Bahkan dua periode.
Selama memimpin Sidrap, RMS dikenal sering turun langsung ke masyarakat. Tidak hanya duduk di kantor. Ia sering muncul di sawah. Di pasar. Di desa-desa.
Sidrap juga berkembang cukup pesat saat itu.
Pertanian diperkuat. Infrastruktur diperbaiki.
Setelah dua periode menjadi bupati, RMS naik kelas.
Tahun 2019 ia terpilih menjadi anggota DPR RI. Masuk Komisi III, komisi yang mengurus hukum dan keamanan.
Di Senayan, RMS tetap sama.
Tidak banyak berubah.
Gaya bicaranya tetap lugas.
Kadang keras.
Kadang langsung ke inti persoalan.
Orang sering menyebutnya gaya no nonsense politics.
Politik tanpa banyak basa-basi.
Karier politik RMS juga penuh warna.
Ia pernah berada di Golkar.
Kemudian bergabung dengan NasDem.
Dan kini membuat langkah baru dengan masuk PSI.
Langkah yang tentu saja membuat peta politik Sulawesi Selatan kembali bergerak.
Dalam dunia politik, RMS sering disebut king maker.
Tokoh yang bisa memengaruhi kemenangan seseorang dalam kontestasi.
Jaringannya luas.
Pengaruhnya kuat.
Basis massanya cukup solid.
Tapi bagi saya pribadi, RMS tidak hanya soal politik.
Cerita malam di Jakarta itu menunjukkan sisi lain.
Sisi manusiawi.
Sisi spontan.
Sisi yang jarang muncul di berita politik.
Tidak ada kamera malam itu.
Tidak ada pidato.
Tidak ada konferensi pers.
Hanya sebuah meja kopi di lobi hotel.
Dan sebuah keputusan spontan.
Memberi.
Tanpa banyak kata.
Bagi sebagian orang mungkin itu hal kecil.
Bagi kami, rombongan jurnalis dari Sidrap, itu kenangan besar.
Sekarang RMS sudah berusia 53 tahun.

Tinggalkan Balasan