📣 Ikuti saluran resmi WhatsApp kami sebelum membaca berita!

Join WhatsApp

“…Naiyya Enrekang tana rigalla, lipu riongko tana riabbusungi
naiyya Tana Makka tana mapaccing
naiyya Tana Enrekang tana salama…”

Penulis: M. Haris Syah

Enrekang mungkin bukan daerah yang bikin orang silau. Disini ‘hanya’ ada gunung, kebun bawang, nascem, dan tentu saja kopi.

Tak ada gemerlap kota besar. Gedung tinggi. Event mewah bertiket mahal. Tak usah cari THM.

Tapi di usia 66 tahun ini, Enrekang memang tidak sedang berusaha terlihat besar. Ia sedang berusaha cukup. Cukup kuat. Cukup stabil. Dan Enrekang sedang on the right track.

Setahun terakhir, ekonomi daerah tumbuh di atas lima persen. Cuma grafik di layar presentasi? tidak juga. Angka ini kelihatan di pasar yang tetap ramai. Di kebun bawang dan jagung yang tetap panen. Di peternak sapi yang tetap menyetor susu setiap pagi. Pertumbuhannya tidak meledak, tapi konsisten.

Tingkat pengangguran terbuka termasuk yang terendah. Hanya satu koma sekian persen. Hampir semua angkatan kerja punya mata pencaharian tetap. Tidak semuanya kaya. Tapi tidak pula terpinggirkan.

Angka kriminalitas juga termasuk yang paling rendah. Terutama violent crime. Konflik ada, tapi jarang membesar. Enrekang terkesan slow living, masyarakatnya rukun, kekeluargaan masih sangat kental.

Di bidang kesehatan, cakupan jaminan kesehatan hampir menyentuh seluruh warga. Penghargaan UHC tahun ini menjadi tanda akses layanan kesehatan makin merata. Orang sakit tidak harus jual ayam agar bisa berobat. Puskesmas dan rumah sakit makin andal. Nyaris tidak ada keluhan pelayanan yang sampai viral seperti di daerah lain.

Warga Enrekang juga termasuk masyarakat yang literat. Budaya bacanya melampaui rata-rata nasional. Akses pendidikan dasar-menengah cukup tinggi. Memang masih ada yang putus sekolah, tapi data ATS menunjukkan murid yang sebelumnya putus sekolah, tercatat kembali aktif belajar/melanjutkan ke PTN/PTS meski tidak ditahun yang sama. Sementara hampir 10 persen masyarakat Enrekang telah berpendidikan tinggi. Warga yang bergelar magister dan doktor diprakirakan mencapai 700 orang. Ini cerminan bahwa potensi SDM Enrekang terus tumbuh positif.

Sementara itu, Anak-anak sekolah terus hadir di pelbagai lomba. Regional bahkan nasional. Memang tidak selalu juara, tapi konsisten ada. Nama Enrekang selalu disebut. Ini semua fondasi yang sering tidak disorot, padahal di situlah masa depan sedang kita bangun.

Perlahan tapi pasti, visi Enrekang Sejahtera untuk Semua sedang dirintis.

Sejahtera bukan berarti semua orang tiba-tiba makmur. Sejahtera berarti akses terbuka. Kesempatan ada. Layanan dasar terus ditingkatkan. Pertumbuhan dapat dirasakan.

Tentu masih ada pekerjaan rumah. Masih ada petani yang butuh pupuk, usaha kecil yang butuh modal, atau masyarakat miskin yang butuh stimulus. Tapi usia 66 bukan usia selesai. Ia usia pemantapan.

Masih banyak tanjakan di depan. Tapi Ucu-Iwan sudah tahu cara mendakinya dan jalur mana yang harus dilalui.

Selamat HUT ke-66 !