📣 Ikuti saluran resmi WhatsApp kami sebelum membaca berita!
Join WhatsAppKontrasnya nyaris absurd. Dari merakit bahan peledak menjadi meracik nasi kotak.
Masa bebas bersyaratnya berakhir 9 Maret 2026. Setelah itu, ia berencana berkeliling Sulawesi Selatan. Mendatangi keluarga murid-murid yang dulu ia rekrut.
Untuk meminta maaf. Dari pintu ke pintu.
Langkah yang tidak semua orang berani ambil. Apalagi dengan masa lalu sedalam itu.
Pertanyaan besarnya: apakah ancaman terorisme di Sulsel sudah hilang?
Jawabannya belum. Ideologi bisa mati suri. Bisa beranak-pinak di ruang sunyi. Suryadi sendiri mengakui Sulawesi Selatan masih menjadi titik rawan.
Namun kisah ini memberi satu catatan penting: deradikalisasi bukan sekadar jargon rapat atau slide presentasi. Ia kerja panjang. Sunyi. Tak selalu viral. Tapi nyata.
Dari seseorang yang pernah mengafirkan Indonesia, kini berdiri seorang pria yang menyebut dirinya sahabat Polri. Publik boleh ragu. Skeptis itu sehat.
Tapi 40 menit 53 detik di Podcast “Kata Abangda” setidaknya menunjukkan satu hal: bahkan dari lorong paling gelap, seseorang masih bisa memilih jalan pulang. (ZF)






Tinggalkan Balasan