
Dalam politik, tidak semua perpindahan kader memiliki bobot yang sama. Ada migrasi yang bersifat administratif, ada pula yang bersifat seismik, menggeser lapisan terdalam peta kekuasaan.

Oleh: Edy Basri
Kepindahan Rusdi Masse Mappasessu (RMS) dari Partai NasDem ke Partai Solidaritas Indonesia (PSI) jelas masuk kategori kedua.
Ini bukan sekadar soal pindah baju partai. Ini adalah pergeseran poros, redistribusi pengaruh, dan pertaruhan masa depan kekuatan politik di Sulawesi Selatan. RMS bukan figur biasa. Di wilayah ini, ia telah lama berperan sebagai political broker, king maker, sekaligus mesin elektoral yang bekerja senyap namun efektif.
RMS memiliki kombinasi langka dalam politik lokal: basis massa kultural yang solid, jejaring ekonomi-politik yang luas, serta pengalaman mengelola kekuasaan secara struktural. Ketika figur dengan karakter seperti ini berpindah, yang ikut bergerak bukan hanya kartu keanggotaan, tetapi juga loyalitas politik, sumber daya, dan persepsi publik.
Bagi PSI, masuknya RMS adalah momentum strategis yang sulit diulang. Selama ini, PSI kerap ditempatkan sebagai partai ceruk—kuat di wacana, tajam di media sosial, namun terbatas secara elektoral di luar basis urban. Kehadiran RMS mengubah lanskap itu. PSI kini tidak hanya membawa gagasan, tetapi juga instrumen kemenangan.
Dengan RMS, PSI memperoleh apa yang selama ini kurang dimiliki: figur lokal dengan akar sosial kuat dan kemampuan konsolidasi lapangan. Ini adalah lompatan dari politik simbolik menuju politik operasional. Dari sudut pandang elektoral, PSI kini memiliki akses langsung ke simpul-simpul kekuasaan lokal, dari desa hingga jejaring ekonomi daerah.
Tak mengherankan jika RMS disambut dengan karpet merah politik. Ia tidak diposisikan sebagai pelengkap, melainkan sebagai ikon regional, simbol ekspansi PSI di luar Pulau Jawa. Di lingkaran internal partai, Sulsel bahkan mulai diproyeksikan sebagai kandang politik baru, menyusul basis kuat PSI di Jawa Tengah.
Efek paling nyata dari masuknya RMS adalah perluasan spektrum pemilih. PSI yang selama ini identik dengan pemilih muda dan urban, kini mulai menembus segmen pemilih tradisional dan kultural—wilayah yang selama ini menjadi arena partai-partai mapan. Dalam logika politik elektoral, inilah kunci kemenangan: koalisi sosial yang luas, bukan sekadar ceruk ideologis.
Sementara itu, di sisi lain, NasDem menghadapi fase yang tidak ringan. Kehilangan RMS berarti kehilangan figur sentral yang selama ini menjadi penggerak utama partai di Sulsel. RMS bukan hanya penyumbang suara, tetapi juga penjaga stabilitas internal, perekat jaringan, dan aktor penting dalam distribusi sumber daya politik.
Langkah cepat NasDem menunjuk Syaharuddin Alrif sebagai Ketua DPW adalah upaya menjaga kontinuitas organisasi. Secara struktural, ini langkah rasional. Namun politik tidak berhenti pada struktur. Politik juga berbicara tentang karisma, resonansi publik, dan daya magnet figur.
Syaharuddin Alrif dikenal sebagai organisator yang rapi dan loyal. Namun tantangan terbesarnya adalah membangun daya ikat elektoral yang selama ini melekat pada RMS. Dalam politik lokal, figur bukan sekadar pemimpin, tetapi juga simbol harapan dan representasi kekuasaan.
Tantangan utama NasDem saat ini adalah konsolidasi dan loyalitas. Sejarah politik menunjukkan, migrasi elite seringkali diikuti oleh pergeseran kader di bawahnya. Karena itu, NasDem kini berada dalam fase politik defensif: menjaga barisan, mengamankan struktur, dan memastikan tidak terjadi eksodus lanjutan.
Secara jangka pendek, NasDem masih diuntungkan oleh jaringan organisasi yang mapan. Namun struktur tanpa figur yang kuat berisiko menjadi mesin tanpa bahan bakar. Jika partai ini gagal melahirkan figur baru dengan daya elektoral sepadan, maka penurunan kekuatan di Sulsel menjadi risiko yang nyata.
Bersambung…






Tinggalkan Balasan