Jakarta, Katasulsel.com — Angka itu terdengar besar: 25 ton sampah. Tapi di balik tumpukan limbah pascagenangan di Kramat Jati, ada persoalan yang lebih dalam—dan terus berulang.

Bukan sekadar soal bersih-bersih. Ini tentang pola lama yang belum benar-benar putus.

Genangan akibat luapan Kali Baru dan Kali Induk sejak Sabtu malam hingga Minggu pagi bukan hanya membawa air ke permukiman warga. Ia juga menyeret sampah—dari hulu hingga hilir.

Hasilnya, dalam hitungan hari, petugas harus mengangkut sekitar 25 ton sampah dari dua wilayah terdampak.

Kelurahan Tengah menjadi titik terparah dengan sekitar 21 ton, disusul Batu Ampar sekitar 4 ton.

Pembersihan sudah dimulai sejak Senin dan ditargetkan rampung dalam waktu sepekan. Delapan armada dikerahkan—mulai dari truk besar hingga pikap—ditambah puluhan personel lintas instansi.

Advertisement

Namun di lapangan, persoalan klasik kembali muncul: akses sempit, gang padat, dan titik yang tak bisa dijangkau kendaraan.

Alhasil, sebagian sampah harus diangkut manual. Dipindahkan sedikit demi sedikit, baru kemudian dibawa ke titik yang bisa dilalui armada. Ini bukan sekadar kerja berat—tapi juga lambat.

Pihak kelurahan mengapresiasi keterlibatan lintas OPD hingga warga. Sekitar 30 petugas PPSU ikut diturunkan, menyasar titik-titik terdampak di sejumlah RT.

Kolaborasi ini jadi kunci percepatan. Tapi di sisi lain, kondisi ini juga mengulang pertanyaan lama: kenapa setiap genangan selalu diikuti banjir sampah?

Yang terlihat adalah petugas mengangkut sampah. Yang jarang dibahas adalah dari mana semua itu berasal.

Faktanya, sebagian besar sampah yang menumpuk bukan hanya dari satu wilayah. Ia terbawa arus—dari hulu, dari kebiasaan lama, dari sistem pengelolaan yang belum sepenuhnya rapi.

Artinya, pembersihan 25 ton ini bukan akhir. Bisa jadi, hanya jeda sebelum kejadian serupa terulang.

Advertisement

Target pembersihan mungkin selesai hari ini. Tapi pekerjaan sesungguhnya belum tentu ikut selesai.

Karena jika akar masalahnya tidak disentuh—mulai dari perilaku buang sampah hingga pengelolaan aliran sungai—maka angka “25 ton” itu bisa kembali muncul, dengan jumlah yang lebih besar.

Di Jakarta Timur, kisah ini bukan yang pertama. Dan mungkin bukan yang terakhir.

Sebab di balik genangan, selalu ada dua hal yang datang bersamaan: air… dan sampah. (*)

Gambar berita Katasulsel

Anda membaca Katasulsel.com, portal berita tepercaya dan berimbang.

Baca berita pilihan lainnya di saluran WhatsApp kami: Gabung di sini.