Makassar, katasulsel.com — Di tengah riuh spekulasi politik pasca-Pemilu dan dinamika pergeseran elite, satu pernyataan tegas datang dari jantung kekuasaan lokal Sulawesi Selatan. Sekretaris DPW Partai NasDem Sulsel, Syaharuddin Alrif, memaku sikap politiknya: tetap bersama NasDem, partai yang telah menjadi rumah ideologis dan kendaraan elektoralnya selama lebih dari satu dekade.

Pernyataan ini bukan sekadar klarifikasi, melainkan penegasan garis politik (political stance) yang menutup rapat manuver-manuver rumor soal kemungkinan hijrahnya Syahar ke partai lain, termasuk PSI maupun partai berlogo gajah yang belakangan ramai dibicarakan dalam bursa migrasi kader.

“Saya di Partai NasDem sudah lebih 14 tahun. Tidak mungkin saya tinggalkan. Intinya, saya ini NasDem,” tegas Syahar, Sabtu (17/1).

Bagi Katasulsel.com, kalimat itu bukan bahasa normatif. Itu adalah sinyal loyalitas struktural, pesan politik ke dalam (internal party consolidation) sekaligus ke luar (public positioning), bahwa Syahar tidak sedang bermain dua kaki di tengah turbulensi elite.

NasDem sebagai Jalan Karier dan Ideologi

Rekam jejak Syahar di NasDem bukan karier instan. Ia tumbuh dari rahim partai sejak Pemilu 2014, menapaki jalur legislatif sebagai Anggota DPRD Sulsel, Wakil Ketua Komisi E, hingga Wakil Ketua DPRD Sulsel di dua periode berbeda. Dalam terminologi politik, ini adalah kaderisasi organik, bukan kader karbitan.

Pada Pemilu 2024, Syahar bahkan berada di titik puncak karier legislatif—berpeluang besar menduduki kursi Ketua DPRD Sulsel. Namun, ia memilih turun gelanggang eksekutif, bertarung di Pilkada Sidrap, dan menang. Sebuah keputusan politik yang mencerminkan keberanian mengambil risiko (political risk-taking), bukan sekadar mengejar jabatan aman.

Kini, sebagai Bupati Sidrap 2025–2030, Syahar berada pada posisi strategis: kepala daerah aktif sekaligus elite partai. Kombinasi ini membuat setiap gerakannya tak bisa dibaca remeh dalam peta kekuatan NasDem Sulsel.

Soal RMS, Syahar Pilih Jalur Etis

Terkait isu besar lain—wacana kepindahan Rusdi Masse Mappasessu (RMS) ke PSI—Syahar memilih sikap low profile dan etis. Ia menolak berspekulasi, menunggu fakta administratif berupa surat resmi.

“Nanti kita lihat. Sampai sekarang saya belum melihat suratnya,” ujarnya singkat.

Sikap ini mencerminkan etika politik internal, menghindari konflik terbuka sebelum ada kepastian struktural. Namun di saat yang sama, Syahar mengingatkan satu hal penting: NasDem adalah partai besar yang dibangun dengan keringat kolektif, bukan kendaraan sementara.

Ajakan menjaga soliditas partai adalah pesan konsolidatif di tengah potensi fragmentasi elite—sebuah upaya merawat party cohesion di masa transisi.

Bursa Ketua DPW: Syahar di Pusat Orbit

Nama Syahar kini santer disebut sebagai salah satu kandidat kuat Ketua DPW NasDem Sulsel jika RMS benar-benar hengkang. Bersanding dengan figur nasional seperti Wakil Gubernur Sulsel Fatmawati Rusdi dan Anggota DPR RI Rudianto Lallo, posisi Syahar berada di lingkar inti kekuasaan partai.

Namun, seperti politisi matang lainnya, Syahar menolak tampil ambisius.

“Saya tidak pernah berpikir soal jabatan. Jabatan itu mengikuti kerja. Saya hanya bekerja sesuai arahan Ketua RMS,” katanya.

Pernyataan ini bisa dibaca sebagai narasi kerendahan hati politik, tetapi juga sinyal bahwa Syahar memahami hukum tak tertulis dalam partai: loyalitas, kerja, dan waktu akan menentukan posisi.

Catatan Redaksi

Di tengah iklim politik yang cair dan penuh lompatan ideologis, sikap Syaharuddin Alrif adalah anomali yang justru menjadi kekuatan. Ia memilih konsistensi di saat banyak elite tergoda fleksibilitas. Dalam politik, loyalitas memang tak selalu populer, tapi sering kali menentukan siapa yang bertahan dalam jangka panjang.

NasDem Sulsel kini berada di persimpangan. Dan Syahar, sadar atau tidak, telah menempatkan dirinya sebagai salah satu poros stabilitas dalam turbulensi itu.