
Besok mereka akan berdiri di depan Patung Liberty, menyaksikan simbol kebebasan yang menjadi ikon Amerika. Namun, di balik kekaguman itu, saya berharap mereka merenungkan makna kebebasan sejati. Kebebasan bukan hanya soal hak, tetapi juga tanggung jawab—tanggung jawab untuk membawa manfaat bagi umat dan bangsa.
Setelah itu, kami akan mengunjungi Masjid Al-Hikmah dan Masjid Amirul Mukminin, dua oase spiritual di tengah hiruk-pikuk Manhattan. Di sana, para mahasiswa ini akan merasakan bagaimana Islam hidup berdampingan dengan modernitas. Dalam dunia yang kadang mempersepsikan agama dan kemajuan sebagai dua hal yang bertolak belakang, masjid-masjid ini menjadi bukti nyata bahwa keduanya bisa saling melengkapi.
Kunjungan ke Times Square, Ground Zero, dan Brooklyn Bridge pun bukan sekadar wisata. Tempat-tempat ini adalah simbol dari perjalanan waktu—dari keriuhan kapitalisme hingga luka sejarah yang mengajarkan perdamaian. Setiap langkah di Manhattan ini seperti membuka lembaran demi lembaran buku yang mencatat dinamika peradaban manusia.

Hari Minggu, kami akan bertemu Konsulat Jenderal RI di New York, Bapak Winanto Adi. Pertemuan ini menjadi pengingat bahwa di mana pun kita berada, tugas seorang diplomat bukan hanya melobi, tetapi juga merawat jati diri bangsa. Di tengah arus globalisasi yang deras, identitas kita sebagai bangsa Indonesia harus tetap menjadi jangkar yang kokoh.
Melalui perjalanan ini, saya menyadari bahwa berada di panggung dunia seperti Gedung PBB tidak menjadikan kita superior, melainkan lebih bertanggung jawab. Sebagai bagian dari 193 negara anggota PBB, suara kita harus membawa pesan kedamaian, keadilan, dan kerja sama.
Perjalanan ini bukan hanya tentang melihat gedung-gedung megah atau bertemu tokoh-tokoh penting. Ini adalah perjalanan memahami bahwa setiap langkah kecil yang kita ambil—baik di lobi diplomasi maupun di ruang doa—adalah bagian dari kontribusi besar bagi dunia.
Kepada mahasiswa-mahasiswa yang ikut dalam perjalanan ini, saya berpesan: kalian adalah representasi dari Indonesia yang beriman, berilmu, dan berdaya saing global. Apa yang kalian pelajari di sini harus menjadi bekal untuk membangun bangsa.
Langit New York hari itu mengajarkan satu hal penting: masa depan bangsa tidak hanya ditentukan oleh keputusan para pemimpin dunia di meja bundar, tetapi juga oleh tekad generasi mudanya yang siap menulis babak baru sejarah. Dan semoga kita semua menjadi bagian dari cerita itu.
Menjelang malam, saat langkah-langkah kami kembali ke apartemen PTRI, bayangan hari yang baru saja dilalui terus menggelayut di pikiran. Gedung-gedung megah Manhattan seolah berbicara dalam bahasa yang universal—tentang ambisi, harapan, dan perjuangan yang tak pernah selesai.
Di sela kesunyian, saya memandang mahasiswa-mahasiswa ini, yang sebagian besar baru pertama kali menginjakkan kaki di Amerika. Ada binar di mata mereka, seperti nyala obor kecil yang menantikan angin untuk menyala lebih terang. Saya tahu, perjalanan ini akan menjadi bekal penting untuk perjalanan hidup mereka berikutnya.