Katasulsel.com — Waktu berjalan cepat bagi kalender. Tapi tidak selalu bagi perasaan. Dua bulan setelah resmi menyandang status janda, Dahlia Poland mulai bicara pelan-pelan tentang masa depan—tanpa gegabah, tanpa drama.

Pernikahannya dengan Fandy Christian telah resmi berakhir pada 27 November 2025. Palu hakim Pengadilan Agama Badung, Bali, menutup satu bab yang telah berjalan hampir satu dekade. Rumah tangga yang dibangun sejak usia belia itu selesai di meja hijau.

Kini, Dahlia tidak lagi menyebut diri sebagai istri. Tapi juga belum menutup pintu sebagai perempuan yang ingin dicintai lagi.

Dalam sebuah perbincangan santai, aktris 28 tahun itu mengungkap tiga hal yang kini menjadi kriteria utamanya. Tidak muluk. Tidak romantis berlebihan. Justru sangat mendasar.

Aman. Nyaman. Damai.

Bagi Dahlia, rasa aman dan nyaman adalah satu paket. Ia ingin berada di dekat seseorang tanpa harus berpura-pura menjadi versi lain dari dirinya.

Ia ingin bisa menjadi dirinya sendiri. Bicara apa adanya. Tertawa dengan sisi “petakilan”-nya. Tanpa rasa takut dihakimi.

Damai menjadi kata ketiga—dan mungkin yang paling penting. Sebuah kondisi batin yang jarang dibicarakan, tapi selalu dicari setelah melewati perpisahan panjang.

Meski tak lagi sebagai pasangan, hubungan Dahlia dan Fandy berjalan tanpa bara. Tidak ada perang dingin. Tidak pula drama lanjutan. Keduanya memilih jalan yang lebih dewasa: berteman.

Komunikasi tetap terjaga. Urusan anak menjadi prioritas bersama. Hak asuh dijalani fleksibel, menyesuaikan jadwal kerja masing-masing.

Kadang anak-anak bersama ayahnya. Kadang bersama ibunya. Bahkan, Dahlia beberapa kali menginap di rumah Fandy—bukan untuk mengulang masa lalu, melainkan menemani anak-anak tidur.

Perceraian itu, bagi Dahlia, membawa rasa lega. Tapi juga kehilangan kecil yang tak bisa dipungkiri. Rutinitas sederhana bersama anak-anak—menjelang tidur, bangun pagi—menjadi hal yang paling dirindukan.

Namun ia menerima semuanya sebagai konsekuensi hidup. Dengan kesadaran penuh.

Di tengah percakapan yang sama, Dahlia juga menepis isu lama yang kembali muncul: tudingan child grooming. Ia menegaskan, pernikahannya di usia muda bukan hasil manipulasi atau paksaan.

Tidak ada brainwashing. Tidak ada love bombing. Tidak ada ketergantungan yang dibangun secara sistematis.

Ia menikah karena pilihan. Bertahan karena usaha. Dan berpisah karena keputusan bersama.

Kini Dahlia berdiri di fase baru. Lebih tenang. Lebih jujur pada dirinya sendiri. Tidak tergesa mencari pengganti, tapi juga tidak mengunci hati rapat-rapat.

Karena setelah rumah tangga runtuh, yang paling dicari bukan lagi gemerlap—melainkan rasa aman untuk pulang, nyaman untuk tinggal, dan damai untuk bertumbuh.