Parepare, Katasulsel.com — Kota Parepare tidak sedang sekadar dihiasi bendera. Ada pesan yang sedang dikirim. Perlahan, tapi terasa. Mobil-mobil berbalut warna merah PSI mulai hilir-mudik. Bendera berkibar di sejumlah ruas jalan. Baliho muncul tanpa teriakan, namun cukup untuk menandai satu hal: Parepare ikut mengambil posisi menjelang Rapat Kerja Wilayah dan Rapat Kerja Nasional Partai Solidaritas Indonesia (PSI) di Makassar.
Rakerwil PSI Sulawesi Selatan dijadwalkan berlangsung Rabu, 28 Januari 2026, dirangkai dengan pelantikan pengurus wilayah. Sehari setelahnya, 29–31 Januari, Rakernas PSI digelar dengan tema besar “PSI Rumah Bersama, Politik Terbuka, Kerja Nyata untuk Indonesia.” Tema yang, setidaknya di Parepare, mulai diterjemahkan dalam simbol dan gerak awal.
Bagi PSI Parepare, momentum ini bukan seremoni belaka. Ketua PSI Kota Parepare, Syamsul Rijal Madani, menyebut kesiapan struktur dan kader untuk hadir langsung di Makassar. Puluhan pengurus dijadwalkan berangkat, membawa serta satu pesan yang ingin ditegaskan: meski baru, mereka tidak ingin menjadi penonton.
“PSI di Parepare memang masih seumur jagung. Kami orang-orang baru di politik. Tapi tanggung jawab dan kebersamaan kami besar,” kata Rijal.
Ia tidak menutup mata pada fakta bahwa PSI belum memiliki kursi di parlemen. Namun, menurutnya, politik tidak selalu dimulai dari kursi. Kadang, ia tumbuh dari konsistensi membangun jaringan, kepercayaan, dan keberanian mengambil peran di luar kekuasaan formal.
Di titik inilah Parepare menjadi menarik. Di tengah status PSI yang masih merintis, muncul sinyal lain yang lebih strategis:
“Tokohnya masyarakat Parepare pasti kenal. Tidak asing. Tapi beliau minta dirahasiakan dulu,” ujarnya singkat.
Kerahasiaan itu justru memperkuat spekulasi. Dalam politik lokal, sinyal sering kali lebih keras dari pengumuman resmi. Ketika tokoh-tokoh yang sudah mapan mulai melirik partai yang belum mapan, ada dua kemungkinan: mereka melihat ruang baru, atau membaca arah angin yang sedang berubah.
Parepare, sebagai kota dengan sejarah politik yang dinamis, kerap menjadi laboratorium kecil bagi pergeseran besar. Masuknya tokoh-tokoh lokal ke PSI—jika benar terjadi—akan menjadi suntikan legitimasi sekaligus ujian konsistensi bagi partai yang mengusung jargon politik super terbuka.
Rijal menyadari sepenuhnya tantangan itu. Ia menyebut PSI sebagai “partai milik masyarakat”, sebuah klaim yang indah di atas kertas, tapi berat dalam praktik. “Suara partai adalah suara masyarakat. Karena itu kami mohon restu warga Parepare untuk ikut membangun kota ini lewat jalur politik,” katanya.
Di tengah gegap gempita Rakernas PSI di Makassar, Parepare tampak memilih cara sendiri untuk bersuara: tidak gaduh, tapi penuh isyarat. Branding bergerak, kader bersiap, dan tokoh-tokoh mulai melirik.
Apakah Parepare akan menjadi pintu masuk PSI untuk memperluas pengaruhnya di Sulawesi Selatan? Atau sekadar persinggahan awal sebelum panggung nasional?
Jawabannya mungkin tidak diumumkan di podium Rakernas. Tapi tanda-tandanya sudah mulai terlihat di jalan-jalan Parepare. (*)


Tinggalkan Balasan