📣 Ikuti saluran resmi WhatsApp kami sebelum membaca berita!
Join WhatsAppSidrap, katasulsel.com — Sekolah memang tempat belajar. Tapi bagi alumni, ia lebih dari itu. Ia adalah titik mula. Tempat kenangan disimpan. Tempat identitas dibentuk. Maka ketika alumni kembali, suasananya selalu berbeda.
Akhir Januari ini, tepatnya 31 Januari 2026, Aula SMKN 1 Sidrap akan kembali ramai. Bukan oleh siswa. Tapi oleh alumni. Mereka datang untuk satu agenda penting: Musyawarah Besar (Mubes) ke-2 Ikatan Alumni SMEA/SMKN 1 Sidrap. Agenda tiga tahunan. Dikemas dengan konsep yang menarik: Pemilu Raya Alumni.
Bukan sekadar memilih ketua. Tapi merawat tradisi demokrasi di rumah sendiri.
Menjelang Mubes, konsolidasi alumni semakin terasa. Dua nama telah resmi ditetapkan sebagai kandidat Ketua IKA SMEA/SMKN 1 Sidrap. Keduanya lahir dari almamater yang sama, tapi menempuh jalan pengabdian yang berbeda.
Anwar Halim, angkatan 1989. Pernah memimpin Bulog Sidrap. Lama berkutat di urusan pangan dan tata kelola. Satu lagi, Dr. Agus Syam, S.Pd., angkatan 1995. Akademisi. Dosen kewirausahaan di Universitas Negeri Makassar. Dunia kampus dan dunia lapangan bertemu di sini.
Ketua Panitia Mubes, Sudarmin, memastikan seluruh tahapan telah disiapkan. Mulai dari pendaftaran calon hingga mekanisme pemilihan. Hak suara diberikan kepada alumni SMEA/SMKN 1 Sidrap, dengan satu syarat sederhana: bukti ijazah. Tidak rumit. Tidak berbelit. Semua kembali pada prinsip kebersamaan.
Di luar ruang panitia, obrolan alumni sudah mengalir di banyak tempat. Salah satunya di sebuah warung kopi di Sidrap. Di sana, Kamaruddin Dama, alumni angkatan 1988, berbagi cerita. Tentang kebanggaan menjadi bagian dari SMEA. Tentang rasa memiliki yang tidak pernah hilang.
“Menjadi alumni itu bukan hanya soal masa lalu. Tapi soal tanggung jawab ke depan,” katanya.
Baginya, IKA bukan sekadar organisasi. Ia wadah. Tempat alumni saling menguatkan. Tempat memberi kontribusi nyata bagi sekolah, sesama alumni, dan siswa yang hari ini masih duduk di bangku kelas. Generasi yang kelak akan menyebut dirinya alumni juga.
Mubes ke-2 ini, kata Kamaruddin, bukan hanya soal memilih nahkoda. Tapi soal menghidupkan kembali semangat kolektif. Mengingatkan bahwa almamater tidak membesar sendiri. Ia dibesarkan oleh orang-orang yang pernah belajar di dalamnya.
Maka undangan itu pun terbuka. Datang. Berkumpul. Memilih. Dan pulang dengan satu rasa yang sama: bahwa SMKN 1 Sidrap bukan sekadar sekolah. Ia rumah bersama.
Dan rumah, selalu layak diperjuangkan. (Isk)






Tinggalkan Balasan