
Oleh: Ahmad Basir Muin, SE
Mahasiswa Pasca Sarjana Universitas Lamappapoleonro Soppeng Angkatan I Tahun 2024
Friedrich Nietzsche, seorang filsuf Jerman yang berpengaruh, pernah berkata, “Semakin tinggi kita ingin terbang, semakin kecil kita di mata orang yang tidak punya kemampuan untuk terbang sejajar dengan kita.” Pernyataan ini mengandung makna mendalam yang dapat diterapkan dalam banyak aspek kehidupan, khususnya dalam konteks pendidikan dan pengembangan diri di dunia perguruan tinggi. Bagi banyak orang, bermimpi tinggi bisa terasa seperti tindakan yang penuh tantangan, bahkan menjadi bahan tertawaan. Namun, dalam pandangan saya, ini justru menjadi kesempatan untuk menunjukkan bahwa mimpi yang tinggi, meskipun mungkin dilihat sebagai hal yang sulit dicapai, bukanlah hal yang mustahil selama kita memiliki kemampuan dan tekad untuk terbang.
Di dunia perguruan tinggi, khususnya dalam dunia akademik, kita sering dihadapkan pada tantangan untuk memiliki cita-cita besar. Bukan hanya dari lingkungan sekitar, tetapi juga dari cara pandang orang-orang yang tidak memiliki visi yang sama, atau bahkan tidak tahu bagaimana rasanya mengejar mimpi besar. Mimpi besar tersebut bukanlah semata-mata soal meraih gelar atau jabatan, tetapi lebih kepada bagaimana kita, sebagai mahasiswa, mempersiapkan diri untuk menjadi agen perubahan dalam masyarakat.


Mengambil inspirasi dari buku Imperium yang ditulis oleh Robert Harris, kita diajak untuk merenung tentang perjalanan hidup Marcus Tullius Cicero, seorang pengacara dan senator Romawi yang memiliki ambisi besar meskipun ia memulai langkahnya sebagai seorang pemuda yang relatif tidak dikenal. Dalam dunia akademik, kita bisa menggambarkan Cicero sebagai seorang individu yang memulai perjalanan intelektualnya dengan penuh ketekunan. Seperti halnya mahasiswa pascasarjana yang berusaha untuk meraih gelar dan membawa perubahan di masyarakat, Cicero tidak terintimidasi oleh kekuatan yang ada di sekitarnya, seperti Gaius Verres yang tamak dan korup. Cicero, meskipun baru memulai karier politiknya, tidak gentar berjuang demi keadilan dan untuk menegakkan nilai-nilai kebenaran.
Dalam konteks ini, kita bisa menarik paralel antara perjuangan Cicero dan perjuangan kita sebagai mahasiswa di dunia perguruan tinggi. Saat berada di bangku kuliah, kita seringkali dihadapkan pada berbagai tekanan—baik dari teman sejawat, dosen, maupun sistem akademik itu sendiri. Namun, seperti Cicero yang menghadapi ketidakadilan dan kesulitan besar, kita pun dihadapkan pada tantangan untuk terus belajar, mengasah kemampuan intelektual, dan berjuang mempertahankan integritas meskipun banyak godaan yang bisa menghalangi kita. Integritas, sebagai salah satu nilai dasar dalam dunia akademik, menjadi fondasi yang sangat penting dalam menjalani proses pendidikan tinggi. Tanpa integritas, keberhasilan dalam dunia akademik akan terasa hampa dan tidak bermakna.

Cicero adalah contoh nyata bahwa mimpi besar dapat terwujud dengan kerja keras dan integritas. Mimpi yang dimulai dari pendidikan formal dan perjuangan intelektual yang tiada henti akhirnya membawanya pada puncak kekuasaan tertinggi di Romawi. Ini mengingatkan kita bahwa kesuksesan tidak datang begitu saja. Sebagai mahasiswa pascasarjana, kita tidak hanya dituntut untuk menguasai materi perkuliahan, tetapi juga untuk membangun karakter dan pemikiran yang dapat menginspirasi orang lain, terutama ketika kita terjun ke dunia profesional kelak. Kemampuan berpikir kritis, yang sering diajarkan di lingkungan perguruan tinggi, harus diimbangi dengan sikap ketulusan dalam memperjuangkan kebenaran dan keadilan.
Cicero mengajarkan kita bahwa ketekunan dan kejujuran, meskipun terkadang tampak seperti perjuangan berat, akan membuahkan hasil yang luar biasa. Dalam dunia akademik, kita dituntut untuk selalu berinovasi, berpikir kreatif, dan bekerja dengan etika yang tinggi, untuk memastikan bahwa setiap langkah kita tidak hanya bermanfaat untuk diri sendiri, tetapi juga untuk masyarakat luas.
Pendidikan tinggi bukan hanya tentang mengejar gelar atau meraih penghargaan. Ini adalah tentang mengembangkan diri untuk dapat berpikir secara kritis dan mengambil keputusan yang bijaksana. Dalam konteks ini, saya merasa terinspirasi oleh kehidupan Cicero, yang meskipun menghadapi banyak rintangan, tetap konsisten pada tujuannya untuk mencapai puncak kekuasaan dengan cara yang penuh integritas. Seperti halnya Cicero, kita pun harus percaya bahwa mimpi besar yang dibangun dengan dasar ilmu pengetahuan, kerja keras, dan ketulusan, dapat menjadi kekuatan yang membawa perubahan besar dalam masyarakat.
Akhir kata, mari kita terus bermimpi setinggi langit, tanpa takut dicemooh atau dianggap tidak realistis. Dalam dunia perguruan tinggi, di mana berbagai tantangan intelektual dan sosial seringkali muncul, mari kita tetap berpegang pada prinsip-prinsip yang mengedepankan kerja keras dan integritas. Seperti Cicero, kita mungkin akan menghadapi banyak hambatan, tetapi jika kita terus berusaha dan belajar, mimpi besar itu bukan hanya akan terwujud, tetapi juga membawa manfaat besar bagi banyak orang.
Ahmad Basir Muin, SE
Mahasiswa Pasca Sarjana Universitas Lamappapoleonro Soppeng Angkatan I Tahun 2024
Tinggalkan Balasan