📣 Ikuti saluran resmi WhatsApp kami sebelum membaca berita!

Join WhatsApp

Makassar, katasulsel.com — Di sebuah sudut studio sederhana di Makassar, lampu kamera menyala. Host Dedi Alamsyah membuka percakapan. Durasi berjalan 40 menit 53 detik. Bukan obrolan receh. Bukan konten sensasi. Ini pengakuan panjang seorang mantan narapidana terorisme yang 17 tahun hidupnya habis di balik jeruji.

Namanya: Suryadi Mas’ud.

Ia datang ke Podcast “Kata Abangda” dengan kaus hitam polos. Rambut mulai beruban. Potongan cepak. Wajahnya tenang. Tak ada lagi aura “panglima bayangan” yang dulu disebut-sebut bergerak dari Makassar sampai Mindanao.

Tiga kali keluar-masuk penjara. Kasusnya sama: terorisme. Ia bukan pemain kelas teri. Ia mengaku bagian jaringan internasional. Bahkan pernah menyebut diri sebagai “Duta Besar ISIS Asia Tenggara”. Dan satu kalimatnya membuat ruang studio terasa berat:

“Yang mengebom katedral itu anak murid saya.”

Pengakuan yang tak dibungkus drama. Lugas. Dingin. Menohok.

Suryadi lahir di Pinrang. Anak pertama dari lima bersaudara. Ayahnya mantan TNI AD, pernah terlibat operasi melawan DI/TII. Sementara dari garis ibu, jejak ideologi DI/TII juga mengalir. Dua kutub dalam satu rumah. Ideologi dan perlawanan bercampur jadi satu.

Ia menyebut Sulawesi Selatan sebagai “hub”. Titik simpul jaringan. Dari insiden McDonald’s Makassar 2002, jejaring Bali I, latihan militer Janto Aceh 2008, hingga pusaran Sarinah 2016. Namanya juga dikaitkan dengan kamp pelatihan di Mindanao.

Semua berujung di Nusakambangan. Penjara dengan pengamanan paling ketat. Di sanalah fase gelap itu seperti dipaksa berhenti.

Namun titik baliknya justru datang setelah ia keluar.

13 Februari 2023, ia bebas bersyarat. Tiga hari pasca bebas dari penjara terketat di Indonesia, ia langsung pulang ke kampung halamannya di Malua, Enrekang. Bukan untuk sembunyi. Bukan untuk membangun jaringan baru.

Di sana ia bertemu Kasat Intelkam bersama Kapolres Enrekang saat itu. Pertemuan yang nyaris tak terekspos publik. Dari sanalah ia menyampaikan testimoni: setia kepada Pancasila dan UUD 1945.

Bagi orang yang pernah mengafirkan Indonesia, kalimat itu bukan formalitas. Itu lompatan ideologi. Sebuah “U-turn” yang tak mudah.

Prosesnya panjang. Di dalam lapas, ia mengikuti program deradikalisasi. Dialog ideologi. Pendekatan persuasif. Pembinaan ekonomi. Pendampingan keluarga. Aparat tak lagi hanya berbicara soal pasal, tapi soal masa depan.

Pendekatan soft power. Bukan sekadar “tangkap dan penjarakan”, tapi “tangkap, bina, dan pulangkan.”

Risikonya jelas. Ia dicap pengkhianat oleh lingkaran lamanya. Tapi ia memilih berdiri di sisi yang berbeda.

Awal 2025, ia ikut menggagas Yayasan Rumah Moderasi Makassar. Sekitar 80 eks napiter dibina. Mereka belajar jual kopi, bikin kue tradisional, servis handphone, buka bengkel, hingga potong ayam.

Dulu merakit bom. Kini menyiapkan etalase UMKM.

Pertengahan Maret 2026, ia bersama 11 eks napiter dan 32 anggota keluarga mereka akan terlibat sebagai relawan SPPG Polri. Mereka membantu penyediaan makanan bergizi bagi sekitar 3.000 siswa sekolah, mendukung program pemerintah di era Presiden Prabowo Subianto.

Bersambung…