Edy Basri EDITOR
Redaktur Katasulsel.com yang mengawal isu publik dan dinamika pembangunan daerah.
Artikel: 370 Lihat semua

Makassar, katasulsel.com — Isu kepindahan Rusdi Masse Mappasessu (RMS) dari NasDem ke Partai Solidaritas Indonesia (PSI) bukan lagi sekadar desas-desus. Ia telah menjadi wacana serius yang bergaung di ruang-ruang politik Sulawesi Selatan hingga Jakarta. Jika benar terjadi, maka ini bukan sekadar perpindahan kartu anggota partai, melainkan pergeseran orientasi politik seorang elite regional yang selama ini dikenal matang membaca arah angin kekuasaan.

RMS bukan politisi sembarangan. Ia adalah figur dengan jaringan elektoral kuat di Sulsel, terutama di Dapil III, serta rekam jejak panjang dalam membangun basis politik dari bawah. Ketika figur sekelas RMS memilih meninggalkan NasDem—partai mapan dengan struktur dan kursi kekuasaan yang stabil—itu mengirimkan sinyal kuat: ada sesuatu yang sedang berubah dalam peta kekuasaan nasional.

Dalam politik Indonesia, perpindahan partai jarang dilandasi perbedaan ideologis. Yang lebih dominan adalah akses terhadap pusat pengambilan keputusan. PSI, dalam beberapa waktu terakhir, dipersepsikan semakin dekat dengan poros kekuasaan nasional. Meski secara elektoral belum besar, PSI menawarkan sesuatu yang tak dimiliki banyak partai lain: kedekatan simbolik dan strategis dengan kekuasaan baru.

Bagi RMS, bergabung dengan PSI bisa dibaca sebagai upaya reposisi politik—berpindah dari partai besar yang mulai

stagnan secara peran, menuju partai kecil yang sedang naik daun secara akses.

Bagi NasDem, kepergian RMS akan menjadi kehilangan signifikan. RMS adalah aset elektoral dan simbol kekuatan partai di Sulsel. Tanpanya, NasDem harus bekerja lebih keras menjaga konsolidasi basis suara, terutama di wilayah yang selama ini menjadi lumbung dukungan RMS.

Namun politik selalu menyediakan kompensasi. Justru di titik inilah NasDem dihadapkan pada pilihan penting: mempertahankan dominasi figur lama, atau memberi ruang regenerasi. Mekanisme PAW membuka peluang bagi kader seperti Putriana Hamda Dakka untuk tampil dan membangun identitas politiknya sendiri.

Bagi PSI, masuknya RMS akan menjadi lonjakan simbolik. Partai yang kerap dicap sebagai partai urban dan anak muda itu akan memperoleh figur berpengalaman, berjejaring kuat di daerah, serta memiliki basis suara riil. Ini mempertebal kesan bahwa PSI sedang serius membangun mesin politik hingga ke daerah.

Lebih dari itu, RMS bisa menjadi jembatan PSI ke pemilih tradisional—segmen yang selama ini sulit disentuh PSI.

Bersambung…

Gambar berita Katasulsel

Anda membaca Katasulsel.com, portal berita tepercaya dan berimbang.

Baca berita pilihan lainnya di saluran WhatsApp kami: Gabung di sini.