📣 Ikuti saluran resmi WhatsApp kami sebelum membaca berita!

Join WhatsApp

Enrekang, Katasulsel.com – Satu tahun bukan waktu yang panjang dalam kalender kekuasaan. Tapi cukup untuk menguji: apakah janji tinggal retorika panggung, atau berubah menjadi kerja nyata di lapangan.

Di Kabupaten Enrekang, duet Bupati H. Muh. Yusuf Ritangnga dan Wakil Bupati Andi Tenri Liwang La Tinro—yang populer dengan branding politik UCU–IWAN—memasuki tahun pertama dengan narasi yang pelan namun pasti: menata fondasi, merawat kepercayaan, dan membayar “utang masa lalu”, baik secara politik maupun fiskal.

Sektor pertanian menjadi panggung utama. UCU–IWAN sadar, denyut Enrekang bergetar di sawah dan kebun. Program Jaminan Gagal Panen yang dulu dikampanyekan, kini mulai diwujudkan melalui kerja sama dengan PT Asuransi Jasa Indonesia (Jasindo). Tahap awal, 1.100 hektare sawah padi masuk skema perlindungan asuransi.

Ini bukan sekadar program teknokratis. Ini soal psikologi petani. Soal rasa aman. Soal keberanian menanam tanpa dihantui gagal panen. Pemerintah ingin menggeser paradigma “bertani penuh risiko” menjadi “bertani dengan proteksi”. Sebuah langkah yang, jika konsisten, bisa menjadi game changer di daerah agraris seperti Enrekang.

Di saat yang sama, Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan bergerak membagikan ratusan alat dan mesin pertanian—combine harvester, traktor roda dua dan roda empat—untuk pra hingga pascapanen. Modernisasi alat menjadi pesan simbolik: pertanian tak boleh lagi identik dengan kerja konvensional. Mekanisasi adalah keniscayaan.

Janji lain yang tak kalah konkret: pengadaan mobil pemadam kebakaran. Dua unit damkar baru resmi memperkuat armada, menjadikan total lima unit yang kini siaga di Enrekang. Dalam isu kebencanaan, kecepatan adalah segalanya. Pemerintah tampaknya tak ingin lagi bermain di wilayah “reaktif”, melainkan membangun kesiapsiagaan.

Namun, tahun pertama UCU–IWAN bukan tanpa turbulensi. Efisiensi anggaran dari pusat dan beban utang warisan menjadi batu sandungan. Pemerintah mengakui, ruang fiskal tak seleluasa yang dibayangkan. Progres program belum sepenuhnya akseleratif.

Data berbicara: pada 2025, pemerintah telah membayar utang sebesar Rp30,7 miliar dari total beban utang 2023–2024 yang mencapai Rp217 miliar. Ini kerja sunyi. Tidak populis. Tapi krusial untuk kesehatan keuangan daerah. Tanpa fiskal yang sehat, visi “Enrekang Sejahtera untuk Semua” hanya akan menjadi slogan kosong.

Di sektor infrastruktur, masyarakat mulai merasakan hasilnya. Jalan poros Cakke–Baraka yang bertahun-tahun menjadi keluhan klasik, kini mulus tanpa lubang dan gelombang. Anggaran lebih dari Rp22 miliar dari pusat digelontorkan untuk proyek ini. Perbaikan irigasi senilai Rp33 miliar juga menjadi kabar baik bagi petani. Tahun 2025 turut ditandai pembenahan ruas Malawwe–Surakan sepanjang 1,4 kilometer.

Infrastruktur bukan sekadar beton dan aspal. Ia adalah urat nadi ekonomi. Ia memperpendek jarak, memangkas biaya, dan mempercepat distribusi hasil bumi.

Refleksi satu tahun kepemimpinan UCU–IWAN bertepatan dengan HUT ke-66 Kabupaten Enrekang dan momentum Ramadan—bulan evaluasi sekaligus muhasabah. Publik tentu menunggu akselerasi yang lebih progresif pada tahun kedua. Fondasi sudah diletakkan. Utang mulai dicicil. Program prioritas mulai berjalan.

Tantangannya kini satu: menjaga konsistensi dan mempercepat eksekusi. Politik pencitraan tak akan cukup. Yang dibutuhkan adalah politik kinerja.

Jika tahun pertama adalah fase konsolidasi, maka 2026 harus menjadi tahun pembuktian. Sebab dalam demokrasi lokal, legitimasi tidak ditentukan oleh janji kampanye—melainkan oleh dampak nyata yang dirasakan rakyat. (ZF)