Sidrap, katasulsel.com — H. Ridwan Bachtiar tidak sedang merayakan kemenangan.
Setidaknya, begitulah pengakuannya ketika mengetahui namanya berada di posisi teratas dalam polling “Camat Paling Merakyat Versi Pembaca Katasulsel.com” yang resmi ditutup pada Selasa dini hari, 3 Juni 2026.
Sebanyak 2.456 suara atau 37 persen pembaca memilih Camat Tellu Limpoe itu sebagai figur camat paling merakyat di Kabupaten Sidenreng Rappang.
Bagi sebagian orang, hasil itu adalah prestasi.
Bagi Ridwan Bachtiar, justru sebaliknya.
“Bahagia pasti. Tapi jujur, raihan ini menjadi tanggung jawab sekaligus beban besar bagi saya untuk mengemban amanah sebagai camat ke depan,” ujarnya saat ditemui katasulsel.com di kantornya, Rabu, 3 Juni 2026.
Kalimat itu terdengar sederhana. Namun jika menelusuri perjalanan hidupnya, ada alasan mengapa Ridwan memilih merespons kemenangan dengan kerendahan hati.
Sebab sebelum menjadi camat, ia sudah lebih dulu hidup bersama masyarakat.
Bahkan jauh sebelum istilah “camat merakyat” ramai diperbincangkan.
Ridwan memulai karier sebagai aparatur sipil negara pada tahun 1998 di Departemen Penerangan Kabupaten Polewali Mamasa.
Dua tahun kemudian, ia hijrah ke Sidrap dan dipercaya menjadi Juru Penerang di Kecamatan Pitu Riase.
Kariernya kemudian bertumbuh perlahan, tanpa lompatan-lompatan besar.
Tahun 2001 menjadi Sekretaris Kelurahan Wette’e.
Tahun 2003 dipercaya sebagai Lurah Massepe.
Lima tahun kemudian memimpin Kelurahan Arateng.
Setelah itu, ia pernah bertugas sebagai staf Perpustakaan Daerah pada 2018, Sekretaris Camat Panca Lautang pada 2020, staf Sekretariat Daerah tahun 2022, hingga akhirnya dilantik sebagai Camat Tellu Limpoe pada 28 Oktober 2025.
Pelantikan itu sendiri berlangsung dalam suasana yang tidak biasa.
Bukan di ruang megah pemerintahan.
Melainkan di pelataran Pasar Pangkajene.
Saat itu wilayah Amparita sedang menghadapi ancaman banjir yang menjadi perhatian serius pemerintah daerah.
Mungkin tak banyak yang tahu, jabatan camat yang kini disandang Ridwan merupakan buah dari perjalanan panjang hampir tiga dekade mengabdi di birokrasi.
Lebih dari 17 tahun ia menghabiskan waktunya sebagai lurah.
Ditambah sekitar dua setengah tahun sebagai sekretaris camat.
Waktu yang cukup panjang untuk memahami denyut kehidupan masyarakat dari dekat.
Ada satu catatan menarik yang kini kembali diingat banyak orang.
Jauh sebelum polling Katasulsel.com digelar, Ridwan ternyata pernah mencatat prestasi serupa.
Tahun 2004, ia dinobatkan sebagai Juara Harapan I Lurah Merakyat se-Ajatappareng.
Dua puluh dua tahun berlalu.
Penghargaan berganti.
Generasi berubah.
Tetapi citra yang melekat pada dirinya tetap sama.
Merakyat.
Mungkin karena sejak dulu ia tidak hanya hadir sebagai pejabat pemerintahan.
Ia juga menjadi bagian dari berbagai kegiatan sosial dan kemasyarakatan.
Di Tellu Limpoe, sosok Ridwan lebih sering ditemukan di tengah warga dibanding di balik meja kantor.
Ia hadir dalam kegiatan gotong royong, acara keagamaan, musyawarah kampung, hingga penanganan persoalan sosial masyarakat.
Sebagai putra asli Tellu Limpoe, ia merasa tidak sedang memimpin orang lain.
Ia merasa sedang berada di tengah keluarganya sendiri.
“Warga Tellu Limpoe adalah keluarga. Sijing sumpullolo. Karena berada di tengah keluarga, saya optimis membangun kerja sama yang kuat untuk kemajuan daerah ini,” katanya.
Sejak dipercaya menjadi camat, fokus utamanya tidak muluk-muluk.
Persoalan sampah menjadi perhatian serius.
Begitu pula penguatan kehidupan sosial kemasyarakatan.
Menurutnya, pelayanan terbaik bukanlah pelayanan yang mewah, melainkan pelayanan yang tulus.
Karena itu ia selalu menanamkan prinsip melayani dengan ikhlas dan humanis.
Pengalaman yang paling membekas selama menjabat camat adalah saat mendampingi Bupati Sidrap selama dua hari dua malam dalam penanganan pasca-banjir di Amparita.
Ia juga mengingat momen ketika bersama Wakil Bupati mengawali gerakan penanganan sampah di kawasan Bulu Lowa.
Baginya, kepemimpinan bukan soal memberi perintah.
Tetapi soal hadir ketika masyarakat membutuhkan.
Di balik aktivitas pemerintahan yang padat, Ridwan adalah sosok kepala keluarga.
Ia didampingi sang istri, Hj. Marwah.
Pasangan ini dikaruniai empat anak, yakni Imama Yazid Ridwan, A. Ainur Ridho Ridwan, A. Jazil Ammar Ridwan, dan Rafifatu Rifda Ridwan.
Keluarga menjadi sumber energi yang membuatnya tetap teguh menjalani tugas pelayanan publik.
Lalu apa sebenarnya makna “Camat Merakyat” menurut Ridwan Bachtiar?
Jawabannya sederhana.
Pemimpin yang memiliki kedekatan emosional dengan masyarakat.
Hadir sebagai pelayan warga.
Melayani dengan cara-cara yang manusiawi.
Mungkin itulah sebabnya nama Ridwan Bachtiar kembali muncul sebagai pilihan masyarakat.
Dari Lurah Merakyat Ajatappareng tahun 2004 hingga Camat Paling Merakyat versi pembaca Katasulsel.com tahun 2026.
Dua penghargaan yang dipisahkan rentang waktu lebih dari dua dekade.
Namun memiliki pesan yang sama.
Bahwa jabatan bisa berubah.
Kursi bisa berganti.
Tetapi kedekatan dengan rakyat selalu menemukan jalannya sendiri untuk dikenang. (*)
