelas atau di luar kelas bisa saja menjadi penyebab munculnya penilaian tersebut.

BACA JUGA:  Pengaruh Digitalisasi Terhadap Tumbuh Kembang Anak

Beberapa kebiasaan guru yang dinilai pilih kasih oleh muridnya serta solusinya, diantara lain:

  1. Ketika dalam proses belajar dan pembelajaran guru hanya fokus pada murid yang duduk dibaris paling depan, dan tidak heran murid dibangku bagian belakang tidak fokus dalam pembelajaran karena kurang dapat perhatian oleh guru ketika mengajar. Pada situasi ini saat guru mengajar, guru harus aktif didalam kelas tidak hanya duduk dan hanya berdiri di depan kelas ketika menjelaskan materi, guru perlu mengelilingi meja-meja murid ketika menjelaskan agar fokus peserta didik berada pada materi yang disampaikan.
  2. Biasanya ketika guru mengajar akan memberikan soal contoh buatan sendiri, dan memakai nama peserta didik yang guru kenal, biasanya nama yang sering dipakai guru adala murid yang pintar atau murid yang nakal saja. Tak jarang murid lainnya akan beranggapan mereka hanya pemandu sorak dalam kelas. Pada situasi ini, guru perlu mengenal satu persatu nama anak didiknya sehingga dalam memberikan contoh ketika mengajar variasi nama yang digunakan tidak monoton dan peserta didik tidak beranggapan bahwa guru hanya memberi perhatian kepada murid itu-itu saja.
  3. Kebiasaan guru ketika mengajar, mata guru akan mengarah kepada murid yang cerdas atau murid yang duduk paling depan sambil menanyakan “apakah sudah paham?”, ini bisa membuat murid lainnya beranggapan bahwa murid yang selalu mendapatkan perhatian lebih adalah dianakemaskan ataupun murid kesayangan guru tersebut. Pada situasi ini, guru tidak seharusnya menanyakan kepada satu murid saja apakah murid tersebut sudah paham, ingat didalam kelas tidak hanya satu atau dua murid yang sedang diajar maka wajib untuk aktif berinteraksi dengan semua murid.
BACA JUGA:  Pentingnya Kesehatan Mental Terhadap Perkembangan Peserta Didik

Stop memberikan perhatian lebih kepada siswa yang lebih pandai karena yang lebih membutuhkan perhatian lebih adalah mereka yang kurang dalam memahami materi. Guru adalah orangtua kedua bagi siswa ketika di sekolah. Selayaknya orangtua, mereka adalah orang memberikan kasih sayang dan perhatian kepada semua anak-anaknya, begitulah guru yang seharusnya, kasih sayang dan perhatian tersebut harus ditujukan kepada semua siswa. Dan memang sudah menjadi watak bagi semua guru lebih suka kepada siswa-siswa pandai, tetapi tidak ada alasan untuk mengabaikan mereka yang kurang pandai.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.