Saya melihat Zulkifli Zain sudah menunggu di lobi. Kami pun duduk di sebuah meja kopi. Suasana hotel itu elegan. Lampu-lampu hangat. Tamu hilir mudik. Ada yang datang dengan jas rapi. Ada yang terlihat seperti pebisnis.
Kami baru sekitar lima menit ngobrol.
Tiba-tiba sebuah mobil Toyota Alphard putih berhenti di depan pintu hotel.
Mobil itu pelan. Pintu terbuka.
Seorang pria turun.
Saya langsung mengenalinya.
Rusdi Masse. RMS.
Saya spontan berkata kepada Zulkifli Zain.
“Itu RMS.”
Saya memang sudah mengenalnya sejak lama. Sejak ia masih menjabat Bupati Sidrap dua periode.
Tidak lama setelah itu, RMS juga melihat ke arah kami.
Tatapannya seperti mencoba memastikan sesuatu.
Benar saja.
Ia langsung memanggil.
“Edy!”
Saya berdiri.
Kami bersalaman. Hangat. Tidak canggung. Padahal saat itu ia sudah menjadi anggota DPR RI.
Ia kemudian ikut duduk di meja kopi bersama kami.
Obrolan langsung mengalir.
Gaya RMS tidak berubah.
Santai. Langsung. Tanpa protokol yang ribet.
Ia bertanya satu per satu.
“Kapan tiba di Jakarta?”
“Kapan pulang ke Sidrap?”
“Datang sama siapa?”
Saya menjelaskan semuanya.
Kami datang 14 orang jurnalis dari Sidrap. Utusan organisasi IWO. Menginap di Asrama Haji Jakarta Timur.
Datangnya naik kapal laut dari Makassar.
Rencananya pulang juga naik kapal laut.
RMS mendengarkan dengan serius.
Lalu terjadi sesuatu yang sampai sekarang masih saya ingat jelas.

Tinggalkan Balasan