
Pagi itu, aroma kopi dan tawa menyelimuti Aula Kodim 1420/Sidrap. Seorang komandan baru menunjukkan sisi manusiawi TNI: disiplin, humoris, dan dekat dengan rakyat.

Penulis: Edy Basri
Saya tiba di Aula Kodim 1420/Sidrap sepuluh menit lebih awal, lebih pagi dari yang lain. Udara pagi hangat, tapi ada aroma berbeda yang menyelimuti aula: kopi yang baru diseduh dan tawa yang siap merekah.
Di sudut aula, beberapa jurnalis sudah mulai bercakap, membuka laptop, dan menyiapkan catatan. Namun, aura berbeda itu datang dari satu sosok: Letkol Inf Andi Zulhakim Asdar, S.H.I., M.H.I., Dandim 1420/Sidrap yang baru menjabat.
Ketika beliau naik ke podium, suasana berubah. Senyum lebar, tatapan hangat, dan bahasa tubuh yang santai langsung mencairkan formalitas yang biasanya melekat pada acara militer.
“Saya masuk AKABRI TNI-AD dengan harapan bisa keliling Indonesia. Dan ternyata benar,” ujarnya sambil menoleh ke arah kami, para jurnalis, menambahkan senyum khasnya yang membuat hati hangat.
Dandim mulai bercerita tentang perjalanan kariernya. Tugas ke berbagai daerah dalam negeri, misi luar negeri yang menambah wawasan, dan pengalaman yang membentuknya menjadi sosok pemimpin yang santai tapi tegas. Semua disampaikan dengan bahasa ringan, humoris, tapi sarat makna.
Asal-usulnya juga menarik. Putra Pammana, Kabupaten Wajo, hanya sekitar 75 kilometer dari Sidrap, ia adalah keturunan bangsawan.
Gelar Andi yang melekat pada namanya menjadi simbol tradisi Bugis. Namun yang membuatnya dekat dengan semua orang bukan gelar atau darah bangsawan, melainkan cara ia bercerita: ringan, akrab, penuh humor, tapi tetap menyentuh sisi serius profesionalisme TNI.
Yang membuat tawa pecah di awal adalah pengakuannya tentang istrinya. “Saya tidak tahu pasti darah daerah mana yang mengalir. Campuran, katanya,” ujarnya sambil tertawa lepas. Tawa itu menular, bahkan saya, yang biasanya serius mencatat, ikut tersenyum. Inilah sisi manusiawi Dandim, seorang pemimpin yang bisa bercanda tentang hal-hal personal tanpa kehilangan wibawa.
Acara Coffee Morning bertema “Profesionalisme TNI untuk Rakyat” ini awalnya terasa formal, tapi gaya Dandim membuat semuanya hangat.
Ia menekankan pentingnya pers sebagai “mata dan telinga” TNI di wilayah, namun cara penyampaian pesan itu berbeda: bercampur canda ringan, analogi sehari-hari, dan bahasa yang mudah dipahami.
“Kalau kita tidak dekat dengan media, bagaimana informasi sampai ke rakyat dengan benar?” ujarnya sambil menyesap kopi. Ada jeda sejenak, lalu ia menambahkan, “Kalau terlalu pahit, ya tinggal tambah gula, hehe.” Semua orang tertawa. Bukan hanya tawa untuk lelucon, tapi tawa yang membuat pesan serius tentang sinergi TNI dan pers tersampaikan dengan alami.
Mayor Inf Wahyudi, Kasdim 1420/Sidrap, dan para Danramil duduk di sekitarnya, tapi tetap saja Dandim menjadi pusat perhatian. Ia menceritakan program-program Kodim, mulai dari Koperasi Desa Merah Putih, pembentukan Batalyon Teritorial, hingga penguatan ekonomi kerakyatan. Semua disampaikan dengan analogi sederhana, sehingga konsep militer dan pembangunan terdengar dekat dengan kehidupan warga biasa.
Percakapan semakin hidup saat beberapa jurnalis mulai bertanya. Dandim menjawab serius, tapi tetap menambahkan komentar ringan.
Misalnya soal tantangan TNI dalam mendukung program pemerintah: “Tantangan? Banyak. Tapi kalau tidak ditertawakan dulu, bisa stres sendiri. Jadi kita harus pandai bercanda, tapi tetap bekerja keras.” Sekali lagi, tawa pecah, tapi makna tetap tersampaikan.






Tinggalkan Balasan