
Makassar, katasulsel.com — Di internal Partai NasDem, Syaharuddin Alrif kerap dipersepsikan sebagai representasi kader yang tumbuh dari proses, bukan hasil instan.
Bergabung sejak 2012—fase krusial ketika NasDem masih membangun fondasi sebagai partai politik—ia termasuk generasi awal yang menyaksikan langsung transformasi gagasan restorasi menjadi kekuatan elektoral nyata.
Citra yang melekat pada Syaharuddin Alrif di lingkungan NasDem adalah konsistensi. Ia dikenal tidak berpindah haluan di tengah dinamika politik yang fluktuatif.
Dalam kultur partai yang menjunjung loyalitas garis komando, sikap tersebut menjadi modal simbolik yang bernilai tinggi, terutama di mata pimpinan pusat.
Selama menjalani peran struktural, Syaharuddin Alrif lebih banyak bekerja di ruang sunyi organisasi.
Sebagai Sekretaris DPW NasDem Sulsel, ia identik dengan figur penghubung: menjembatani kepentingan pusat dan daerah, merawat komunikasi antarstruktur, serta memastikan mesin partai tetap bergerak meski tekanan politik datang silih berganti.
Peran ini membentuk citranya sebagai organisator, bukan sekadar orator.
Di mata Ketum Umum (Ketum) NasDem, ia dipandang sebagai figur yang memahami “DNA NasDem”—partai yang menekankan rasionalitas politik, meritokrasi, dan disiplin struktur. Ia tidak tampil konfrontatif, tetapi efektif menjaga ritme organisasi.
Dalam politik internal, tipologi seperti ini sering kali lebih menentukan dibanding figur yang mengandalkan popularitas semata.
Citra Syaharuddin Alrif juga dibangun dari kemampuannya mengawinkan kerja partai dengan praktik pemerintahan. Ia termasuk kader yang mampu menerjemahkan garis politik NasDem ke dalam kebijakan publik tanpa menabrak batas institusional.
Hal ini memperkuat persepsi bahwa ia bukan hanya kader ideologis, tetapi juga eksekutor kebijakan yang pragmatis dan terukur.
Dari perspektif Dewan Pimpinan Pusat, kader dengan rekam jejak panjang sejak fase awal partai memiliki nilai strategis tersendiri. Mereka membawa memori organisasi, memahami sejarah konflik dan konsolidasi, serta relatif minim risiko disrupsi internal. Dalam konteks inilah, citra Syaharuddin Alrif menguat sebagai figur stabilisator.
Di tengah dinamika politik NasDem Sulsel yang memasuki fase transisi, pengalaman panjang Syaharuddin Alrif sejak 2012 hingga 2026 membentuk satu narasi utama: ia adalah produk kaderisasi, bukan kompromi sesaat.
Citra tersebut menjadikannya relevan bukan hanya sebagai calon pemimpin struktural, tetapi sebagai simbol kesinambungan politik NasDem di Sulawesi Selatan.
Dalam politik, citra bukan sekadar persepsi publik, melainkan refleksi dari jejak panjang dan pilihan konsisten. Dan dalam lanskap NasDem, Syaharuddin Alrif telah membangun citra itu melalui waktu, kerja organisasi, dan kesetiaan pada garis partai. (*)






Tinggalkan Balasan