Makassar, katasulsel.com — Jika emas bisa bicara, ia akan menunjuk empat daerah ini. Wajo. Sidenreng Rappang. Soppeng. Barru. Sepanjang 2025, keempatnya menonjol dalam satu hal: cara menyimpan nilai.

Data Badan Pusat Statistik Sulawesi Selatan mencatat, Wajo berada di posisi teratas. Sebanyak 53,23 persen rumah tangga menyimpan emas atau perhiasan minimal 10 gram. Di bawahnya, Sidrap menyusul sangat dekat dengan 49,95 persen. Soppeng di angka 45,23 persen. Barru 36,71 persen.

Empat daerah ini membentuk satu klaster. Bukan klaster industri. Tapi klaster kehati-hatian ekonomi.

Wajo sudah lama dikenal sebagai daerah pedagang dan perantau. Tradisi menyimpan emas menjadi bagian dari strategi keluarga. Emas tidak sekadar hiasan. Ia cadangan. Ia jaminan. Ia simbol kemandirian ekonomi rumah tangga.

Sidrap punya cerita lain. Lumbung pangan. Sawah luas. Ketika panen berhasil, sebagian nilai disimpan. Tidak selalu dalam bentuk uang. Emas menjadi pilihan. Stabil. Mudah dicairkan. Aman diwariskan.

Soppeng berada di jalur tengah. Daerah agraris sekaligus jasa. Kepemilikan emas di atas 45 persen menunjukkan satu hal: rumah tangga masih memegang prinsip lama. Menyimpan sebagian hasil dalam bentuk yang tidak cepat menyusut nilainya.

Barru mungkin tidak setinggi tiga daerah lainnya, tapi tetap di atas rata-rata provinsi. Dengan 36,71 persen, Barru menunjukkan pola yang serupa. Kehati-hatian. Tidak berlebihan. Tapi konsisten.

Di luar empat daerah ini, grafik mulai turun. Kota-kota besar bergerak dengan logika berbeda. Makassar, misalnya, hanya sekitar 25 persen. Uang berputar cepat. Instrumen investasi lebih beragam. Emas bukan lagi satu-satunya jawaban.

Rata-rata kepemilikan emas di Sulawesi Selatan berada di angka 27,54 persen. Artinya, Wajo, Sidrap, Soppeng, dan Barru berada jauh di atas rerata. Ini bukan soal siapa paling kaya. Ini soal siapa paling siap menghadapi ketidakpastian.

Dalam literatur ekonomi rumah tangga, emas disebut store of value. Pelindung nilai. Instrumen tradisional yang bertahan lintas generasi. Data BPS ini, yang dirilis dalam Statistik Kesejahteraan Rakyat Sulawesi Selatan 2025, memperlihatkan bagaimana teori itu hidup dalam praktik.

Empat daerah ini mungkin berbeda latar. Tapi mereka punya satu kesamaan: tidak semua nilai harus dikejar. Sebagian cukup disimpan.

Dan di Sulsel, cara itu masih berkilau.