Wajo, katasulsel.com — Waktu berjalan, jabatan berganti, tetapi nasib Jembatan Gantung Laikki di Kecamatan Belawa seolah tak pernah ikut berubah.

Hampir satu tahun Andi Rosman menjabat sebagai Bupati Wajo, jembatan yang menjadi urat nadi menuju Desa Sappa itu masih berdiri dalam kondisi yang sama: rapuh, goyang, dan membahayakan keselamatan warga.

Di atas jembatan tua itu, denyut kehidupan masyarakat Belawa tetap dipaksa bergerak. Anak-anak sekolah, petani, pedagang kecil, hingga ibu rumah tangga melintas setiap hari dengan kewaspadaan penuh.

Bukan karena mereka tak paham risiko, melainkan karena jembatan tersebut adalah satu-satunya akses alternatif yang tersedia.

Pantauan di lapangan menunjukkan kerusakan pada bagian pondasi dan penyangga semakin nyata. Struktur jembatan kehilangan kekokohannya, bergoyang hebat saat dilalui, bahkan oleh pejalan kaki. Usia jembatan yang tak lagi muda berpadu dengan minimnya perawatan, menciptakan potret infrastruktur yang seolah luput dari prioritas.

Ironisnya, cerita kecelakaan bukan lagi kabar baru. Sejumlah warga mengaku pengguna jembatan pernah terjatuh akibat kehilangan keseimbangan saat melintas. Namun, peristiwa demi peristiwa itu tampaknya belum cukup kuat menggugah respons cepat dari pemerintah daerah.

“Ini jembatan penting. Kalau ke sekolah, ke kebun, atau ke pasar, kami lewat sini semua,” ujar Rina, seorang warga dengan nada pasrah. Kalimat singkat itu menyiratkan kritik panjang terhadap absennya solusi konkret.

Hampir setahun kepemimpinan Andi Rosman seharusnya cukup untuk melakukan peninjauan, setidaknya memberi sinyal bahwa keselamatan warga Belawa menjadi perhatian. Namun hingga kini, Jembatan Laikki masih setia menunggu—menunggu perhatian, menunggu tindakan, dan menunggu kepastian.

Di tengah berbagai agenda pembangunan dan pencitraan kinerja, kondisi jembatan ini menghadirkan pertanyaan mendasar: sejauh mana pembangunan menyentuh kebutuhan paling dasar warga? Sebab bagi masyarakat Desa Sappa dan sekitarnya, pembangunan bukan soal wacana besar, melainkan soal bisa melintas tanpa rasa takut.

Kerusakan Jembatan Gantung Laikki jelas telah masuk kategori darurat. Warga berharap Pemkab Wajo segera turun tangan sebelum jembatan ini benar-benar runtuh, dan perhatian baru datang setelah korban berjatuhan. Harapan itu kini menggantung, setipis kabel jembatan yang menahan langkah mereka setiap hari. (*)